Banjir lagi banjir lagi… Di mana-mana banjir, nggak di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, semua banjir… Airnya datang terlalu banyak atau hujannya biasa tapi manusianya yang bego, nutupin tanah, di-conblock, paving, dikerasin trus akhirnya air nggak bisa meresap ke tanah dan parkir di tempat yang paling rendah dan merendam semuanya? Jawabnya bisa iya bisa tidak. Tapi saya kok cenderung mengiyakan, yang salah si manusianya.
Terus muncul berbagai ide untuk mengatasi banjir. Ada yang usul “Bagaimana kalo dibangun jalur hijau”, “Ajak anak anak untuk menanam pohon, supaya akarnya bisa menahan air dan seterusnya..”, “Pake biopori aja, supaya air bisa masuk dan kumpul di situ”.
Semua usulnya bagus, indah, dan oke. Saya setuju banget dengan ide-ide itu. Bahkan di rumah ibadat tempat saya setiap minggunya ke situ, di khotbahnya sangat menganjurkan untuk melakukan tindakan menyelamatkan lingkungan dengan melakukan macam-macam. Dan umatnya pun menyambut dengan gembira, ada yang langsung melakukannya dengan membuat lubang-lubang kecil di halaman, diisi dengan sampah organik dan sebagainya.
Sampai di sini tidak ada komplain. Tapi, ada tapinya nih, kalau menurut saya, sekali lagi menurut saya lho, boleh setuju tidak pun boleh, itu semua hanya menyentuh kulit luarnya saja, segi teknisnya doang, kesadarannya masih sebatas kalau ada kejadian, reaktif dan menunggu instruksi. Ketika musim hujan berakhir, kembali lagi ke kebiasaan semula, buang sampah sana-sini, conblock lagi, dan seterusnya. Efeknya? Ya banjir lagi, gitu terus sampai bosan.
Trus, gimana dong? Untuk menjawab pertanyaan tersebut memang tidak mudah. Kepedulian terhadap lingkungan salahsatunya adalah mengenai budaya. Persoalan ‘budaya’ ini belum atau kurang mendalam pengupayaannya. Jadi kita masih saja berputar-putar pada siklus yang sama terus selama aspek kebudayaannya belum disentuh, supaya tidak banjir lagi.. Dan banjir lagi…







