Pengaruh media sangat besar dampaknya untuk melihat sisi obyektivitas masyarakat. Dalam obyektivitas Lippmann melukiskan dalam karyanya, Public Opinion, terbitan 1992 tentang lingkungan semu (pseudo-environment). Lippmann mengatakan, dunia obyektif yang dihadapi manusia berada di luar jangkuannya, di luar penglihatannya, di luar pemikirannya. (more…)
Arsip Kategori ‘Opini’
Pembangunan pro-Korporat
Bisakah terjadi keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan lingkungan hidup? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok industrialisasi, paling tidak di wilayah Indonesia. Aktivitas industrialisasi sebagai aktivitas manusia untuk keberlangsungan hidup kadang-kadang (pada praktiknya) membutuhkan pengorbanan berupa kerusakan lingkungan hidup yang parah. Tak jarang kerusakan lingkungan menyusahkan masyarakat sekitar. Itulah sebabnya diperlukan aturan-aturan yang mampu melindungi lingkungan dari kerusakan. Itu pun belum cukup. (more…)
Seruan Balok Es Wilkins
Pemanasan global bukanlah isu para elite politik lintas negara saja, melainkan seluruh warga yang hidup di muka bumi ini. Berbagai bukti sedikit banyak telah menyadarkan sebagian besar warga negara-negara di dunia. Hingga mereka—kecuali Amerika Serikat (AS)—menyepakati hasil konferensi mengenai perubahan iklim (Protokol Kyoto). Kesepakatan adalah satu langkah maju, sedangkan implementasi sebagai buah kesepakatan adalah bukti konsistensi kesepakatan tersebut. (more…)
Batalkan PP 2/2008 — Mohon DUKUNGAN
Tanggal 4 Februari 2008 lalu Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 2 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan. Secara ringkas PP itu mengizinkan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang, dan infrastruktur telekomunikasi dan jalan tol dengan tarif sewa seharga Rp 120 untuk hutan produksi dan Rp 300 per meter persegi per tahun. (more…)
Kapitalis AS atau Kekayaan Alam Indonesia
“Bagaimana kalau kita berada ditengah-tengah hutan tropis Sumatra, Kalimantan atau Irian Jaya yang terkenal lebat itu. Bagaimana kayu-kayu raksasa menyodok ke angkasa, cuaca sekitar selalu gelap gulita karena matahari tak sanggup menerobos dinding-dinding rimbanya alam; bagaiman suara-suara hewan melengking dan bersahutan mempengaruhi jiwa manusia”. (Tan Malaka – Pandangan Hidup) (more…)
Etika dalam Penanggulangan Lumpur Porong
“Apik”
Kata itu keluar dari mulut seorang kawan seusai membaca berita penolakan Franz Magnis-Suseno untuk menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2007 dari keluarga besar Aburizal Bakrie dan Freedom Institute. Magnis melihat korban luapan lumpur di Porong, Sidoarjo sampai saat ini masih diperlakukan secara tidak manusiawi dan belum tampak niat serius dari pihak Lapindo Brantas Inc untuk mengantisipasi dampak luapan lumpur tersebut (Kompas, 14/8).
(more…)
Pecinta Alam Indonesia Abad 21
Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri. (more…)
Peran Penting Perempuan Dalam Menyelamatkan Lingkungan Hidup
Aku mulai mencemaskan satu hal: banyak darah yang saat ini sudah menggenangi bumi. Bahan-bahan kimia dan nuklir, juga perperangan yang menyebabkan kemiskinan dan kelaparan cukup hebat. Siapakah yang akan bertanggungjawab atas luka ini? Bumi saat ini tengah terluka parah. Jika tidak ada yang mau bertanggungjawab, aku mulai mengawalinya, karena aku percaya, cepat atau lambat orang lain juga akan melakukannya, untuk jeritan alam dan tanah yang kami pijak. (more…)
Bencana, Buah Kerakusan Manusia?
Mencermati bencana alam yang terus mengancam kehidupan umat manusia di muka bumi, khususnya di Indonesia sebagian dari kita menyimpulkan bahwa bencana disebabkan ulah manusia sendiri. (more…)
Diare dan Sanitasi, Lebih dari Sekadar Membangun Septic Tank
Di Indonesia, 50 dari 1.000 bayi meninggal sebelum menginjak usia lima tahun. Berbagai macam penyakit muncul sebagai penyebab. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) menduduki peringkat pertama. Sementara di posisi kedua adalah diare. Dari data tahunan, tingkat kematian balita akibat diare mencapai 100.000 jiwa per-tahun. Per hari? 273 balita! Per jam? 11 nyawa balita! Di dunia, diare adalah pembunuh balita tertinggi.
(more…)







