•  22 August 2008 ProFauna Kampanyekan Burung Nuri dan Kakatua di Maluku Utara   ::  
  •  19 August 2008 Sekilas Tentang Children Voices on The Indonesian Environment   ::  
  •  8 August 2008 Buletin Anak KEJORA   ::  
  •  6 August 2008 CHILDREN VOICES ON THE INDONESIAN ENVIRONMENT   ::  
  •  1 August 2008 Lowongan Staf Pengembangan Informasi dan Dokumentasi - HuMa   ::  
  • Bencana, Buah Kerakusan Manusia?    Print This Post   Email This Post

    January 24th, 2008 | Oleh Akhwan Saputra

    Mencermati bencana alam yang terus mengancam kehidupan umat manusia di muka bumi, khususnya di Indonesia sebagian dari kita menyimpulkan bahwa bencana disebabkan ulah manusia sendiri. 

    Hal ini tidak bisa kita sangkal. Kenyataannya memang demikian. Bermacam fakta menunjukkan bahwa aktivitas manusia, entah legal maupun ilegal berpotensi menimbulkan bencana. Dalam skala kecil, Indonesia misalnya, aktivitas illegal logging, pembakaran hutan, masih terus terjadi. Akibatnya Indonesia mengalami “panen” bencana, banjir makin meluas, tanah longsor terjadi di mana-mana.

    Sedangkan aktivitas lain, akibat kebijakan pemerintah, konsumsi energi makin meningkat. Bagaimana sebuah kebijakan bisa memicu meningkatnya konsumsi energi? Kebijakan yang terkait industri otomotif, memicu produksi besar-besaran dan pemilikan kendaraan pribadi juga besar-besaran. Pada saat yang sama tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas transportasi publik. Tumbuhnya mall dimana-mana, turut menyumbang konsumsi energi yang amat besar. Memang ini kondisi dilematis, sebab pada saat yang sama indikator ekonomi dianggap membaik.
    Dalam skala global misalnya, aktivitas industri terlampau banyak mengkonsumsi energi fosil seperti minyak bumi. Aktivitas ini menimbulkan apa yang disebut dengan efek rumah kaca, yang kemudian kita kenal dengan pemanasan global.

    Kausalitas atau sebab akibat dari aktivitas ini sesungguhnya telah diketahui kaum elite, baik itu ilmuan, politisi, pebisnis, lebih dari seabad yang lalu. Mengapa mereka masih terus melakukannya? Ini pertanyaan klasik. Jawaban ini bisa bermacam-macam. Namun secara umum, bagi mereka pembatasan pemakaian bahan bakar fosil (minyak bumi) berarti kehancuran bisnis, politik, dan bahkan mengancam kepentingan nasional negara.

    Ketimpangan

    Angka penggunaan bahan bakar fosil ini sungguh fantastis, pada 2005 tercatat konsumsi minyak bumi penduduk dunia mencapai 80 juta barel per hari atau 29 milyar barel per tahun. Pemakai terbesar didominasi negara-negara kaya, Amerika dan negara-negara Eropa.

    Amerika adalah negara kaya yang paling banyak membakar minyak per harinya, bayangkan saja yakni 20 juta barel per hari. Itu berarti seperempat dari konsumsi seluruh dunia (Gatra, 28/12/2007). Padahal menurut Jeremy Lagget (dalam buku Half Gone: Oil, Gas, Hot Air and The Global Energy Crisis, 2006) cadangan minyak sekarang hanya 780 milyar barel. Jumlah ini lebih sedikit dari jumlah yang telah disedot sejak 1859-2003, sebesar 920 milyar barel. Oleh karenanya penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan mutlak diperlukan.

    Kita akan tercengang bila tahu seperempat kebutuhan konsumsi itu ternyata hanya untuk memuaskan gaya hidup warga Amerika. Dalam hal konsumsi energi, warga Amerika rata-rata mengkonsumsi energi 11,4 kW, bandingkan dengan warga India yang hanya mengkonsumsi rata-rata 0,5 kW. Dari fakta ini kita akan segera menyimpulkan bahwa telah terjadi ketimpangan dalam konsumsi energi. Yang terjadi adalah tidak adanya pemerataan dalam hal kenikmatan dan keserakahan. Sebaliknya, adanya pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan ancaman terhadap tenggelamnya pulau-pulau apabila bumi makin panas dan kutub mencair.

    Fakta berikutnya adalah tahun 2002 Amerika menyumbang emisi gas 24 % lebih dari seluruh emisi gas karbon dioksida (CO2) di dunia. Coba bandingkan dengan negara Vanuatu, negara yang terletak di Lautan Teduh itu hanya menyumbang 0,1 %. Namun akibat yang ditimbulkan adalah Vanuatu terancam tenggelam apabila Kutub Utara mencair akibat pemanasan global (Tempo, 13/5/2007).

    Bukankah yang perlu dilakukan warga dunia—khususnya yang mengkonsumsi energi lebih banyak—adalah berempati? Apakah itu cukup? Tidak! Kalau bisa memaksa mengurangi konsumsi energi besar-besaran tentu akan kita lakukan. Namun nyatanya kita tidak bisa. Bahkan konferensi perubahan iklim di Bali akhir tahun 2007 pun tak mampu memaksanya.

    Alasan Lebih Layak

    Di balik kerakusan manusia akan konsumsi energi tersebut adalah karena alasan kehidupan yang—meminjam istilah Goenawan Mohamad—”lebih layak”. Tentu kata ”lebih layak” mengandung tafsir yang bermacam-macam dan indikator yang berlainan. Atas dasar alasan lebih layak inilah manusia didorong untuk hidup konsumtif, memuaskan nafsunya untuk dirinya sendiri.

    Pada titik inilah manusia tak dapat dihentikan keinginannya, kecuali adanya kesadaran. Mereka yang kaya mengenyam dan memperlihatkan ’kelayakan’ dalam wujud kemewahan.

    Pengetahuan ternyata tidak mampu mengendalikan sedikit pun laju ancaman bencana. Bahkan justru dijadikan alat untuk mengeksploitasi cadangan energi. Di Amerika, mereka terdiri dari perusahaan minyak, produsen mobil, dan militer Amerika menamakan diri sebagai ”Imperium Minyak” yang didukung oleh bankir, sekuritas, analis ekonomi, dan lembaga-lembaga lain. Kolaborasi ini teramat kompak. Relasi diantara mereka merupakan simbiosis mutualisme. Apapun cara dilakukan. Bahkan perang sekalipun. Konon Perang Irak dilatarbelakangi oleh motif perebutan sumber-sumber minyak bumi.

    Di sisi yang lain, energi alternatif belum meyakinkan untuk digunakan. Jadi, perlu pengembangan lebih maju, sebab tak ada pilihan lain selain terus mengembangkan energi alternatif. Untuk menghadang laju ancaman bencana lebih dahsyat.

    Manusia perlu terus menerus menahan diri untuk tidak membuat kerusakan lebih lanjut, setidaknya demi anak cucu dan generasi sesudahnya. Ada setitik harapan paling tidak untuk mengurangi laju ancaman itu, yakni dari ajaran agama. Ajaran agama bagi pemeluknya akan menyentuh kesadaran batinnya untuk tidak berbuat kerusakan.
    Sayangnya manusia beragama pun sulit disentil kesadarannya. Khotbah dan nasihat moral tak juga merubah kebandelannya. Memang perlu kolaborasi yang kompak antara agama, idealisme, teknologi, dan pengetahuan tentang lingkungan.

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 317 members
      • 158 guests
      • Last Update On
        22 August, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    •  
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It