Pemanasan global bukanlah isu para elite politik lintas negara saja, melainkan seluruh warga yang hidup di muka bumi ini. Berbagai bukti sedikit banyak telah menyadarkan sebagian besar warga negara-negara di dunia. Hingga mereka—kecuali Amerika Serikat (AS)—menyepakati hasil konferensi mengenai perubahan iklim (Protokol Kyoto). Kesepakatan adalah satu langkah maju, sedangkan implementasi sebagai buah kesepakatan adalah bukti konsistensi kesepakatan tersebut.
Berita terakhir mengenai pemanasan global (Kompas, 27/3) menyebutkan bahwa balok es Antartika longsor. David Vaughn, seorang ilmuan asal Inggris, yang bekerja di British Antarctic Survey, menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan hasil pemanasan global. Tidak tanggung-tanggung, longsoran balok es tersebut berukuran sekitar 415 kilometer persegi. Atau seluas 2/3 wilayah Jakarta yang luasnya 600 kilometer persegi.
Apakah bukti konkrit longsornya balok es di Antartika belum cukup bagi negara adidaya AS untuk memikirkan kembali keputusannya yang enggan menyepakati Protokol Kyoto? Apakah perlu kejadian yang lebih fantastis daripada longsornya induk gunung es (Balok Es Wilkins)?
Demi kepentingannya sendiri—terutama keberlangsungan ekonominya—AS meski didesak oleh seluruh negara di dunia tetap pada pendiriannya alias keras kepala. Sikap demikian hanya dimiliki oleh negara yang kuat. Bandingkan bila hal ini dilakukan oleh negara Indonesia, misalnya, cukup dengan ancaman embargo, Indonesia tak akan berani macam-macam.
Karena Indonesia bukanlah negara sekuat dan se-keraskepala AS. Sedangkan AS, siapa yang berani dengan negara adidaya ini? Hampir tak ada kekuatan yang mampu memaksanya. Lembaga sekelas PBB saja tidak berani menggertak, sebab lembaga yang beranggotakan lebih dari 182 negara ini telah dihegemoni oleh AS.
Hegemoni AS dalam lembaga internasional ini termanifestasi dalam ketidakmampuannya mencegah setiap kebijakan AS yang “membahayakan” negara lain. Invasi AS ke Irak adalah salah satu contoh mutakhir betapa tak ada kekuatan yang mampu menghadang laju “keberingasan” AS.
Sebenarnya apa alasan AS di balik ke-keraskepala-annya? Tak lain alasan utamanya adalah masa depan ekonomi AS yang sudah kadung kuat—bahkan terkuat di dunia. Bayangkan saja, perusahaan raksasa Multi-nasional sebagian besar milik warga AS. Bagaimana jadinya bila pemerintahan Bush memutuskan untuk menyepakati Protokol Kyoto? Bisa jadi, ancaman kebangkrutan bakal melanda AS.
Padahal, AS menyumbang 24 % lebih dari seluruh emisi gas karbondioksida di dunia. Longsornya balok es Wilkins tahun ini tak lain adalah dampak akumulasi efek gas rumah kaca selama berpuluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu, tepatnya sejak negara-negara kaya (seperti AS) secara rakus mengeksploitasi minyak bumi.
Bagaimana jadinya bumi ini bila negara-negara kaya tidak mengerem atau setidaknya memperlambat laju “kerakusan”? Mungkin bukan cuma 415 kilometer persegi balok es yang longsor di Antartika, bisa dua, tiga, empat kali lipat bahkan lebih. Apalagi kini dunia makin datar, di mana hampir semua negara menerapkan sistem ekonomi (neo)liberal. Volume produksi barang—dan minyak bumi—perdagangan meningkat pesat satu dekade terakhir, begitu juga konsumsi (termasuk konsumsi energi fosil).
“PR” besar bagi para aktivis lingkungan dan pemerintahan di seluruh jagat adalah meluluhkan hati pemerintah AS agar mau menyepakati Protokol Kyoto. Dunia akan lebih indah bilamana AS ikut serta dalam menurunkan emisi gas karbon dioksida. Bukan dengan cara memperjualbelikan karbon, sebagaimana keputusan konferensi perubahan iklim 2007 silam. Sebab dengan jual beli karbon itu berarti masih membiarkan para raksasa ekonomi dengan tabiat kerakusannya mengeksploitasi bumi, memperbanyak emisi gas karbon dioksida, meningkatkan suhu bumi melalui efek gas rumah kaca.
Pertanyaannya, bisakah meluluhkan hati pemerintah AS? Nampaknya sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Sejarah mencatat belum ada negara yang mampu meluluhkan hati pemerintah AS, kecuali desakan warganya sendiri dan aktor kunci yang tak lain adalah presidennya sendiri. Mudah-mudahan pemilu dalam waktu dekat ini memilih calon presiden yang peduli pada lingkungan dan masa depan bumi. Apakah Obama, Hillary, atau Mc Cain?
Terakhir, boleh jadi AS berkilah, bahwa longsornya balok es di Antartika adalah kejadian alam biasa. Kita tunggu saja argumentasi versi pemerintah AS yang kontra David Vaughn dari British Antarctic Survey.







