Peran Penting Perempuan Dalam Menyelamatkan Lingkungan Hidup
Aku mulai mencemaskan satu hal: banyak darah yang saat ini sudah menggenangi bumi. Bahan-bahan kimia dan nuklir, juga perperangan yang menyebabkan kemiskinan dan kelaparan cukup hebat. Siapakah yang akan bertanggungjawab atas luka ini? Bumi saat ini tengah terluka parah. Jika tidak ada yang mau bertanggungjawab, aku mulai mengawalinya, karena aku percaya, cepat atau lambat orang lain juga akan melakukannya, untuk jeritan alam dan tanah yang kami pijak.
Annable Rodde, Prepared, Women & The Enviroment
Mahluk perempuan yang selama ini dilupakan oleh kaum laki-laki dalam peran lingkungan hidup sangat memprihatinkan. Sistim patriarkis selalu mendominasi dalam pergerakan dan kepedulian perempuan terhadap lingkungan hidup. Kebebasan perempuan dibatasi oleh kebijakan-kebijakan patriakis memberikan dampak kerusakan lingkungan hidup yang fital. Ada kekeliruan dalam pendidikan yang selama ini di tanamkan oleh kebudayaan-kebudayaan di dunia.
Otoritas laki-laki sangat kuat memberikan dampak terhadap perempuan lebih tidak percaya diri dalam mengungkapkan pendapatnya karena merasa takut bila diremehkan dan tidak didengarkan gagasan – gagasannya. Perempuan lebih memilih diam karena takut akan represif yang di dominasi kaum laki-laki. Mitos dan dogma memberikan punishment bahwa perempuan adalah mahluk yang lemah dan dididik menjadi makhluk emosi daripada rasio yang selama dikuasai oleh otoritas laki-laki. Sudah saatnya kita merubah paradigma yang sudah melekat bahwa perempuan juga sudah bisa berdaya dan tidak lagi di bawah otoritas laki -laki dalam menyelamatkan lingkungan hidup.
Kerusakan lingkungan hidup dewasa ini disebabkan tidak adanya rasa penghormatan terhadap ciptaan khususnya terhadap kaum perempuan. Peradaban dunia menciptakan kekuasaan laki-laki dalam kehidupan yang sukar sekali menerima kritik. Rasionalitas dan biologis di cenderung dibesar-besarkan menjadi peran yang sangat dominan.
Selain itu, rasionalitas laki-laki membawa pengurangan rasa hormat terhadap bentuk suatu ciptaan. Kebudayaan tersebut seharusnya kita tinggalkan bahwa alam seperti halnya perempuan sebagai sesuatu yang bisa dikontrol dan dikuasai oleh otoritas laki-laki.
Dalam dunia tradisi relegius dan kultural, perempuan sering dipikirkan dekat dengan alam, alam dilihat sebagai feminism, maka dunia alam disimbolkan sebagai perempuan–Ibu. Selain itu alam sebagai perempuan bijak yang mengatur segalanya. Akhirnya presepsi tentang alam mengalami perubahan sejarah. Alam lambat laun sudah tidak lagi dalam pemuliaan dan melampaui budaya manusia. Alam lebih mudah bisa dikontrol dan diekspoitasi tanpa batas seperti halnya otoritas laki-laki yang mendominasi kaum perempuan. Rasionalitas menciptakan hukumnya sendiri terbentuklah teknologi yang menguasai alam. Trasendensi laki-laki didefenisikan sebagai lari dari alam dan perang terhadap realitas keibuan, realitas tubuh dan alam, semua yang membatasi dan menahan lebih dari yang dikontrol laki-laki. Dengan cara inilah, melalui ilmu pengetahuan, pemikiran laki-laki memaksakan trasendensinya atas alam.
Alam tidak lagi menjadi tubuh yang organis namun menjadi mesin yang dibentuk dan dijalankan dengan alasan yang suci. Hal inilah yang menyebabkan kerakusan ada ditangan laki-laki. Apa yang kita alami sebagai mahluk yang seharusnya menghormati ciptaanNya kini dibatasi oleh alasan rasionalitas dan dogma agama yang selama ini kita hanya taken for granted. Diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan laki-laki hanya membentuk suatu budaya kekuasaan rasionalitas tanpa batas memberikan dampak terhadap krisis lingkungan hidup yang terjadi dewasa ini.
Ilmu pengetahuan dan feminisme menurut Ruth Hubbard, Mary Sue Henefin, dan Barbara Fried adalah, “Sebuah kontruksi manusia muncul karena sebuah kondisi sejarah tertentu ketika dominansi laki-laki atas alam masih terlihat sebagai suatu yang baik dan perlu di perjuangkan. Kondisi sekarang sudah berubah, dan kita tahu perjalanan manusia sekarang mungkin akan sekali menghancurkan alam daripada melestarikan atau memperbaikinya. Perempuan sudah sering menyadari, lebih daripada laki-laki, bahwa kita adalah bagian dari alam dan nasibnya ada ditangan-tangan manusia yang sering tidak peduli”.
Hanne Strong mengatakan bahwa kunci untuk memperbaiki bumi terletak pada penghormatan terhadap hukum alam yang dipahami oleh masyarakat asli dan tradisional. Oleh karena itu, masyarakat ini berbicara dengan kumpulan instruksi yang asli yang diberikan kepada mereka oleh Sang Pencipta. Sementara itu, perjuangan perempuan Papua dalam puisi mereka mendekap pohon-pohon yang akan ditebang. Dalam sebagian konflik yang mengikutinya, pernah terjadi perempuan mendekap pohon-pohon yang akan ditebang oleh suami mereka yang bekerja untuk para kontraktor hutan.
Bangsa Indonesia yang dulu punya Kartini sebagai perempuan yang memperjuangkan dunia pendidikan kini ada Butet Saur Marlina (Warung Informasi Konservasi Jambi), Emmy Hafild (Wahana Lingkungan Hidup) dan masih banyak lagi kaum perempuan yang semakin peduli dengan lingkungan hidup.
Di Korea kaum perempuan yang peduli dengan lingkungan hidup biasa disebut Salimist. Kaum ini mempunyai 10 prinsip kehidupan berdasarkan elemen-elemen dasar kebijaksanaan histories dan spiritual dari perempuan Korea. Kesepuluh prinsip itu adalah hutan, air, api, udara, keadilan-cinta kasih, keindahan, sukacita dan perayaan, kekuatan semut dan laba-laba, tujuh generasi, kemurahan hati-Ahimsa. Salimist membuat segalanya menjadi hidup, terutama yang mati seperti bumi. Salimist membuat segalanya menjadi hidup, terutama yang matiseperti bumi dan para Salimist mencintai perempuan, alam, bumi dan Tuhan.
Sekarang kita semakin sadar bahwa kerusakan alam adalah akibat dari kerakusan yang hampir semua didominasi laki-laki yang tidak memperdulikan kebebasan perempuan untuk bicara dan berekpresi terhadap bumi dan mahluk hidup lainnya.
Seperti yang diungkapkan Dale Spender “Ketika kedua jenis kelamin menggambarkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri dan ketika kedua versi itu dapat hidup bersama tanpa terbagi menjadi lebih unggul dan kalah, benar atau salah, aturan atau pelanggar, maka sebagian dari mekanisme penindasan terhadap perempuan telah dibuang”.
Leave a Reply
One Response to “Peran Penting Perempuan Dalam Menyelamatkan Lingkungan Hidup” |
Related Posts |








December 11th, 2008 at 7:47 pm
Banyak manusia lupa akan keseimbangan alam. Manusia jaman sekarang hanya mengabil dari alam tanpa mau memberi atau menjaga alam in.Pantas saja ibu bumi menjadi murka.Selayaknya antara memberi dan mengambil/menerima dari alam seimbang. Kita terlalu takabur sehingga lupa akibat dari ketidak seimbangan alam.
Semoga manusia dibumi in sadar akan semua kekeliruan yang mereka perbuat dan mulai memikirkan dan menjaga alam yang telah dikaruniakan Sang Pencipta