•  1 March 2010 Hutan Jawa Terancam: ProFauna Serukan Gerakan Penyelamatan Hutan   ::  
  •  14 February 2010 ProFauna Menyerukan Langkah Praktis dan Politis Untuk Menyelamatkan Hutan di Jawa   ::  
  •  4 February 2010 Pembunuh Harimau di Kebun Binatang Jambi di Vonis 3 Tahun 10 bulan Penjara   ::  
  •  9 January 2010 Catatan Tahunan 2009 ProFauna Indonesia: Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar Indonesia Masih Tinggi   ::  
  •  23 December 2009 Aktifis Lingkungan atau Pengusaha Perusak Hutan?   ::  
  • Aktifis Lingkungan atau Pengusaha Perusak Hutan?    Print This Post   Email This Post

    December 23rd, 2009 | Oleh Lutfi Pratomo

    Oleh Lutfi Pratomo

    Malang | Kata siapa menjadi aktifis lingkungan tidak sama menjadi aktifis politik yang selalu berkelit. Namun, tetap saja yang namanya aktifis senangnya berkelit meski aktifis lingkungan atau aktifis lainnya. Banyak organisasi lingkungan dengan sloganisasi non profit atau non politik atau juga non sense.

    Non profit dijadikan alat perjuangan melawan pengusaha perusak hutan atau menggaet bantuan-bantuan asing atau pengusaha agar terlihat kasihan si obyek dan pekerjanya meski dibayar seperti upah kuli. Bahkan membangun volunter untuk membantu kinerja roda organisasi penyelamat itu.

    Semestinya sloganisasi non profit itu dibuang jauh-jauh. Belajar dari pengusaha, belajarlah dari si mafia. Kapital adalah modal dan itu dengan menjual produk untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Ketika untung baru bisa bicara untuk menyumbang atau menyelamatkan.

    Namun, sayang negara ini mencetak budaya aktifis pengemis yang selalu meminta pada bantuan asing dengan menjual data kerusakan atau spesies penelitian tertentu. Atau juga sumbangan-sumbangan dengan tangan meminta.

    Dan lebih uniknya dengan mencari projec-projec dengan mengajukan proposal-proposal meskui dengan mendapatkan keuntungan yang tidak sebanding itu juga masih sering terdengar ribut sesama aktifis NGO. Dan itu wajar, hutan kita tetap rusak, satwa liar kita akan punah dan tanah-tanah adat masyarakat hilang. Hal inilah yang saya alami menjadi aktifis, namun ini sebuah renungan bagi para aktifis lainnya.

    Kita gak usah munafik kita adalah negara mulai pemimpin dan aktifisnya menjual kekayaan negara secara diam-diam untuk kita bekerja. Dan kita juga jangan selalu mencap pemerintah atau pengusaha selalu salah. Dan, terkadang NGO pun tidak tahu data itu dijual kemana dan kepentingan untuk apa. Yang namanya bantuan adalah punya hukum sendiri dan otorita sendiri.

    Semestinya adalah bersatunya para aktifis dan pemerintah untuk menendang para pengusaha yang merusak hutan. Meski susah dilakukan namun itu merupakan hukum alam dalam perang ataupun pergerakan untuk menghancurkan lawan. Kalau berjuang atas organisasi A atau juga B dengan keperntingan sendiri-sendiri. Siap-siap saja hutan dan satwa liar bakal menuju kehancuran. Sebenarnya yang perlu disadarkan adalah aktifis dan pengusahanya, bahkan pemimpinnya bukan masyarakatnya.

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 540 members
      • 306 guests
      • Last Update On
        9 March, 2010
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It