Sepeda Untuk Sekolah, Kiat Selamatkan Bumi, Peduli Pendidikan Anak Bangsa
Saat ini hampir 25% dari anak usia sekolah tidak bersekolah; sebuah jumlah yang amat besar, setara dengan total penduduk Singapura, Selandia Baru dan Malaysia (Depdiknas 2006). Anak yang tak bersekolah itu umumnya tinggal di daerah perkotaan dan perdesaan, di mana lebih dari 37 juta penduduk Indonesia tinggal di sana (BPS, 2007).
Data Badan pusat Statistik (2006) menyebutkan, setiap lima menit 10 murid drop out dari sekolah. Jika kondisi itu tetap sama hingga tahun 2010, jika siswa bergandengan tangan itu, panjangnya sama dengan jarak New York hingga Huston.
Meskipun sekarang pendidikan dasar dan menengah (SDN dan SMPN) digratiskan, siswa masih tetap memerlukan biaya, salah satunya untuk keperluan transportasi. Di beberapa daerah, semakin banyak anak tak bersekolah karena ketiadaan biaya transportasi, apalagi makin lama biaya transpotasi juga makin mahal karena tingginya harga bahan bakar minyak. Selain itu, isu pemanasan Global sudah menjadi pekerjaan rumah semua negara yang berusaha mengurangi dampak pemanasan tersebut dengan mengupayakan penggunaan energi non BBM, seperti sepeda.
Program ”Sepeda Untuk Sekolah” digagas dalam rangka memenuhi kebutuhan biaya transportasi murah bagi siswa. Program ini sebelumnya pernah sukses dilaksanakan oleh Mapala UI dan Instrans Yogyakarta dengan dibantu beberapa lembaga donatur dan pribadi. Sepeda-sepeda yang dihimpun dari beberapa pihak telah disalurkan ke desa Panggang, Gunung Kidul dan Wates Yogyakarta.
Mengingat pentingnya program ini bagi siswa yang membutuhkan sarana transportasi murah, maka program ”Sepeda Untuk Sekolah” ini dilanjutkan oleh konsorsium yang digagas oleh: (1) The CBE (The Centre for the Betterment of Education), (2) Klub Guru, (3) Bike To Work (B2W), dan (4) Ikatan Alumni UI (Iluni UI)
Program ini dibuat dalam rangka menekan angka anak putus sekolah yang diakibatkan karena mahalnya biaya transportasi sebagai dampak langsung tingginya harga BBM di Indonesia, serta mendorong kebiasaan penggunaan kendaraan bebas emisi gas buang sejak awal di sekolah.
“Kita perlu kembali ke alam, menyelamatkan anak-anak
agar tidak putus sekolah sambil menyelamatkan bumi dari ancaman global
warming,” begitu ditegaskan Mohammad Ihsan yang kebetulan menjabat sebagai Sekretaris Konsorsium Sepeda Untuk Sekolah.
Sebagai tindak lanjut dari gagasan mereka, maka Konsorsium Sepeda Untuk Sekolah (SUS) akan memberikan sekitar 10 ribu sepeda untuk murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh Indonesia tahun ini. Namun untuk tahap awal, sekolah sasaran baru disekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).
“Program ini bertujuan untuk menyelamatkan anak-anak agar tidak putus sekolah karena mahalnya biaya transportasi”, kata dia dalam acara penyerahan sepeda secara simbolis untuk tiga sekolah di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, beberapa waktu lalu.
Ket. Foto:
DEKLARASI SUS. Dari kiri: Eddie Widiono (Timnas Penghematan Energi), Satria Dharma (Klub Guru), Toto Sugito (Bike To Work), Erna Witoelar, Andy Bahtiar (Iluni UI), Ahmad Rizali (CBE, Ketua SUS)
(sumber foto: Dokumentasi SUS)





