Istilah ‘pembangunan’ (development) sepanjang sejarah mendapat tempat terhormat di negara maju dan menyebar ke negara-negara berkembang sejak akhir Perang Dunia II. Negara-negara industri maju mendewakannya bak obat mujarab yang mampu menjawab persoalan utama umat manusia: kemiskinan.
Tragisnya, pertumbuhan yang menjadi indikator utama pembangunan berdampak buruk pada bumi tempat kita berpijak. Bumi kita makin panas. Negara-negara maju tumbuh makin maju, negara-negara miskin dan berkembang memicu ekonominya untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju.
Negara maju memicu ekonominya di atas proyek industrialisasi yang boros energi. Sedang negara miskin-berkembang memicunya dengan mengeksploitasi hutan, minyak bumi, dan sumber-sumber daya alam yang dimilikinya. Eksploitasi besar-besaran dilakukan demi satu tujuan: Kesejahteraan. Istilah yang menjadi tujuan bernegara, tersurat dalam konstitusi kita.
Kesejahteraan sebagai satu tujuan dijadikan klaim banyak negara untuk menghalalkan segala cara dalam mencapainya. Menguras minyak bumi, menebangi hutan, dan bentuk-bentuk eksploitasi lainnya adalah cara-cara mereka memperlakukan bumi. Mereka tersadar bahwa bumi yang satu ini bukan semata milik negara maju yang secara membabi buta bisa mengambil manfaat bumi sesuka hati.
Dalam kajian ilmu sosial, cara-cara seperti eksploitasi, mendominasi, persaingan, dan penindasan dikenal sebagai prinsip maskulinitas. Maskulinitas dalam konstruksi sosial dilekatkan pada laki-laki. Sebaliknya prinsip yang berciri kedamaian, kebersamaan, kasih, dan keselamatan disebut sebagai feminitas. Ciri tersebut dilekatkan pada perempuan.
Pembangunan yang kita saksikan selama beberapa dasawarsa terakhir ini berciri maskulinitas. Sejak zaman kolonial, negara-negara maju berkeliling dunia menaklukkan tanah jajahan, melakukan penindasan terhadap penduduk asli, meminggirkan penduduk tersebut secara ekonomi, sosial, dan budaya.
Pasca Revolusi Industri, negara-negara Eropa sebagai pembaharu pada zaman pencerahan mendesain sedemikian rupa zaman sesudahnya di atas pengetahuan modern. Menjadikan bumi beserta isinya sebagai sumber eksploitasi demi satu tujuan: Kesejahteraan. Jauh sebelum bumi ini betul-betul makin panas, mereka bahkan sudah mampu memperkirakannya. Bahwa bumi yang satu ini akan makin bermasalah bila terus-terusan dieksploitasi. Sekali lagi di atas pengetahuan modern mereka memandang bumi sebagai sumber eksploitasi.
Mainstream pembangunan sampai saat ini tetap saja didominasi prinsip maskulinitas. Memang dalam perkembangan ilmu sosial ‘pembangunan’ dimodifikasi dengan menambahkan ‘keberlanjutan’ (sustainable) di belakangnya. Sebagai respon atas dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pembangunan.
Namun sayangnya pertumbuhan yang terus dipacu tidak mampu mengerem kerusakan-kerusakan bumi. Jurang konsumsi energi antara negara maju dengan negara miskin-berkembang menganga lebar.
Konsumsi energi berbeda jauh antara kalangan yang kaya dan kalangan miskin, tulis Gunawan Mohammad, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai tubuh siapa saja.
Dua Anugerah
Tepat dua dasawarsa yang lalu, dianugerahkan dua buah hadiah, pertama di Stockholm Nobel Ekonomi diberikan kepada Robert Solow dari MIT atas teorinya tentang pertumbuhan yang didasarkan pada pengabaian alam. Dunia dalam kenyataannya, ungkap Solow, dapat bertahan tanpa sumber daya alam, karena itu jika ada sumber daya yang habis, itu hanyalah sebuah kejadian bukan bencana.
Yang menarik, pada saat yang sama, sebagaimana dikutip Narendra Singh (1987), Right Livelihood Foundation menganugerahkan Award, atau Hadiah Nobel Alternatif kepada perempuan Chipko di India atas perjuangannya mementingkan kehidupan hutan daripada kehidupan mereka sendiri, dan dengan tindakan-tindakan mereka, menyatakan alam mutlak perlu untuk mempertahankan hidup
Orang-orang seperti perempuan Chipko, yang dianggap kuno, tradisional, katrok, dan ketinggalan jaman ternyata mampu berbuat secara nyata dalam mengontrol pemanasan global. Tidak semata-mata kampanye menyerukan slogan ‘hentikan global warming’. Mereka mengorbankan jiwanya untuk melindungi hutan dengan memeluk pepohonan yang hendak dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.
Ditegaskan oleh Vandana Shiva, dalam Staying Alive: Women, Ecology and Survival in India, 1988, bahwa gerakan lingkungan seperti Chipko telah menjadi tonggak sejarah penting karena dimotori oleh pemahaman ekologi dan politik serta kekuatan moral kaum perempuan.
Konferensi dunia tentang lingkungan hidup dari tahun ke tahun memandang perlu menjaga alam dari kerusakan, pun COP-13 di Bali, tahun lalu membuktikan alam mutlak perlu untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Mengabaikannya berarti bersiap-siap menghadapi bencana. Sudah saatnya dunia menginternalisasi prinsip feminitas di dalam pembangunannya. Dunia butuh lebih banyak lagi prinsip gerakan yang ditunjukkan oleh perempuan Chipko.







