•  23 June 2010 A Rebuttal for Komodo   ::  
  •  1 March 2010 Hutan Jawa Terancam: ProFauna Serukan Gerakan Penyelamatan Hutan   ::  
  •  14 February 2010 ProFauna Menyerukan Langkah Praktis dan Politis Untuk Menyelamatkan Hutan di Jawa   ::  
  •  4 February 2010 Pembunuh Harimau di Kebun Binatang Jambi di Vonis 3 Tahun 10 bulan Penjara   ::  
  •  9 January 2010 Catatan Tahunan 2009 ProFauna Indonesia: Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar Indonesia Masih Tinggi   ::  
  • Puisi : Putri Bumi    Print This Post   Email This Post

    April 22nd, 2009 | Oleh sarah_serena2002

    Putri Bumi

    jejak jejak langkah kaki sang putri bumi tak lagi terlihat oleh kasat mata
    tatkala tanah yang dulunya terlihat indah tenggelam oleh amukan sang dewa laut
    meluluh lantahkan semua unsur kehidupan dalam permukaan bumi
    yang tinggal hanyalah lautan bagai samdura yang mencekam nurani manusia
    inikah kiamat yang telah dijanjikan oleh tuhan dalam ayat ayat alamnya

    ratapan anak tak berdosa terus menggema hingga membumbung tinggi di angkasa raya
    berharap kan ada pertolongan dari kejaran sang dewa laut yang tengah murka
    namun lambat laut suara itu terdengar mulai melemah kembali
    tatkala bantuan tak kunjung jua tiba menghibur diri
    karena ternyata mereka telah ikut tenggelam bersama amukan sang dewa laut
    yang membuat pikiran semakin tak tenang dan kusut
    sebab tak ada lagi tempat yang dapat digunakan untuk melindungi diri

    yah……
    putri bumi hanya bisa menitikkan air mata
    pasrah menerima kenyataan hidup yang ada
    sambil berusaha menyadarkan diri sendiri
    bahwa apa yang terjadi adalah ulah rakyatnya sendiri
    rakyat yang tak peduli akan akibat alam yang akan terjadi
    rakyat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan sesama
    rakyat yang tega melakukan penebangan hutan dan penggalian batu pasir secara liar
    sehingga membuka peluang datangnya banjir bandang yang melalap bumi sekejap mata

    walau rakyat itu tak mau mengakui kesalahannya sendiri
    walau rakyat itu saling menyalahkan satu sama lain atas apa yang terjadi
    namun jauh dalam lubuk hatinya, mereka menyesal seribu kata
    karena mereka telah menyusahkan hidup mereka sendiri
    sebab dengan rakusnya mereka membabat habis isi perut bumi ini
    hingga tak ada lagi tempat yang dapat digunakan untuk bersembunyi
    tatkala dewa laut datang bertubi-tubi menenggelamkan isi bumi

    kini……..
    siapa yang harus menyesali
    dan apa yang harus disesali
    tatkala nasi telah menjadi bubur
    dimana tak ada lagi tanah yang dulu subur
    karena semua telah menjadi lautan samudra yang menyimpan sejuta misteri

    Jakarta, 21 April 2009
    Sarah Serena SH.MH
    Advokat dan Konsultan Hukum
    Mojokerto
    085885387423

    Ps : Selamat Hari Bumi
    Tanggal 22 April 2009

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 555 members
      • 326 guests
      • Last Update On
        23 June, 2010
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It