Bapedalda Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalsel Tolak Amdal PT. Mantimin Coal Mining
Badan Pengelola Dampak Lingkungan (Bapedalda) Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan menolak melanjutkan proses penyusunan Amdal PT. Mantimin Coal Mining (MCM). Langkah berani ini, menurut Siti Maemunah, Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), patut didukung mengingat selama perilaku pemerintah selalu mengecewakan publik.
Bapedalda Hulu Sungai Tengah mengkhawatirkan kawasan Pegunungan Meratus terganggu jika tambang diteruskan. Kawasan tersebut adalah hutan tropis yang masih tersisa di Kalimantan Selatan. Tak hanya kaya keragaman hayati, kawasan itu juga “rumah terakhir” dari sedikitnya 115 kelompok masyarakat Adat Dayak Meratus. Kehidupan mereka bergantung pada keselamatan hutan Meratus yang merupakan hulu sungai-sungai utama, pemasok air dan alat transportasi kota-kota menuju hilir Kalimantan Selatan. Terhitung ada 5 sungai yang berhulu dari sana, antara lain Sungai Amandi, Sungai Barabai, Sungai Batang Alai, Sungai Sampanahan dan Sungai Balangan.
Sikap Bapedalda Hulu Sungai Tengah yang menolak rekomendasi KA-ANDAL dan tidak melanjutkan proses Amdal ini berdasarkan keadaan akibat pertambangan di daerah lain. Bapedalda mengkhawatirkan rusaknya Sungai Hintuan, Sungai Tain, Sungai Miulang yang bermuara ke Sungai Batang Alai
Sungai-sungai tersebut adalah pemasok air bendungan dan saluran irigasi utama pertanian di HST dan 80% warga Hulu Sungai Tengah adalah petani. Praktis, bendungan Sungai Alai adalah sarana pendukung produksi pertanian di 6 kecamatan.
Selain itu, bendungan Sungai Batang Alai juga merupakan sumber air utama PDAM Barabai. Setidaknya dibutuhkan 180 ribu liter air per jam, yang memenuhi kebutuhan 10 ribu keluarga di enam kecamatan tersebut. Dan jika tambang diteruskan, kawasan tersebut akan dilanda krisis air. *)





