International Union for Conservation of Nature and Natural Resources baru-baru ini melansir daftar merah spesies tumbuhan dan binatang liar yang terancam kepunahannya. Setidaknya terdapat 236 species tumbuhan dan 51 species binatang liar yang berada di Kalimantan sedang meningkat trend keterancamannya. Penyebab utamanya adalah pembabatan hutan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit.
Saat ini Indonesia memiliki daftar terpanjang di dunia mengenai species yang terancam, yakni 1170 species. Ini tidak termasuk species yang belum sempat diberi nama namun sudah telanjur punah. Centre for Orangutan Protection (COP) dalam siaran persnya menyerukan agar pemerintah segara menghentikan kebijakan pembabatan hutan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit.
Jika hal tersebut tidak dilakukan, menurut Novi Hardianto, Habitat Program Manager COP, Indonesia bisa benar-benar kehilangan banyak potensi keanekaragaman hayati. “Potensi-potensi tersebut mestinya bisa lebih banyak menguntungkan bangsa Indonesia dalam jangka panjang, ethnobotani misalnya,” jelasnya.
Sebagai contoh, hutan desa Tumbang Koling di Kalimantan Tengah. Hutan dengan keanekaragaman hayati hutan tersebut terbukti dapat menghidupi dan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Hutan desa Tumbang Koling juga merupakan gambaran yang gamblang mengenai bagaimana perusahaan kelapa sawit memang merupakan ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di Kalimantan saat ini. Selama 12 bulan terakhir, COP membantu masyarakat mempertahankan hutannya dari ekspansi perusahaan kelapa sawit PT. Nabatindo Karya Utama.
“Sikap masa bodoh PT. Nabatindo Karya Utama dan buruknya kapasitas moral aparat Pemda Kalteng telah menempatkan hutan desa Tumbang Koling beserta seluruh keanekaragaman hayatinya dalam bahaya,” kata Novi. COP juga melakukan survei yang menemukan bahwa hutan desa Tumbang Koling memiliki setidaknya 34 jenis burung dan 11 jenis mamalia. Dari jumlah itu, sebagian besar masuk dalam daftar merah (red list) IUCN.
Luas hutan desa Tumbang Koling yang tersisa kini diperkirakan hanya 4000 hektar dan dalam kondisi terfragmentasi dengan kawasan hutan lain. Satwa liar yang terjebak di dalamnya menghadapi resiko beratnya persaingan memperebutkan pakan dan resiko lebih mudah diburu. Ini adalah kondisi umum kantong-kantong habitat terakhir satwa liar di Kalimantan. Saat ini, menurut Novi, sudah sangat terlambat untuk menyelamatkan mereka. “Namun jika Pemerintah berani bertindak sekarang, maka Indonesia masih memiliki kesempatan,” tutupnya. [pr!]









