<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.1.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: COP 13 Bali Disinyalir Mengubah Protokol Kyoto</title>
	<link>http://beritahabitat.net/2007/12/10/cop-13-bali-disinyalir-mengubah-protokol-kyoto/</link>
	<description>Portal Lingkungan Hidup Kita</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 09:25:04 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.1.3</generator>

	<item>
		<title>By: Aryo Panji Lintang</title>
		<link>http://beritahabitat.net/2007/12/10/cop-13-bali-disinyalir-mengubah-protokol-kyoto/#comment-129</link>
		<author>Aryo Panji Lintang</author>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 03:50:41 +0000</pubDate>
		<guid>http://beritahabitat.net/2007/12/10/cop-13-bali-disinyalir-mengubah-protokol-kyoto/#comment-129</guid>
					<description>Baiklah!

Senada dengan komentarku untuk opini sebelum ini dari Mas Yudi, skenario hari kiamatlah yang harus kita jalankan, bukan lagi skenario sustainable development, karena sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan "stop global warming"!  Anggaplah global warming tak bisa lagi dihentikan. Dan negara-negara utara tersebut memang meyakini bahwa sekitar 4 generasi dari sekarang, wilayah daratan merekalah yang akan masih tersisa setelah wilayah daratan selatan tenggelam menjadi legenda.  Dan jaman estosin kedua tersebut akan bertahan kira-kira hingga 50 millenium, hingga akhirnya muncul daratan yang baru.

Jadi, terserah apa maunya Anex I dan antex-antexnya. Cuekin saja!  Memikirkan mereka malah menghabiskan waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih penting dalam rangka mempertahankan peradaban orang selatan: demi sustainable civilization, yang merupakan soko guru sustainable development!

Barangkali, kita harus mulai membuka pelajaran kuno dari Nabi Nuh: mempersiapkan bahtera untuk menyongsong hari H yang masih gaib.  Kalau kisah Nabi Nuh tersebut kita improvisasi lagi, mungkin kaum yang mentertawakan apa yang dilakukan Nabi Nuh saat itu meliputi orang-orang yang menghabiskan waktu dengan mencoba mencegah bencana bah besar dari Tuhan.  Memang, Tuhan tak lagi mengirim Nabi maupun Rasul di jaman ini.  Namun Tuhan masih mengisyaratkan kita melalui data-data tentang gejala perubahan alam.

Marilah kita habiskan keringat dan uang kita untuk membekali ilmu pengetahuan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita untuk: [1] membangun teknologi pembuatan bahtera Nuh yang lebih permanen, yang sanggup  menampung sekitar 2 milyar jiwa penduduk Indonesia berikut kekayaan flora dan faunanya, dengan kekuatan yang mampu bertahan puluhan ribu tahun; dan [2] membangun teknologi pengadaan pangan, air dan energi dengan kebutuhan sumberdaya yang minimal.

Tidak realistis dan tidak relevan untuk saat ini.  Tapi, mau apalagi?  Masa depan kita tergantung dari olah intelegensi kita!

[Aryo Panji Lintang]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Baiklah!</p>
<p>Senada dengan komentarku untuk opini sebelum ini dari Mas Yudi, skenario hari kiamatlah yang harus kita jalankan, bukan lagi skenario sustainable development, karena sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan &#8220;stop global warming&#8221;!  Anggaplah global warming tak bisa lagi dihentikan. Dan negara-negara utara tersebut memang meyakini bahwa sekitar 4 generasi dari sekarang, wilayah daratan merekalah yang akan masih tersisa setelah wilayah daratan selatan tenggelam menjadi legenda.  Dan jaman estosin kedua tersebut akan bertahan kira-kira hingga 50 millenium, hingga akhirnya muncul daratan yang baru.</p>
<p>Jadi, terserah apa maunya Anex I dan antex-antexnya. Cuekin saja!  Memikirkan mereka malah menghabiskan waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih penting dalam rangka mempertahankan peradaban orang selatan: demi sustainable civilization, yang merupakan soko guru sustainable development!</p>
<p>Barangkali, kita harus mulai membuka pelajaran kuno dari Nabi Nuh: mempersiapkan bahtera untuk menyongsong hari H yang masih gaib.  Kalau kisah Nabi Nuh tersebut kita improvisasi lagi, mungkin kaum yang mentertawakan apa yang dilakukan Nabi Nuh saat itu meliputi orang-orang yang menghabiskan waktu dengan mencoba mencegah bencana bah besar dari Tuhan.  Memang, Tuhan tak lagi mengirim Nabi maupun Rasul di jaman ini.  Namun Tuhan masih mengisyaratkan kita melalui data-data tentang gejala perubahan alam.</p>
<p>Marilah kita habiskan keringat dan uang kita untuk membekali ilmu pengetahuan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita untuk: [1] membangun teknologi pembuatan bahtera Nuh yang lebih permanen, yang sanggup  menampung sekitar 2 milyar jiwa penduduk Indonesia berikut kekayaan flora dan faunanya, dengan kekuatan yang mampu bertahan puluhan ribu tahun; dan [2] membangun teknologi pengadaan pangan, air dan energi dengan kebutuhan sumberdaya yang minimal.</p>
<p>Tidak realistis dan tidak relevan untuk saat ini.  Tapi, mau apalagi?  Masa depan kita tergantung dari olah intelegensi kita!</p>
<p>[Aryo Panji Lintang]</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>By: dea grace</title>
		<link>http://beritahabitat.net/2007/12/10/cop-13-bali-disinyalir-mengubah-protokol-kyoto/#comment-140</link>
		<author>dea grace</author>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 08:31:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://beritahabitat.net/2007/12/10/cop-13-bali-disinyalir-mengubah-protokol-kyoto/#comment-140</guid>
					<description>ok then

tak usahlah kita mengurusi "negara" yang menganggap dirinya maju padahal merupakan kemunduran tersendiri bagi sebuah planet yang bernama bumi. sekarang bagaimana kita sendiri yang harus bertindak melawan tuduhan negara berkembang yang yang selalu menuruti kemauan kapitalisme yang merusak diri sendiri untuk dapat berubah memperbaiki "bumi" ini demi kita sendiri.
Bagaimana untuk berubah itu tergantung kepada diri kita sendir jangan menunggau orang lain atau negara lain, bencana sudah dimana-mana piliannya ada ditangan kita sendiri tapi maukah negara ini dan bangsanya yang sudah kenyang dengan bencana namun tetap "tergantung" dengan negara lain! ku harap semuanya mau berubah demi kehidupan kita sendiri dan bumi ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ok then</p>
<p>tak usahlah kita mengurusi &#8220;negara&#8221; yang menganggap dirinya maju padahal merupakan kemunduran tersendiri bagi sebuah planet yang bernama bumi. sekarang bagaimana kita sendiri yang harus bertindak melawan tuduhan negara berkembang yang yang selalu menuruti kemauan kapitalisme yang merusak diri sendiri untuk dapat berubah memperbaiki &#8220;bumi&#8221; ini demi kita sendiri.<br />
Bagaimana untuk berubah itu tergantung kepada diri kita sendir jangan menunggau orang lain atau negara lain, bencana sudah dimana-mana piliannya ada ditangan kita sendiri tapi maukah negara ini dan bangsanya yang sudah kenyang dengan bencana namun tetap &#8220;tergantung&#8221; dengan negara lain! ku harap semuanya mau berubah demi kehidupan kita sendiri dan bumi ini</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
