•  23 June 2010 A Rebuttal for Komodo   ::  
  •  1 March 2010 Hutan Jawa Terancam: ProFauna Serukan Gerakan Penyelamatan Hutan   ::  
  •  14 February 2010 ProFauna Menyerukan Langkah Praktis dan Politis Untuk Menyelamatkan Hutan di Jawa   ::  
  •  4 February 2010 Pembunuh Harimau di Kebun Binatang Jambi di Vonis 3 Tahun 10 bulan Penjara   ::  
  •  9 January 2010 Catatan Tahunan 2009 ProFauna Indonesia: Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar Indonesia Masih Tinggi   ::  
  • Oxfam: Dampak Krisis Iklim Perlu Respon dan Pembaruan Sistem Kemanusiaan    Print This Post   Email This Post

    April 23rd, 2009 | Oleh Redaksi

    Angka orang yang terkena dampak dari krisis iklim akan meningkat sebesar 54% pada tahun 2015. Hal tersebut membutuhkan banyak respon darurat. Perubahan mendesak diperlukan untuk memperbarui sistem kemanusiaan. ”Dalam waktu 6 tahun, angka orang yang akan terkena dampak dari krisis iklim, diprediksi akan meningkat mencapai 375 juta manusia dan mengancam sistem bantuan kemanusiaan,” ungkap Jeremy Hobbs, Direktur Eksekutif Oxfam Internasional.

    Prediksi kenaikan angka tersebut merupakan kombinasi dari banyaknya kemiskinan dan juga orang yang migrasi ke daerah perkumuhan yang cenderung rawan dengan bencana iklim. Semua ini dirangkum dengan kesalahan politik yang tidak bisa mengatasi permasalahan dan juga sistem bantuan yang tidak sesuai. Dalam laporan ini, The Right to Survive, Oxfam mengatakan bahwa dunia perlu membangun kembali cara untuk merespon, mempersiapkan, dan juga mencegah terjadinya bencana.

    Dalam siaran persnya, Oxfam mengungkapkan bahwa lembaga ini menggunakan 6.500 data terbaik yang berhubungan dengan bencana iklim sejak tahun 1980 sehingga terprediksi angka orang yang terkena imbas bencana iklim akan bertambah dari 133 juta hingga 375 juta orang setahunnya sejak tahun 2015. Angka tersebut tidak termasuk dengan angka orang yang terkena dampak bencana lain seperti, peperangan, gempa bumi dan letusan gunung berapi.

    Dunia perlu menambah dana bantuan kemanusiaan dari total dana di tahun 2006 sebesar $14.2 triliun hingga mencapai setidaknya angka $25 triliiun setahunnya untuk mengatasi kenaikan angka orang yang terkena bencana tersebut. Walaupun dana bantuan bertambah, dengan rata-rata per kepala mendapatkan bantuan $50 US Dollar, bantuan tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    “Sistem bantuan kemanusiaan bekerja seolah-olah merupakan permainan kartu, pembagian bantuan dilakukan secara acak, tidak sesuai dengan kebutuhan orang yang terkena bencana. Respon sering berubah-ubah dan kecil, juga terlambat dan tidak seperti yang di harapkan. Dunia tidak dapat mengatasi bencana yang terjadi saat ini. Kenaikan angka orang yang terkena dampak akan berlimpah kecuali ada perubahan fundamental yang menempatkan orang yang membutuhkan bantuan menjadi pusat perhatian dunia” ungkap Hobbs.

    Oxfam mengatakan bahwa sistem bantuan kemanusiaan internasional harus bergerak cepat dan seimbang setelah terjadinya bencana, pemberian uang dan upaya harus sepadan dengan tingkat kebutuhan. Bantuan sering kali diberikan dengan dasar politik atau motif lainnya membuat ketidakadilan. Di tahun 2004, korban dari tsunami Asia mendapatkan bantuan dengan rata-rata $1.241 per orang, sedangkan di Chad per kepala hanya mendapatkan bantuan sebesar $23.

    Dunia harus merubah cara mereka memberikan bantuan sehingga sesuai dengan kemampuan negara untuk menghadapi dan menahan bencana di kemudian hari. Pemerintah nasional, dengan bantuan dari komunitas internasional, harus mencurahkan perhatian lebih untuk mengurangi resiko terjadinya bencana.

    Dan ketika perubahan iklim mengumpulkan langkah, tren ini akan berlanjut setelah tahun 2015. Negara kaya harus membuat komitmen sekarang juga untuk mengurangi gas rumah kaca dalam rangka membuat pemanasan global sebisa mungkin berada di bawah 2°C, dan menyediakan setidaknya $50 triliun dollar setahunnya untuk membantu negara miskin menyesuaikan dengan dampak perubahan iklim yang tidak dapat dihindari. Sebagai kelompok Negara kaya, mereka harus membuat komitmen ini di Copenhagen pada akhir tahun 2009 ini.

    “Walaupun telah terjadi peningkatan terjadinya bencana yang berhubungan dengan iklim, kemiskinan dan perbedaan politik lah yang akan menjadi bencana yang lebih besar,” jelas Hobbs.

    Saat ini lebih banyak orang yang tinggal di dalam perkampungan kota yang kotor yang merupakan daerah rawan bencana. Lebih dari 50 % penduduk di Mumbai tinggal di daerah kumuh, yang mana daerah tersebut banyak yang dibangun di rawa yang telah direklamasi. Di tahun 2005, banjir besar di Mumbai menyebabkan 900 korban jiwa, sebagian besar terbunuh karena terkena longsor dan gedung-gedung yang runtuh.

    Selain resiko kehilangan banyak jiwa, Indonesia, dimana kebutuhan negara tersebut bergantung kepada sumber alam, nelayan sudah mulai kehilangan pekerjaan mereka dikarenakan seringnya terjadi gelombang tinggi yang disebabkan oleh badai tropis. Di Jember, Indonesia ada sekitar 15.225 nelayan yang menganggur dengan total perahu sebanyak 1.865 (Kompas.com, Senin, 16 Februari 2009). Kerusakan yang terjadi di alam tidak hanya akan menghancurkan sektor industri dan agrikultur Indonesia, namun juga sektor ekonomi dan fondasi finansialnya.

    Kelaparan meningkat, dikarenakan musim kemarau, kepadatan populasi dan peningkatan permintaan untuk produksi daging dan susu timbul di permasalahan ekonomi. Orang akan dipaksa meninggalkan rumah mereka, diperkirakan sekitar 1 milyar orang akan di paksa meninggalkan rumah mereka pada tahun 2050 dikarenakan perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan, dan juga konflik. Dan pada akhirnya banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan mereka dikarenakan krisis ekonomi global.

    Akan tetapi, walaupun termasuk kedalam negara yang miskin, beberapa negara seperti Cuba, Mozambik, dan Banglades telah banyak menginvestasikan perhatian mereka untuk menlindungi rakyatnya dari bencana. Di tahun 1972, Setelah terjadi angin puyuh yang menyebabkan 250.000 jiwa manusia hilang, Banglades banyak berinvestasi untuk tindakan pencegahan dan perlindungan. Kematian yang disebabkan dari angin puyuh tersebut walau masih berada dalam angka yang kecil namun tetap membinasakan. Pengalaman dari Cuba, Mozambik, dan Banglades memperlihatkan dengan bantuan yang cukup, bahkan negara yang miskin saja dapat melindungi penduduknya.

    Oxfam juga mencatat, walau total angka konflik telah berkurang beberapa tahun ini, beberapa konflik masih terus terjadi. “Seluruh generasi manusia pernah berada dalam pengasingan sebanyak tiga sampai lima kali, dan hanya mengetahui kekerasan senjata dan pengasingan,” ungkap Hobbs. Menurut perkiraan United Nation, lebih dari 18 juta orang tidak bisa mendapatkan bantuan kemanusiaan dikarenakan konflik di tahun 2007.

    Oxfam sedang merubah cara merespon terjadinya peningkatan bencana yang berhubungan dengan iklim, dengan menolong kelemahan masyarakat miskin terhadap bencana, walaupun tetap merupakan agen utama yang merespon terhadap krisis kemanusiaan.

    “Perubahan iklim telah mengancam pekerjaan kami untuk mengatasi kemiskinan, menambah beban terhadap pekerjaan berat kami dalam membawakan bantuan terhadap jutaan orang. Sangat krusial untuk kita menghadapi perubahan iklim dengan langsung. Kita membutuhkan pemerintah untuk meningkatkan perhatian terhadap isu ini. Dunia harus setuju dengan perjanjian global untuk menghindari efek besar dari perubahan iklim, hentikan pemberian bantuan yang berubah-ubah dan secara radikal memperbaiki bagaimana cara terbaik merespon bencana,” tutup Hobss.

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 555 members
      • 326 guests
      • Last Update On
        23 June, 2010
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It