•  22 August 2008 ProFauna Kampanyekan Burung Nuri dan Kakatua di Maluku Utara   ::  
  •  19 August 2008 Sekilas Tentang Children Voices on The Indonesian Environment   ::  
  •  8 August 2008 Buletin Anak KEJORA   ::  
  •  6 August 2008 CHILDREN VOICES ON THE INDONESIAN ENVIRONMENT   ::  
  •  1 August 2008 Lowongan Staf Pengembangan Informasi dan Dokumentasi - HuMa   ::  
  • Kapitalis AS atau Kekayaan Alam Indonesia    Print This Post   Email This Post

    March 6th, 2008 | Oleh Lutfi Pratomo

    “Bagaimana kalau kita berada ditengah-tengah hutan tropis Sumatra, Kalimantan atau Irian Jaya yang terkenal lebat itu. Bagaimana kayu-kayu raksasa menyodok ke angkasa, cuaca sekitar selalu gelap gulita karena matahari tak sanggup menerobos dinding-dinding rimbanya alam; bagaiman suara-suara hewan melengking dan bersahutan mempengaruhi jiwa manusia”. (Tan Malaka – Pandangan Hidup)

    Namun kedatangan para imperialis Belanda, Inggris, Amerika hingga sampai saat ini sumber kekayaan alam Indonesia dikeruk habis. Alhasil, bangsa ini menjadi menurut Tan Malaka dari dulu sampai sekarang tetap sejarah manusia budak belian yang dijadikan bulan-bulanan perampok-perampok bangsa asing. Bangsa Indonesia sejati belum punya riwayat sendiri selain tradisi panjang perbudakan yang tak terpatahkan.

    Terbukti hingga saat ini negara kapitalis gencar menawari dengan segala macam cara lewat kerjasama dan bantuan. “Pertama kami siap membantu proses reformasi pertahanan, dan kedua,meningkat kemampuan pertahanan,” kata Gates, Menteri Pertahanan AS dalam pidatonya di acara bertajuk “United States of Amerika-Indonesia and the New Security Architecture of Asia”. Dia beralasan Indonesia berperan penting di kawasan Asia dan Global. (Koran Tempo, 26/02/2008).

    Apakah selama ini bangsa Indonesia begitu mudah diimingi dengan segala macam bantuan dari negara-negara Kapitalis. Bantuan dalam bentuk apapun mempunyai hukumnya sendiri, semakin banyak bantuan mengalir semakin banyak kepentingan pun datang yang selama ini negara seperti AS terpontang-panting dengan krisis energi.

    Pengaruh AS dalam pemerintahan SBY sangat kuat seperti hubungan budak dan majikan. Sementara si budak mempersiapkan majikannya untuk memberikan bantuan apapun yang terpenting bagaimana si budak bahagia sementara secara tidak sadar si budak terus tertindas baik itu ekonomi, lingkungan hidupnya, dan masih banyak lagi.

    Apabila isu yang digencarkan media massa bahwa AS menanamkan investasi ke Indonesia. Berbagai macam budak- budak belian mulai dari pemerintah sampai rakyat Indonesia begitu eoforia bahkan dengan bangganya negara seperti AS begitu sangat peduli dengan bangsa ini. Namun, data dari badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKPM) mulai tahun 2001-2006 inventasi AS tidak menonjol. Sedangkan jumlah investasi AS di Indonesia hanya 208 investasi artinya 2,60 dari sebuah PMA disini atau hanya berkisar senilai 1,1 miliar dolar AS (1,49 %). Angka tersebut di luar investasi sector minyak dan gas bumi, pertambangan batu bara. Padahal investasi yang tidak terdata adalah bidang yang sangat strategis, sedangkan menurut CIA World Fact Book, tahun 2005 ekspor Indonesia ke AS sekitar 9, 62 % dengan komoditas paling penting seperti minyak gas, kayu lapis, tekstil, dan karet.

    Hingga saat ini kabar Natuna D-Alpha belum terdengar apakah blok Natuna dimiliki negara atau perusahaan asing seperti Exxon Mobile dan perusahaan AS lainnya. Lagi-lagi Exxon Mobile pernah mengatakan bahwa Blok Natuna merupakan salah satu gas sumber cadangan gas terbesar didunia dengan potensi 46 triliun kaki kubik atau sekitar 1, 270 miliar kubik gas. Jadi memang tidak salah AS memberikan bantuan pertahanannya dengan menjual pesawat F-16 buatan 1990 meskipun barang bekas namun bisa melindungi dari marabahaya negara – negara kapitalis lainnya. Sebab, Natuna merupakan incaran perusahaan Multi Internasional.

    Dari mulai penjajahan Belanda, Tan Malaka menulis bahwa inti dari kapitalis adalah penguasaan ekonomi dan gerak hukum ekonomi selalu terkait dengan mata rantai perdagangan Internasional. Adapun penanaman modal di Indonesia tentu bukan monopoli pemerintah Belanda semata, namun menjadi perebutan semua kekuatan imperialisme dunia seperti Inggris dan Amerika.

    Dari buku berjudul Handboek voor cultuur en Handelsondernemingen in Nederland India, karangan Angulvant dan bahan dari Inter-Ocean No. 6 1926 Tan Malaka menerangkan

    Kapital Belanda yang ditanam di Indonesia ditaksir sejumlah f 3.270.000.000 diantaranya f 1. 270.000.000 untuk perkebunan, f 900.000.000 untuk sektor minyak dan f 750.000.000 untuk sektor bank dan perdagangan. Di daerah Sumatra Timur sendiri tahun 1924 mereka menanam investasi sebanyak f 439.000.000 dengan rincian prosentase, 55, 3% milik Belanda, dan 44,7% milik bangsa Asing. Kapital asing non Belanda yang ditanam di sektor pertanian cukup fantastis, yakni Perancis dan Belgia mencapai F 300.000.000, Inggris sebanyak f 127.500.000, Jepang sebanyak f 15.700.000 dan Jerman f.4000.000.

    Dari 7 macam hasil produksi bumi yang dikirimkan ke pasar dunia pada tahun 1924, ekspor gula mencapai angka f 491.100.000 atau 32, 1 % dari keseluruhan jumlah ekspor. Minyak tanah mencapai f 158. 300.000, karet f 202.600.000 (13,2%), tembakau f 123.600.000, kopra f 97.400.000, the 93.600.000 dan kopi f 56.000.000 yakni masing-masing 10, 3 %, 8,1%, 6, 4%,6, 1% dan 4,3 % dari jumlah eksport semuanya.

    Sementara pada tahun 1924 ekspor tanah ke Inggris dan jajahannya mencapai 42, 55 % dari semua ekspor dan ke tanah Belanda hanya mencapai 19, 7 %. Dari semua impor di tahun 1924, data-data yang terpapar dalam jurnal Inter-Ocean, No 5, 1924, Belanda mencapai angka 19, 04 % sedangkan Inggris dan tanah jajahannya mencapai 40, 4%.

    Dari data di atas tampak bahwa perdagangan Inggris di Indonesia lebih besar dari semua negara asing selain Belanda. Bisa melihat bahwa sejarah merupakan fakta yang tak bisa diabaikan bahwa di jaman itu negara-negara kapitalis saling menyikut kepentingan seperti Inggris, Amerika, Belanda dan Jepang.

    Namun dewasa ini AS lebih kuat dibandingkan negara kapitalis lainnya dengan investasinya meski tidak menguntungkan bagi Indonesia. Terlihat impor dari AS hanya 4, 16 miliar dolar AS dengan komoditas mesin, bahan kimia, bahan makanan. Sedangkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Ekspor ditahun 2005 ke AS berjumlah 9, 87 miliar dolar AS atau secara total ekspor 11, 5 persen total ekspor sedangkan impor 3, 88 miliar dolar AS atau 6, 7 persen. Apa yang kita berikan kepada AS tidak sebanding dengan apa yang diberikan AS kepada negara kita ini.

    Tercatat ada 205 proyek AS di bidang energi berada di Indonesia. Berarti siap-siap saja bangsa ini terkuras alamnya. Baik itu gas alamnya, emas, batubara, minyak mentahnya. Sementara pemerintah kita lewat media-medianya dengan bangga menerima bantuan AS baik itu dalam bidang pertahanan, namun tidak pernah diberitakan dibalik bantuan itu ada apa?. Semantara bangsa ini terus dilanda krisis apriori dengan pemerintah. Sehingga kebijakan pemerintah diterima begitu saja (taken for granted).

    Kondisi masyarakat sekarang enggan untuk memprotes kebijakan pemerintah. Bagaimana memprotes sementara kekuatan pemerintah saja lemah dimata para kapitalis asing. Dengan relanya negara membiarkan perampok asing memperkosa alam dan satwa liar Indonesia yang eksotik ini. Bangsa ini tidak bisa bakal maju selangkah seperti Cina baik itu dibidang perekonomian sementara pemasukan datangnya menjual hasil menguras kekayaan alam baik itu keanekaragaman hayatinya. Bayangkan saja Kakatua Seram asli Papua saja bisa terjual dengan di pasaran asing seharga 3.000 dolar atau dalam rupiah bisa mencapai Rp. 30.000.000 apalagi sumber minyak buminya.

    Tidak salah bangsa ini mulai penjajahan sampai sekarang tetap miskin dan bodoh, mudah sekali diperpecah belah baik itu lewat isu rasisnya. Terlihat dari sejarah bahwa perjuangan para pendahulu tidak pernah bisa menyatu. Komunis lewat komunisnya, Islam dengan PanIslamnya, Nasionalis dengan Nasioanalisnya, Sosialis dengan Sosialisnya. Bagaimana bisa menyelamatkan alam yang kaya raya sementara kita hingga saat ini tidak bisa menyatu baik dari pemerintah dan para aktifis-aktifis lingkungan hidup. Sementara bangsa ini selalu bangga dengan bantuan asing layaknya bangsa pengemis yang selalu terlihat lemah namun bodoh.

    Tidak salah mulai dari Presiden dan rakyatnya adalah pengemis. Coba saja kita melihat hampir di seluruh perampatan lampu merah Jakarta selalu ada saja pengemis belum lagi di kota-kota besar lainnya. Sementara media massa memberitakan bantuan-bantuan asing baik itu di bidang pertahanan, perekonomian, lingkungan hidup, bencana alam, keagamaan menanda bahwa mulai dari pemerintah sampai rakyat jelata adalah pengemis konsumerime abad 21.

    Lantas, apakah yang kita lakukan sekarang. Tinggal pilih, beranikah kita melepas segala bantuan dari AS yang m’enina-bobo’kan kita atau hutan dan kekayaan alam hancur, bencana-bencana alam seperti pemanasan global, krisis air bersih, banjir, gempa terus menjadi tamu yang seringkali berkunjung dan rakyat jatuh miskin?

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 317 members
      • 158 guests
      • Last Update On
        22 August, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    •  
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It