Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri.
Sebelum kita membahas pecinta alam dan kegiatannya mari kita pahami betul apa epistemologi dari âPencinta Alamâ. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Cinta mempunyai empat makna, yakni, [1] âsuka sekaliâ ; âsayang benarâ ; [2] âkasih sekaliâ ; terpikatâ ; terpikat ; [3] âingin sekaliâ ; berharap sekali ; ârinduâ ; dan [4] âsusah hati ; risauâ (1993 -190). Yang artinya pencinta diberi makna âorang yang suka akanâ (h191). Selain itu kata alam yang diserap dari bahasa Arab, di Indonesia berkembang sehingga mempunyai tujuh makna. Ketujuh makna itu ialah [1] âsegala ada yang dilangit dan dibumiâ ; [2] âlingkungan dan kehidupanâ ; [3] âsegala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan dan dianggap satu lingkungan dan dianggap sebagai satu keutuhanâ [4] âsegala daya yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini [5] âyang bukan buatan manusiaâ ; [6] âduniaâ ; dan [7] âkerajaan ; daerah ; negeri â (h.22). Kalau kedua kata tersebut digabung maka arti dari pencinta alam adalah âorang yang sangat suka akan alamâ.
Namun tidak disaat ini, pencinta alam yang sebenarnya hanya pantas ditunjukan pada masyarakat asli hutan, organisasi non pemerintah yang peduli terhadap lingkungan dan alam, individu yang peduli dengan lingkungan hidup lewat kemampuan yang dia bisa, seperti menanam pohon, membuang sampah tidak sembarangan, tidak memelihara satwa liar yang dilindungi UU, tidak menebang pohon ditaman nasional dan disekitar hutan lainnya, naik sepeda, menulis tentang lingkungan, membuat film tentang hutan dan kelestariannya, dan masih banyak lagi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Makna âorang yang suka akan alamâ berarti manusia yang peduli dengan alam dan menjaga kelestariannya. Dengan menjaga kelesatariannya berarti ia membela nasib hutan dan satwa liar yang sedang mengalami kepunahan bukan berpetualang menantang andrenallin naik gunung, memanjat tebing, atau membuka jalur untuk latihan atau dengan bangga bisa menaklukan alam.
Sejarah memang harus dipelajari tentang pendirian pencinta alam yang motori almarhum Soe Hok Gie, Herman Lantang dan kawan-kawan. Di era 60-an memang terjadi pergolakan masa transisi kemerdekaan. Invansi politik praktis diluar kampus Universitas Indonesia lewat organisasi dan kesatuan aksi mahasiswa dari berbagai atribut dan ideologinya berusaha memasuki Universitas. Namun, Almarhum Soe dan rekan-rekannya tidak peduli dan menjadi kelompok yang tidak memihak dengan kemelut politik saat itu. Mereka lari ke gunung dan pergi ke tempat-tempat sepi terpencil. Kalau penulis menyimpulkan contemplasi ala raja-raja Jawa seperti pendeta-pendeta hinduisme. Mereka paham waktu itu posisi benar-benar terjepit. Kebersamaan dan pengalaman itulah lahir istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Di Tahun 1971 nama Prajnaparamita dilepas diganti dengan Mapala UI. Alhasil bangsa yang euforia ini bermunculan organisasi pencinta alam baik dari kampus dan diluar kampus.
Kegiatan mereka hanya berlarian ke gunung, ke goa, ke tebing hanya untuk menikmati alam. Jaman abad ini sudah berubah namun masih ada saja organisasi pencinta alam baik dari kampus dan masyarakat yang bergiat untuk naik gunung, ke goa, arung jeram, ke tebing atau pendidikan seperti gaya militer, menggampar seenaknya calon peserta dengan alasan biar berdisiplin seperti militer. Padahal pendidikan ala militer dewasa ini dengan kekerasan sudah mulai dikurangi.
Pernah penulis mendengar cerita dari aktivis lingkungan dari negeri yang hutannya sudah hilang bahwa seandainya gunung itu dipenuhi sampah dan hutannya gundul, iklimnya panas, sungai dipenuhi limbah pabrik, tebing karst di bom dan batunya diambil untuk bahan lantai, meja, dan satwa liar yang eksotik punah seperti Harimau Jawa, Jalak Bali. Apakah organisasi pencinta alam baik itu dikampus maupun diluar kampus diam saja melihat itu semua.
Memang hutan Indonesia belum parah meski terlihat parah atau sungai-sungai masih belum tercemar hingga bisnis olah raga arus deras pun menjamur atau gunung masih ada tempat menarik meski jauh paling atas, goa-goa masih banyak yang bagus, tebing-tebing masih menjulang tinggi toh mereka hanya santai-santai saja atau tidak perduli sama sekali lebih mementingkan event-event kejuaraan atau pelatihan-pelatihan yang tidak ada hubungannya dengan makna dari pencinta alam. Sangat tragis benar.
Apa ada yang salah dari Almarhum Soe Hok Gie dan kawan-kawan lamanya hingga penerusnya hanya mementingkan kepuasaan sesaat atau kode etik pencinta alam Se-Indonesia yang syahkan bersama dalam gladian ke-4 yang setiap kegiatan wajib dibacakan setiap kegiatan seperti maksud dari pesannya Pencinta Alam Indonesia adalah sebagai dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa dan Tanah Air. Dengan kesadarannya mereka (Pencinta Alam) menyatakan pada poin 2 yang isinya memelihara alam beserta isinya menjadi ucapan atau janji tanpa makna (Lip Service).
Namun hasilnya pun hutan tetap gundul, satwa liar makin lama makin punah, bencana lingkungan mulai bermunculan, bahkan pemanasan global yang dibicarakan setiap negara dan para aktifis lingkungan dari LSM dengan gencarnya mencari solusi. Sedangkan organisasi yang namanya Pencinta Alam belum menunjukan taringnya untuk peduli terhadap lingkungan. Bahkan hanya bisa dihitung oleh jari organisasi pencinta alam yang peduli terhadap lingkungan. Atau menurut saran respon dari pembaca tulisan Quo Vadis Pecinta Alam yang ditulis penulis mending diganti saja nama pencinta alam dengan nama jenis petualang. Biar tidak terjadi pembiasan makna dari kata Pencinta Alam.
Alhasil, makin sepinya minat pemuda sekarang untuk masuk organisasi pencinta alam. Tradisi lama masih dipakai tidak ada formulasi-formulasi baru untuk merefleksikan kegiatan-kegiatannya. Atau organisasi pencinta alam dewasa ini telah bangga dengan âestablishmentâ (kemapanan). Kebiasaan-kebiasaan lama yang harus ditinggalkan malah terus diulang-ulang saja seperti pendidikan dengan kekerasan atau perbedaan yang antara senior dan yunior, pendendaman akibat dari pendidikan yang keras, menebang pohon untuk simulasi SAR, atau pembukaan jalur. Meski kecil namun tetap saja kita memberikan pendidikan yang tidak baik terhadap masyarakat sekitar gunung atau hutan.
Pernah penulis ditanya saat masuk organisasi mahasiswa pencinta alam waktu masih kuliah dulu oleh senior, apa tujuan anda masuk pencinta alam? Penulis menjawab ingin mengenal alam lebih dekat. Namun, ketika pendidikan tidak dikenalkan dengan alam malah disiksa di bentak meski tidak ada kekerasan fisik, membuka jalur hutan dengan parang seperti kesatria.
Ironisnya, bencana-bencana alam tidak separah di jaman itu. Namun saat ini kita mendengar dan merasakan dampak dari penyakit lingkungan seperti pemanasan global, banjir, longsor, tsunami, belum lagi penyakit-penyakit aneh lainnya. Apa kita sebagai pencinta alam terus merenung naik gunung?Apa kita sebagai pencinta alam masih saja manjat memenuhi kepuasaan jiwa? Apa kita sebagai pencinta alam terus menelusuri goa?Apa kita sebagai pencinta alam terus pergi keriam berarung jeram melintasi sungai?Apa kita sebagai pencinta alam bangga dengan ucapan sebagai penikmat alam? Waktunya kita bergabung dan belajar dari organisasi-organisasi non pemerintah, masyarakat dengan kearifan tradisional sekitar hutan yang peduli terhadap lingkungan untuk melakukan sinergi bersama mencari solusi tentang kerusakan alam. Ini tugas semua pencinta alam Indonesia di abad 21 ini. Waktunya meninggalkan dunia petualang. Take Action Now!
Leave a Reply
33 Responses to “Pecinta Alam Indonesia Abad 21” |
Related Posts |










February 13th, 2008 at 7:50 am
Makanya mulai sekarang hindarilah bahan dari kayu unt membangun rumah. Gunakan baja ringan unt kuda-kuda atap. Besi holo unt flafon dan alumunium untuk kusen. Seperti pada model minimalis yg lagi trend saat ini, dan ternyata harganya sama dgn kayu namun jelas akan lebih awet . Buktikan!
March 12th, 2008 at 10:40 pm
memang seperti itulah Mapala, saya sebenarnya juga agak kecewa karena diorganisaai mapala tempat saya bernaung selamaini, saya tidak menemukan apa yang bisa saya lakukan untuk kelestarian lingkungan.karena saya tidak melihat contoh-contoh tindakan sadar lingkungan dari individu senior saya.
March 25th, 2008 at 3:22 pm
“membuka jalur hutan dengan parang seperti kesatria.”
emang ceh kadang kita membuka jalur ntu untuk jalan kita
tapi Cyl juga Gag Yakin Kalo ada Pendaki yang tetep berjalan di semak semak yang sulit dilalui.
jalur ntu hanya dilalui hewan liar saja
dan Kebanyakan hewan lebih rendah dari semak semak ntu]
Emang Ceh kita ntu terlalu egois
Terlalu PD menyebut kita Pecinta Alam. Padahal kita nTu hanyalah Penikmat alam saja
Cyl juga Nyadar Kuq!!
Tapi Apa ada Orang yang ampe Begitunya kayak yang di jelaskan diatas?
kalopun ada Pasti Cuma Beberapa ja
gag Banyak banyak!
Iah Kan?
Tapi Cyl Ntu termasuk Orang yang Pro dengan Penjelasan Lutfi Pratomo
Dan Cyl juga Merasa Gimana Gitu pas Abiz Baca artikel ini
Cz Cyl juga nyadar Kalo Cyl Bukan Pecinta Alam Sejati
Hehehe
June 10th, 2008 at 1:34 am
tentunya tidak semua MPA seperti itu. saat ini cara2 kuno seperti itu sudah banyak ditinggalkan seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap kelestarian alam dan lingkungan.
June 18th, 2008 at 1:02 am
yap!!!
TRAGISNYA LAGI KPA/MAPALA SEKARANG GAK JAUH BEDA SAMA STPDN/GENG MOTOR.
PADA AKHIRNYA HASIL KADERISASI KPA/MAPALA ADALAH SEKELOMPOK GENGSTER HUTAN. BAWA PARANG, BABAT POHON, BIKIN API BUAT KOPI (PAKE SYAL LAGI)
June 20th, 2008 at 11:31 am
Wahh..suatu tulisan yang mencerahkann..saya dukung…tapi saya ndak setudju kalo anak2 mapala harus meninggalkan dunia petualangan..soalnya (berdasarkan pengalaman pribadi), rasa cinta dan syukur atau banggalah terhadap alam ciptaan tuhan ini timbul pada saat kita melakukan petualangan, sehingga kita rela melakukan apapun untuk menjaganya…kan ada istilah tak kenal maka tak sayang..hehee.
salam lestarii…
June 20th, 2008 at 11:32 am
Wahh..suatu tulisan yang mencerahkann..saya dukung…tapi saya ndak setudju kalo anak2 mapala harus meninggalkan dunia petualangan..soalnya (berdasarkan pengalaman pribadi), rasa cinta dan syukur atau banggalah terhadap alam ciptaan tuhan ini timbul pada saat kita melakukan petualangan, sehingga kita rela melakukan apapun untuk menjaganya…kan ada istilah tak kenal maka tak sayang..hehee.
saya minta artikelnya ya,,
salam lestarii…
June 24th, 2008 at 6:49 pm
salut, anda begitu kritis memandang sosok seorang pecinta alam..Bisa dimengerti “sindiran” dalam tulisan ini muncul akibat kekecewaan anda terhadap sosok pecinta alam masa kini, seperti yang tersurat dalam tulisan anda. sama-sama kita sadari saja, tidak ada pecinta alam sejati di dunia ini,sekalipun dia menyebut dirinya seorang pecinta alam. Tapi jangan pesimis…sekecil apapun tindakannya, lakukan saja. Berbicara lingkungan berbicara juga segala aspek yang terkait di dalamnya..amat kompleks bung!
Yang jelas saya tak’kan berhenti bertualang!
July 1st, 2008 at 3:31 am
“waktunya meninggalkan dunia petualang”, kata-kata ini yang paling keren. tapi tetap aja bumi akan hancur, namun dengan tulisan bang lutfi semoga itu bisa meredamnya. Minimal buat para pencinta alam, yang terus bergerilya dengan alam tahu maksud mereka ke alam. Salut buat penulis,
July 24th, 2008 at 8:09 pm
Yoa….We really disappointed with human although we are human…But Human like the wood stoler must get the maximal maximal and maximal punishment…Hufff..My heart is so hurt if see and hear the forest crying because human must be crazy to make the forest full destroy…Who is get the impact??? Of Course we are… Hufff…Oh God…Please open they eyes if that false it is false and if they right it is right…
August 5th, 2008 at 1:55 am
ya…ya…
begitulah adanya…
seoga dengan tulisan ini memberikan pemikiran baru tentang mapala…
yang jelas pengabdian tehadap lingkungan ga ada habis nya di mata kawan2 mapala saya yakin itu,hanya blm dimulai.
October 2nd, 2008 at 10:57 pm
Salam Lestari Bung Lutfi, Mari sama-sama kita mendoakan kepada seluruh para Pecinta Alam Indonesia semoga agar kembali kepada hakekat pecinta alam bahwa sesungguhnya alam sudah memberikan segalanya untuk penunjang kehidupan manusia dan kewjiban manusia sekarang untuk menjaga dan melestariakannya.TANAM POHON DAN BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA sukses untuk para penyelamat alam.
October 9th, 2008 at 2:53 pm
HEMM Yah Gitulah MAPALA/KPA di Indonesia! …………GAk Bisa di Harapkan dalam pergerakan Upaya pelesatrian Lingkungan! Kalo Gw sih mah ….Ganti Nama aja Jangan Pake Kata Pecinta ALAM Kalu Kegiatan Masih sekedar Outdoor…sekedar arung Jeram, naik Gunung!..Gak Take action for earth
Jack rimbawan291
December 14th, 2008 at 5:10 pm
gw setuju bgt ma pendapat lo.thanks yah mudah2 gw ma kawan kawn gw.lebih sadar untuk mengartikan serta memaknai arti dari pencinta alam.untuk saat ini gw mgkin masih menjadi penikmat alam.atau mgkin salah satu bagian dari persak alaam.thanks
February 12th, 2009 at 10:56 am
Salam….
Beberapa saat yang lalu sebelum saya searching sampai menemukan artikel ini saya ditanya temen, “Kang kalau alat Pecinta Alam bisa dibeli dimana ?”
dan jawaban saya
1. Pacul buat ngegali lubang buat nanem pohon, atau ngegali lubang buat buang sampah, itu di pasar juga banyak
2. Trash Bag buat ngambilin sampah bekas orang yang kemping, di supermarket juga banyak
3. Cutter buat motongin tali yang diiketin orang bekas kemping, itu di toko juga banyak,
4. Plang pengumuman yang … Tulisannya, “Kalau Kemping jangan Sembarangan nebang Pohon”,atau ” Kalau kemping jangan buang sampah sembarangan” nah itu musti buat
Tempat tinggal saya di Jayagiri, dan setiap hari selalu saya lihat berbondong-bondong orang pergi ke kawasan Tangkuban Perahu dan Burangrang melalui jalan masuk Jayagiri, beberapa dianyara mereka dengan pakaian Petualang Bersyal dan bertanda Organisasi yang rata-rata diujungnya bertuliskan …pala, atau PA anu.
Tapi setelah mereka mendirikan tenda, atau Bivak/shelter mulailah perusakan alam itu dimulai.
Terkadang Saya ingin menantang untuk bertanya, berapa banyak pohon yang mereka tanam, apa sudah lebih banyak dari pohon yang mereka tebang sekedar hanya untuk memanaskan air kopi?
February 12th, 2009 at 10:58 am
Salam….
Beberapa saat yang lalu sebelum saya searching sampai menemukan artikel ini saya ditanya temen, “Kang kalau alat Pecinta Alam bisa dibeli dimana ?”
dan jawaban saya
1. Pacul buat ngegali lubang buat nanem pohon, atau ngegali lubang buat buang sampah, itu di pasar juga banyak
2. Trash Bag buat ngambilin sampah bekas orang yang kemping, di supermarket juga banyak
3. Cutter buat motongin tali yang diiketin orang bekas kemping, itu di toko juga banyak,
4. Plang pengumuman yang … Tulisannya, “Kalau Kemping jangan Sembarangan nebang Pohon”,atau ” Kalau kemping jangan buang sampah sembarangan” nah itu musti buat
Tempat tinggal saya di Jayagiri, dan setiap hari selalu saya lihat berbondong-bondong orang pergi ke kawasan Tangkuban Perahu dan Burangrang melalui jalan masuk Jayagiri, beberapa dianyara mereka dengan pakaian Petualang Bersyal dan bertanda Organisasi yang rata-rata diujungnya bertuliskan …pala, atau PA anu.
Tapi setelah mereka mendirikan tenda, atau Bivak/shelter mulailah perusakan alam itu dimulai.
Terkadang Saya ingin menantang untuk bertanya, berapa banyak pohon yang mereka tanam, apa sudah lebih banyak dari pohon yang mereka tebang sekedar hanya untuk memanaskan air kopi?
Salam
Uloh ti Jayagiri
February 12th, 2009 at 11:17 am
Tempat tinggal saya persis di jalan menuju Tangkuban Perahu melalui jalur Jayagiri,.
Setiap hari Sabtu/Minggu selalu terlihat rombongan Tim-Tim “Pecinta Alam” Lengkap dengan Carrier Extra Large, Pisau yang terpasang di pinggang, sepatu lars tinggi, celana pendek lapangan, dan Syal yang rata-rata memuat identitas organisasi ….pala atau PA ….
Tetapi apa yang terjadi, saat shelter mulai didirikan, bukannya reflesi dari kecintaan terhadap Alam yang ditunjukkan, Pengrusakan Alam yang mereka hadirkan,
Pohon Pinus mereka kuliti dengan anggapan getah pinus lebih mudah terbakar,
Pohon Kecil ditebangi dengan anggapan untuk Survival, menghangatkan badan dan membuat kopi
Sampah Mie Instant, kaleng sardin dibuang di sembarang tempat
dan yang mereka lakukan semalaman hanya bermain gitar dan berteriak-teriak,….
Terkadang saya ingin bertanya kepada sang “Pecinta Alam” ini, sudah berapa pohon yang kalian tanam sampai berani untuk menebang satu pohon yang belum tentu kalian yang menanamnya? hanya untuk segelas Kopi ??
March 28th, 2009 at 3:25 pm
salam lestarilah saudara - saudara ku, sebenarnya untuk kita mengkaji lebih jauh tentang isi alam dan makhluk yang ada didalamnya lebih baik coba mengkaji diri kita sendiri sudah mampu kah kita mengaku sebagai pecinta alam, yang bukan hanya sebuah embel - embel semata.
seharusnya klo kita gak mampu untuk memperbaiki ya jangan merusak, klo gak mampu untuk merubah ya jangan semena - mena yang akhirnya berdampak buruk untuk semua padahal pelakunya hanya segelintir orang yang GAK TAU DIRI.
buat temen - temen pecinta alam diseluruh galaksi and sejagad raya tetap SEMANGAT ya.
Lakuin yang terbaik yang kita mampu, mulai hal kecil ja dech.
cHayooooooooooooooooooooooooo. . .
salam lestari.
April 23rd, 2009 at 3:09 pm
Hmmmmmmmmmm……….!!!!!!!!!!!!!
ckup kritis mank bnar sih…….tp bukan berarti petualangan harus berakhir…jiwa2 petualangan tidak akan mati sampai kapanpun…and sekali cinta tetap z cinta,,,,,!!!! tidak sedikit mapala/KPA yang tetap peduli akan alam dan melakukan konservasi untuk menjaga ekosistem alam,tapi tidak mendapat perhatian umum,kebanyakan orang hanya memandang sisi negatifnya tanpa memperhatikan sisi positifnya,,,,tp bagi saya itu semua cukup manusiawi….kita tak bisa lari dari kodrat kita sebagai manusia yang pasti memiliki kekurangan,,,,,,,,,,!!!
jangan hanya saling mengkritisi tanpa ada usaha untuk berbuat yang lebih baik…….!!!!!!!!!!!!
SALAM LESTARI………..
April 23rd, 2009 at 6:31 pm
Hai, Salam Kenal
sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping , pembuatan dan penjualan tenda,
Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
email : tendakubandung@yahoo.com
thx..
June 20th, 2009 at 10:32 am
Salam lestari., bagi gua adaya pecinta alam itu merupakan wujud kepedulian kita terhadap lingkungan.emang s gua sadari sebagian besar mereka menyebut aku adalah pecinta alam tapi nyatanya merka hanya seoarang penggiat alam saja,yang tida tau bagai mana menghargai alam ini, memang itu sangat memalukan. tapi apa boleh buat itu lah kenyatan nya.tapi gua yakin dengan adanya pendidikan kepencita alaman ,merka bisa menjaga dan memelihara lingkungan
ini dengan baik.hidup Rekapala,kami selalu setia mejaga hutan,rimba dan lingkungan
June 25th, 2009 at 6:20 pm
Posting opini yang sangat bagus sekali, dan semoga menjadi bahan pemikiran dalam tindakan kita selaku manusia pecinta alam.
Di sini saya akan menanggapi beberapa poin di atas, diantaranya :
1. Rekruitmen anggota dengan sistem disiplinisasi (militerisme, red) benar sekali dengan tujuan untuk melatih kedisiplinan calon anggota. Disiplin berarti sigap, tanggap dan tangkas dalam mengambil setiap putusan atau tindakan. Coba bayangkan jika manusia tidak disiplin (manja, lola, telat). Bagaimana bisa mendisiplinkan (melestarikan, red) alam jika manusianya sendiri tidak demikan?
2. Pecinta Alam (PA) dengan Pemerhati Lingkungan Hidup (PLH) sangat jauh sekali perbedaannya, PLH merupakan bagian dalam PA itu sendiri. Divisi-divisi yang ada di PA banyak sekali, diantaranya petualangan, observasi dan konservasi.
–> Petualangan, ada hiking, caving, climbing, cycling, diving hingga rafting. Dalam petualangan ada 3 butir kode etik yang harus diterapkan oleh para pelakunya, diantaranya take nothing but picture, leave nothing but footprint and kill nothing but time. Apa tujuan akhirnya? Yaitu pelestarian lingkungan atau konservasi.
–> Observasi, penelitian dan pengamatan yang nanti hasil akhirnya akan ditindak lanjuti dengan konservasi. Kegiatan ini dilakukan karena adanya faktor alam maupun manusia itu sendiri.
–> Konservasi, adalah pengelolaan SDA yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk keseimbangan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keaneka ragamannya. Di sini sudah jelas, Pecinta Alam bukanlah sekedar mencintai alam saja tetapi ikut juga dalam membantu pelestarian alam ini.
3. Aksi Sosialisme / humanisme, semua sudah tentu tahu dan menyadari bahwasanya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia yang lain. Dan bukankah manusia merupakan bagian dari alam ini? Aksi-aksi tersebut diantaranya :
–> Pelatihan SAR, dilaksanakan untuk melatih para rescuer dalam menanggulangi bencana atau kecelakaan.
–> Mitigasi Bencana, yaitu segala upaya dan kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi dan memperkecil akibat-akibat yang ditimbulkan oleh bencana. Mitigasi bencana dilaksanakan untuk mengetahui potensi bencana yang ada dan melakukan upaya antisipasi penanganannya (peredaman risiko bencana).
–> Dropping Logistic, jika di Indonesia dikenal dengan pemberian bantuan bahan makanan atau sembako.
–> Dan lain sebagainya.
Jadi, saya kurang sepakat jika nama Pecinta Alam diganti nama dengan yang lain. Bagian-bagian di atas yang saya sebutkan adalah bagian dari Pecinta Alam, dan tergantung dari anda sendiri ingin mendalami divisi yang mana. Petualangan, Sosialisme atau Konservasi? Jadilah petualang yang konservatif dan sosialisator yang konservatif pula tentunya.
Di sini yang perlu digaris bawahi dan diberi tanda petik bila perlu, yang perlu dirubah bukanlah sistemnya melainkan manusianya. Dan yang menjadi dasar pertanyaan saya sekarang adalah sudahkah anda hari ini membuang sampah pada tempatnya sebelum anda sendiri menjadi sampah dan terbuang?
Salam Rimba…
Dan,
Salam Lestari…
NB :
Pernahkah anda mencari kebenaran / fakta dari sejarah awal pecinta alam berasal dari situ? Saya pernah menemukan sebuah organisasi pecinta alam yang ada di perguruan tinggi di Indonesia ini yang usianya sepantaran dengan usia kemerdekaan RI. Coba anda cari kebenaran sejarah ini, jika anda benar-benar menemukan maka anda akan tercengang dengan semua ini. Ada apa di balik di balik celana ini?
July 3rd, 2009 at 4:11 am
KEPADA :
SESEORANG YANG BANGGA DI PUNCAK SANA
KAMU naik gunung rame2 ketemu pohon besar KAMU ukir nama KAMU dan pacar KAMU isi gambar jantung`na lg!,ketemu batu KAMU bikin absensi nama teman dengan cat semprot yang bele2`in bawa dari rumah!
-APA MAU KAMU MATI ENTAR,JADI PENUNGGU POHON?????????
-KAMU MASIH HIDUP,KENAPA BIKIN BATU NISAN SEBELUM MATI???????
mending kamu ngak usah naik gunung deh,!!!!,, .,, !!
kepengen muntah,karna liat nama KAMU yang jelek dan menjijikan terpang2 dirumah TUHAN ku
ini adalah keluh kesal ku terhadap orang2 yg sok2`an naik gunung.
AKU SANGAT BERHARAP ADA ORANG TERSINGUNG,,,,!!!KARNA AKU INGIN TAU HABITAT CIPTAAN TUHAN YG BAGAIMANA BENTUKNYA YG MELAKUKAN HAL TERSEBUT!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
July 5th, 2009 at 4:10 am
@ Yudi.R :
Itu menurut saya sih tergantung dari individunya, saya juga punya tanggapan pada slogan ini “buanglah sampah pada tempatnya”. Ini hanyalah slogan yeng sepeleh, namun hanya orang bijaklah yang mampu melaksanakannya.
Dan saya punya sedikit pengalaman dari pendakian Gunung Welirang saat hari kemerdekaan tahun lalu, maksud kami berangkat dari base camp (sekretariat) adalah untuk upacara di puncak. Selama perjalanan, kami menjumpai banyak manusia yang mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk upacara di puncak. Awalnya saya kira dari komunitas yang sama (pecinta alam, red) dengan melihat penampilan/gaya mereka yang khas pecinta alam, setelah satu persatu saya tanyakan asal-usulnya ternyata dugaan saya meleset. Separuh dari sekian banyaknya manusia saat itu, khususnya yang tidak patuh terhadap kode etik yang ada berasal dari pramuka, penggiat alam bebas, komunitas/geng motor bahkan dari aparat.
Kesimpulannya ialah jangan salah sangka sebelum anda benar-benar menjumpai secara langsung dan bukan katanya, dan apabila benar-benar menjumpainya jangan langsung menarik kesimpulan bahwasanya semua pecinta alam adalah perusak alam.
Pesan saya :
Wahai saudara-saudaraku pecinta alam dari Sabang sampai Merauke, mari kita terapkan betul-betul kode etik yang kita miliki baik kode etik pecinta alam maupun kode etik kepetualangan itu sendiri. Salam lestari…!!
July 15th, 2009 at 5:05 am
Kode Etik Petualangan :
1. Take nothing but picture (jangan mengambil apapun kecuali gambar).
2. Leave nothing but foot print (jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki/jejak).
3. Kill nothing but time (jangan membunuh apapun kecuali waktu).
Kode Etik Pecinta Alam Indonesia :
- Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam berserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
- Pencinta Alam Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
- Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap Pecinta Alam adalah makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai hakekat di atas, kami dengan penuh kesadaran menyatakan sebagai berikut:
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara alam beserta isinya serta mempergunakan sumber alam sesuai dengan batas kebutuhan.
3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan martabatnya.
5. Berusaha untuk mempererat tali persaudaraan sesama Pecinta Alam, sesuai dengan azas tujuan Pencinta Alam.
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan , Bangsa , dan Tanah Air.
7. Selesai
Disahkan pada Gladian IV Pencinta Alam se Indonesia
di Ujung Pandang Tahun 1974, pukul 01.00 WITA.
Ayo kita terapkan kode etik kita untuk menjaga alam ini agar tetap lestari.
Salam Rimba dan Salam Lestari.
August 4th, 2009 at 12:24 pm
pecinta alam adalah bekan penikmat alam u dapat nalar sendiri artinya kyak anggapan orang2
September 16th, 2009 at 11:21 am
untuk penulis, kawan-kawan dan kita semua : hidup tidak akan pernah lurus dan mulus saja seideal pikiran kita, begitu juga kehidupan pecinta alam dan teman-temannya..jangan hanya menjADI Pengkritik di atas kertAS saja, tetapi sudahkah anda, kita sendiri menjadi pengkritik di atas tindakan dan perbuatan? hanya kamu yang tau jawabannya
September 24th, 2009 at 9:06 pm
ka
artikel nya bagus…..
gw juga baru sadar nih
untuk ngubah pola pikir orang
memang harus banyak artike2 yang mendidik seperti ini ka….
biar hati nurani orang2 pada terbuka gitu
thx to artikenya ka
September 26th, 2009 at 5:00 am
saya sangat setuju dengan bacaan ini..
artikel yg kritis…
saya pun sadar bahwa banyak dari kita yg hanya menikmati indahnya alam..
namu sering kkali baik sadr maupun tidak kita para manusia yg mengaku pencinta alam sering mengotori alam…
sari yg kecil yg sering kita lakukan…
September 29th, 2009 at 1:51 pm
Yup…! Memang sesuatu yang ideal sulit untuk diterapkan. Tetapi visi & misi pecinta alam sudah jelas dan kita memiliki dasar kode etik PA yang baik… Penerapan dari sesuatu yang baik itu dapat bermacam2. bahkan dapat menimbulkan ambigu… atau salah kaprah. Tugas kita (yang tau kebenarannya) untuk meluruskan kembali sesuai dengan visi misi Pecinta Alam.
Banyak kegiatan yang baik yang dapat dilakukan oleh PA seperti bersih gunung, menanam bibit pohon di gunung, dan lebih baik lagi dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sendiri seperti membuat lingkungan sekitar rumah menjadi asri… dll.
Yach… Asal jangan NATO (Not Action Talk Only)
January 20th, 2010 at 5:24 pm
Saudaraku, boleh kami ikut nimbrung. itung-itung kenalan.
Salam lestari.
January 23rd, 2010 at 11:59 am
Untuk teman2 pencinta alam.. jangan cuma bisa naik gunung, tapi gak menjaga alam sekita.karena pencinta alam bukan cuma orang2 yang bisa naik gunung , panjat tebing, blablabla…tapi adalah orang2 yang peduli dengan lingkungan
January 30th, 2010 at 9:57 pm
Saudaraku….jangan kau patahkan sayap2 petualang hingga akhirnya tak ad lagi yang menengok gunung dan rimba raya, biarkan kami terbang bebas untuk memberi ciuman pada puncak gunung,tebing, goa dan derasnya arus sungai. serta jangan kau tutup mulut kami tuk tersenyum pada wajah-wajah lugu orang pedalaman. sebab begitulah cara kami melempiaskan rasa cinta ini pada alam…dan pada kekasih abadi yang meciptakan alam ini untuk kami.
kami lebih paham dan mengerti tentang jeritan dan rintihan sahabat kami disana (gunung dan hutan)dibanding mereka yang mendengar dan melihat kami dari kejauhan, yang belum tentu apa yang mereka dengar dan lihat itu BENAR adalah kami seorang Penggiat Alam yang tak lepas dari Kode Etik Pecinta Alam. sebab penggiat alam bebas atau seorang pecinta Alam Tidak akan mungkin melukai,merusak dan membunuh sahabatnya sendiri yakni alam ini. INGAT ITU !!!!
apa yang anda dengar dan lihat tentu saja pelakunya bukan seorang Pecinta Alam sebab Jelas bahwa pecinta Alam adalah seseorang yang menyukai dan Mencintai Alam. jadi orang yang merusak, melukai bahkan membunuh sebagian dari Alam ini JELAS BUKAN PECINTA ALAM.
dari yang mencintaimu….
Personil AKAR INDONESIA - PALOPO