Indonesia patut berbangga dengan dipilih menjadi tuan rumah dalam acara UN Climate Change Conference 2007 di Bali saat ini. Jika mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi di acara tersebut, dalam hari pertama pelaksanaannya pun telah terjadi beberapa hal menarik seperti salah satunya adalah dengan ditandatanganinya protokol Kyoto oleh Autralia. Kabinet baru Australia yang baru berjalan beberapa hari benar-benar membuat terobosan baru, terlepas dari apakah isu ini sengaja diusung oleh kabinet saat ini untuk memenangkan pemilu. Amerika Serikat masih tetap dengan pendiriannya untuk ‘belum mau’ meratifikasi protokol kyoto, akan tetapi berkomitmen untuk membantu penelitian untuk mengembangkan teknologi sumber energi ramah lingkungan.
Arsip Kategori ‘Opini’
Pilih mana? ‘Climate Change’ atau ‘Global Warming’?
Jalan Baru, Jalan Pembebasan
Merah Putih Hijau Indonesiaku Indonesia Tegak Berdaulat dan Berdikari (Merah) – Lapangkan Hati dan Persudaraan Bangun Persatuan Rakyat (Putih) – Tanah, Air, Bumi Untuk Kesejahteraan dan Keberlanjutan Rumah Indonesia (Hijau)
Kami berdiri di sini di detak jantung kesadaran baru yang tumbuh dari pelajaran perjuangan hidup rakyat yang bersimbah cucuran keringat, airmata dan darah untuk menentang dan menolak tunduk terhadap dominasi negara, pasar atau korporasi maupun persekutuan keduanya yang melahirkan penindasan dan penghisapan. (more…)
Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang
Sengatan matahari yang panasnya terasa mendidihkan darah, sedikit pun tidak mengusik ketenangannya dalam menapaki langkahnya yang menggemeretakkan guguran dedaunan kering-kerontang di lantai hutan yang sedang dilintasinya, sekaligus meretakkan kulit kakinya yang telanjang tanpa alas. Titik-titik merah dari dubang kapur sirih yang dia ludahkan menandai jalur perjalanannya semenjak berangkat dari Girah. (more…)
Ironi Pemanasan Global: Kambing (Hitam) dan (m)Bebek di Pesta Pora Para Serigala?
Vandhana Shiva, cendekiawan terkemuka India dan seorang aktivis sosial tingkat dunia menyatakan, “dengan menolak menandatangani Protokol Kyoto, Presiden Bush telah melakukan tindak terorisme ekologis pada sejumlah besar komunitas yang barangkali akan lenyap dari muka bumi karena pemanasan global. Sedangkan di Seattle, WTO dijuluki World Terorist Organisations (Organisasi Teroris Dunia) oleh para demostran, sebab kebijakan yang menyangkal hak kelangsungan hidup jutaan orang”.. (more…)
Fakta Sedih Air
Diskusi berkepanjangan dengan orang-orang basah, seperti sepupu saya dan adik saya, ternyata membawa pada banyak kesimpulan tentang air. Air di Jakarta tidak dikelola dengan benar, begitu pernyataan Edwin, adik saya yang sedang melanjutkan studinya di TU Delft. Adik saya, berdasar pengalaman tinggal di Sambas untuk salah satu proyek, mengatakan bahwa masyarakat tradisional di sana sendiri mengerti teknologi dasar pengolahan air, mulai dari resapan sampai penampungan air. Sedangkan Jakarta (more…)
Membangun Kota Solo sebagai Kota Budaya yang Manusiawi dan Memanusiakan Manusia
Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta yang sangat ramah terhadap kegiatan usaha sangat membuka peluang ekonomi baru bagi warganya sendiri maupun bagi investor. Hal itu membuat Solo menjadi kota yang sangat terbuka terhadap dunia usaha, khususnya dalam perdagangan mulai yang berskala besar berupa mal dan pasar swalayan yang mendatangkan investor ke kota ini, sampai berskala kecil yang bersifat informal seperti pasar tradisional yang direhabilitasi dan pemindahan pasar klithikan ke wilayah Semanggi. Sesuai dengan semangat reformasi, tentu hal ini merupakan keputusan dan tindakan yang terpuji, karena memanusiakan para pengusaha dan pedagang informal supaya lebih bermartabat dengan menatanya dan menempatkannya secara khusus dan layak. (more…)
Intervensi AS COP 13 Bali Semakin Kuat
Masih teringat ketika AS menolak menandatangani protocol Kyoto 1997 di Jepang bersama Australia karena ketakutan perekonomiannya hancur apabila penggunaan bahan bakar fosil dikurangi. Yang uniknya, dalam forum pertemuan APEC (Asia-Pasific Economic Corporation) di Sidney sudah berlalu. Kini, Negara AS, Inggris dan Australia secara massif menyalahkan bahwa perubahan iklim akibat dari pegundulan hutan yang menyebabkan pemanasan global. Milyaran dollar pun siap untuk dikeluarkan untuk pertemuan dan penelitian termasuk pertemuan COP 13 di Bali. Ada apa dengan AS ribut-ribut soal dibalik pemanasan global? (more…)
Kembali kepada Kearifan Lokal yang Memerdekakan
Kita, terutama generasi muda, jarang ingat dan diingatkan, bahwa Indonesia lahir dari kesepakatan suku-suku bangsa yang ada di Nusantara ini, yang diwakili oleh para pemimpin, tokoh adat dan agama, para cendikiawan serta tokoh pemuda. Dalam segala keterbatasan akses dan sarana, serta kekurangan dukungan dan dana di masa itu, namun dengan segenap kekuatan tekad dan kebijaksanaan yang dibawa dari kearifan budaya lokal masing-masing, mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. (more…)
The Right For Food Against Global Warming Evil
Berbicara tentang manusia dan hajat hidupnya, tidak dapat dipungkiri masalah pangan pun akan dibicarakan. Saat ini, sekitar 1,3 miliar penduduk bumi bekerja di bidang pertanian dan lebih dari 2,5 miliar jiwa bergantung pada sektor ini. Di negara berkembang dan negara miskin, pertanian menjadi tumpuan hidup dan penyedia pangan. Di mana lebih dari 50 persen penduduk negara berkembang bekerja di sektor pertanian, bahkan 80 persen penduduk negara miskin bergantung pada sektor ini. (more…)
Krisis Kepemimpinan Lingkungan Hidup
Nobel perdamaian baru saja diumumkan. Tahun ini yang memperoleh adalah Al Gore, mantan wakil Presiden Amerika Serikat yang sangat intens mengkampanyekan bahaya perubahan iklim, bersama dengan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah organisasi yang melakukan kajian dan perluasan pengetahuan perubahan iklim. Bagi sebagian kalangan ini dipandang sebagai telah dijadikannya isu lingkungan hidup, khususnya perubahan iklim dan pemanasan global sebagai sebuah isu penting di dunia, terutama bagi perdamaian dunia.







