Ketua Jaringan Friends of The Earth Internasional (Fofi) Meenakshi Raman mengungkapkan, kini muncul agenda terselubung Negara maju yang ingin lari dari kewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan berupaya mewajibkan Negara-negara Berkembang mengurangi emisi. “Perkembangan konferensi makin dipertegas upaya-upaya Negara maju yang tak mau lagi bertanggungjawab penuh atas perubahan iklim,” tandasnya (Sindo, 6/12/2007).
Hegemoni ambisi Negara-negara Maju hanya memboncengi isu di balik konferensi tersebut harus diatasi oleh masyarakat Internasional yang peduli bumi. Di balik pembahasan tersebut tersinyalir kuat adanya pengubahan protokol Kyoto. Terlihat sekali jelas pernyataan Jepang tentang keinginan mengganti skema protokol Kyoto. (Baca bahasan di sini.)
Disana penulis menyampaikan tolak COP 13 Bali apabila pertemuan tersebut menguntungkan Negara Utara sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Dunia. Mereka terlihat sekali ingin merubah protokol Kyoto dengan melihat kedepan, namun dibalik itu berusaha mempertahankan kepentingan kapitalnya yang cenderung merusak bumi.
Ironisnya, mereka tidak ingin disalahkan dan merubah paradigma sebagai penyumbang Emisi terbesar di dunia. Yang uniknya, AS pun memberikan dukungan terhadap proposal yang disampaikan oleh Jepang dengan mengatakan Negara Berkembang membayar biaya lebih mahal lagi atas perubahan iklim.
Sejarah mencatat pada tahun 1992 dalam deklarasi Rio untuk Lingkungan dan Pembangunan sebuah prinsip dasar “Tanggung Jawab Sama Kewajiban Berbeda (General Responbility and Diferrented). Namun lagi-lagi teknologi bermuka dua. Meski konferensi tersebut hampir lewat sekilas saja, ramalan tentang pembangunan berkelanjutan agaknya tetap menunjukan hal yang menggembirakan.
Malah terjadi kemunduran tampaknya Integrasi Lingkungan dan Pembangunan tidak terjadi apa yang diharapkan. Kualitas lingkungan merosot dalam hilangnya keanekaragaman hayati, krisis air, teknologi yang membahayakan lingkungan, krisis air, pemanasan global dan lebih parah kesenjangan pendapatan antara kaum miskin dan kaya semakin luas.
Yang dipertanyakan apakah konferensi di Bali bakal seperti itu dengan skemanya Reduce Emissions from deforestasion and Forest Degradation (REDD) bakal terwujud dengan flashback melihat konferensi Rio secara realita? Di sini penulis pun pesimis meski Negara maju harus mengubah protokol Kyoto tetap saja protokol tersebut hingga saat ini belum berjalan optimal. Kenapa harus ada perubahan baru?
Konflik Kepentingan
Kegelisahan Negara maju dan Negara berkembang terhadap dampak degradasi lingkungan hidup membawa manusia dalam membentuk kesadaran bersama akan pentingnya ekosistim seimbang di bumi ini.
Namun, perbedaan visi dan misi dan kepentingan seringkali menguntungkan Negara maju ketimbang Negara sedang berkembang meski harus dibungkus dengan namanya konferensi tingkat tinggi dalam bentuk apapun. Dalam pelestarian lingkungan hidup skala gobal terkait dengan ekonomi global dan agenda ekologi kian urgen.
Bertambahnya populasi manusia dan pertumbuhan produksi bakal menghabiskan sumber daya alam di muka bumi. Sampai saat ini pun diskursus mengenai pelestarian lingkungan dalam konteks ekonomi global belum mencapai kata sepakat. Dalam konflik kepentingan mereka mempertahankan argumen-argumennya sendiri dengan tujuan kepentingan negaranya bukan pada kepentingan masyarakat bumi.
Negara maju cenderung memaksakan ukuran-ukuran pelestarian lingkungan yang diterapkan di Negara Berkembang, bahwa deforestasi dan degradasi lingkungan dinegeri mereka merupakan biaya yang harus dibayar mahal. Mereka menyalahkan Negara berkembang yang menebang hutan terlalu parah hingga menyebabkan perubahan iklim, namun di satu sisi Negara Maju pun harus menyadari bahwa ia juga penyebab dari perubahan iklm global dengan adanya doktrin WTO.
Ujung-ujungnya Negara Maju yang harus disalahkan dengan adanya ekonomi kapitalis global dimana Negara-negara Berkembang belum bisa memproduksi barang mentah secara teknologi serta di tambahnya jeratan-jeratan utang yang menumpuk kepada Negara-negara Maju mereka harus rela mengkonversi hutan demi kepentingan rakyatnya.
Kekuasan diatas kekuasan lahirlah kemiskinan, begitu juga AS dan Negara-negara maju lainnya mereka yang harus bertanggungjawab dengan adanya penebangan hutan tropis di Negara-negara berkembang. Secara sengaja ia membunuh masyarakat Negara berkembang dan bangsa Indonesia dengan tertanamnya Ekonomi kapitalis global yang mementingkan kemakmuran negaranya.
Mari kita tegaskan Tolak Pertemuan COP 13 Bali apabila menguntungkan Negara-negara maju. Kita sebagai bangsa Indonesia harus mempunyai ketegasan jangan sampai dicampurtangan dan disalahkan oleh Negara-negara maju dalam keputusan COP 13. Negara ini sudah di Eksploitasi alamnya oleh AS dengan adanya PT Freeport, Newmont dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaannya khususnya di bidang energi.
Leave a Reply
2 Responses to “COP 13 Bali Disinyalir Mengubah Protokol Kyoto” |
Related Posts |








December 10th, 2007 at 10:50 am
Baiklah!
Senada dengan komentarku untuk opini sebelum ini dari Mas Yudi, skenario hari kiamatlah yang harus kita jalankan, bukan lagi skenario sustainable development, karena sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan “stop global warming”! Anggaplah global warming tak bisa lagi dihentikan. Dan negara-negara utara tersebut memang meyakini bahwa sekitar 4 generasi dari sekarang, wilayah daratan merekalah yang akan masih tersisa setelah wilayah daratan selatan tenggelam menjadi legenda. Dan jaman estosin kedua tersebut akan bertahan kira-kira hingga 50 millenium, hingga akhirnya muncul daratan yang baru.
Jadi, terserah apa maunya Anex I dan antex-antexnya. Cuekin saja! Memikirkan mereka malah menghabiskan waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih penting dalam rangka mempertahankan peradaban orang selatan: demi sustainable civilization, yang merupakan soko guru sustainable development!
Barangkali, kita harus mulai membuka pelajaran kuno dari Nabi Nuh: mempersiapkan bahtera untuk menyongsong hari H yang masih gaib. Kalau kisah Nabi Nuh tersebut kita improvisasi lagi, mungkin kaum yang mentertawakan apa yang dilakukan Nabi Nuh saat itu meliputi orang-orang yang menghabiskan waktu dengan mencoba mencegah bencana bah besar dari Tuhan. Memang, Tuhan tak lagi mengirim Nabi maupun Rasul di jaman ini. Namun Tuhan masih mengisyaratkan kita melalui data-data tentang gejala perubahan alam.
Marilah kita habiskan keringat dan uang kita untuk membekali ilmu pengetahuan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita untuk: [1] membangun teknologi pembuatan bahtera Nuh yang lebih permanen, yang sanggup menampung sekitar 2 milyar jiwa penduduk Indonesia berikut kekayaan flora dan faunanya, dengan kekuatan yang mampu bertahan puluhan ribu tahun; dan [2] membangun teknologi pengadaan pangan, air dan energi dengan kebutuhan sumberdaya yang minimal.
Tidak realistis dan tidak relevan untuk saat ini. Tapi, mau apalagi? Masa depan kita tergantung dari olah intelegensi kita!
[Aryo Panji Lintang]
December 29th, 2007 at 3:31 pm
ok then
tak usahlah kita mengurusi “negara” yang menganggap dirinya maju padahal merupakan kemunduran tersendiri bagi sebuah planet yang bernama bumi. sekarang bagaimana kita sendiri yang harus bertindak melawan tuduhan negara berkembang yang yang selalu menuruti kemauan kapitalisme yang merusak diri sendiri untuk dapat berubah memperbaiki “bumi” ini demi kita sendiri.
Bagaimana untuk berubah itu tergantung kepada diri kita sendir jangan menunggau orang lain atau negara lain, bencana sudah dimana-mana piliannya ada ditangan kita sendiri tapi maukah negara ini dan bangsanya yang sudah kenyang dengan bencana namun tetap “tergantung” dengan negara lain! ku harap semuanya mau berubah demi kehidupan kita sendiri dan bumi ini