Indonesia patut berbangga dengan dipilih menjadi tuan rumah dalam acara UN Climate Change Conference 2007 di Bali saat ini. Jika mengikuti perkembangan-perkembangan yang terjadi di acara tersebut, dalam hari pertama pelaksanaannya pun telah terjadi beberapa hal menarik seperti salah satunya adalah dengan ditandatanganinya protokol Kyoto oleh Autralia. Kabinet baru Australia yang baru berjalan beberapa hari benar-benar membuat terobosan baru, terlepas dari apakah isu ini sengaja diusung oleh kabinet saat ini untuk memenangkan pemilu. Amerika Serikat masih tetap dengan pendiriannya untuk ‘belum mau’ meratifikasi protokol kyoto, akan tetapi berkomitmen untuk membantu penelitian untuk mengembangkan teknologi sumber energi ramah lingkungan.
Sedikit bergeser dari dinamika yang terjadi dalam acara tersebut saya ingin mengajak semua dari kita untuk kembali melihat term dari ‘climate change’ dan ‘global warming’. Berdasarkan hasil diskusi saya dengan salah seorang teman dari James Cook Univerity, seorang peneliti senior terumbu karang, beliau mengungkapkan bahwa term yang diusung oleh acara konfrensi di Bali ini dikhawatirkan sedikit mengaburkan permasalahan utama yang dihadapi oleh sebagian ekosistem di bumi ini yaitu pemanasan global. Salah satunya ekosistem yang beliau garis bawahi adalah terumbu karang. Terumbu karang adalah ekosistem yang benar-benar menjadi objek penderita dengan terjadinya pemanasan global. Peningkatan suhu muka laut dan naiknya permukaan air laut akibat pencairan es adalah dampak langsung yang akan diterima terumbu karang dimana salah satu hasil akhirnya adalah kematian massal.
Term climate change atau perubahan iklim mungkin lebih mengena jika dikaitkan dengan salah satu mamalia di darat yaitu kita manusia. Dampak dari perubahan iklim tentunya sangat mempengaruhi manusia, dari gagal panen, cuaca yang sulit di prediksi, bencana seperti angin puting beliung, banjir, kekeringan dan sebaginya. Akan tetapi perubahan iklim tidak secara langsung mempengaruhi terumbu karang, beruang kutub, pinguin, anjing laut dan hewan-hewan kutub lainnya yang semakin hari semakin kehilangan daratan es sebagai habitatnya. Pemanasan global lah yang benar-benar mengancam keberadaan mereka secara langsung.
Terlepas dari dua perbedaan dari dua term di atas, saya hanya mencoba mengingatkan kembali diri saya untuk kembali melihat perbedaan sekaligus kesamaannya. Kita semua paham bahwa perubahan iklim disebabkan oleh pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan kadar CO2 di atmosfir. Akan tetapi menjadi penting untuk membedakan 2 term ini saat kita menyebarkan informasi ini ke masyarakat di sekitar kita, agar tidak adanya kerancuan pemahaman. Dan tentunya pada akhirnya semua mengerucut pada satu pemahaman dan kesimpulan yang sama bahwa proses-proses yang menyebabkan pemanasan global yang menggiring perubahan iklim harus dihentikan atau dikurangi saat ini juga.
Leave a Reply
6 Responses to “Pilih mana? ‘Climate Change’ atau ‘Global Warming’?” |
Related Posts |










December 5th, 2007 at 8:56 pm
Ini hasil diskusiku dengan Pak Bon sekolahan anakku:
Yang rugi dari global warming di wilayah daratan: tukang es batu, tukang jualan soft drink yang pakai cooler, dan tukang jual rujak buah dorongan.
Yang untung dari global warming di wilayah daratan:
tukang jual kipas, pengusaha kolam renang, disainer dan pengusaha garmen baju-baju minim, serta orang-orang yang sedang nunggu proses pencairan dana (pensiunan, taspen, dll).
Ada yang mau nambah listnya?
December 5th, 2007 at 9:45 pm
December 6th, 2007 at 9:11 pm
Dunia tidak dipilih dengan climate change atau global warming. But dunia sedang dipilih oleh kapitalis global untuk dihancurkan. Sebagai masyarakat bumi tetap menolak COP 13 Bali apabila dipermainkan dengan negara-negara maju seperti AS, JEPANG
December 9th, 2007 at 1:24 am
benar juga yaa.
yg penting bagaimana mengurangi gobal warming agar tidak terjadi perubahan iklim.
December 9th, 2007 at 5:22 pm
Mas Yudi, bukankah warming itu merupakan proses pemanasan akibat adanya efek panas dari energi termal? Jika berbicara mengenai energi termal, berarti kita juga sedang membicarakan tentang temperatur, karena temperatur adalah ukuran dari energi termal. Oleh karena itu, temperatur merupakan salah satu faktor klimatologis. Jadi istilah itu menurutku tidak perlu dipikirkan sampai botak. Karena, toh, global warming merupakan bagian dari climate change.
Tidakkah seharusnya kita mulai berpikir, jika global warming merupakan salah satu skenario hari kiamat-Nya, yang tidak bisa kita cegah ataupun kita tawar, dengan dampak yang sangat mengerikan, jauh lebih mengerikan dari prediksi para ilmuwan, rencana apa yang perlu kita siapkan untuk mempertahankan peradaban manusia ini?
Bayangkan, apa yang seharusnya kita lakukan jika mau tidak mau, sebagian wilayah terestrial di planet bumi ini tidak bisa dihuni lagi: karena tenggelam, karena tidak bisa ditanami lagi, karena tidak memiliki cadangan sumber energi lagi, atau karena wabah penyakit.
Bayangkan jika wilayah terestrial di planet bumi ini yang layak untuk dihuni hanya tinggal sebagian dari belahan bumi utara.
Apakah kita, John Houghton dan IPCC mulai membicarakan bagaimana memindahkan spesies Homo sapiens dari wilayah-wilayah yang akan lenyap dan tak layak huni ke wilayah-wilayah yang masih layak huni? Apakah orang-orang utara mau menampung saudara-saudaranya dari wilayah tropis? Apakah orang-orang utara masih menganggap kita sebagai bagian dari Homo sapiens?
Sedangkan kita tahu, saat ini migrasi manusia selalu menimbulkan konflik etnis, yang jika dipolitisir menimbulkan perang: homo homini lupus! Tidak usah jauh-jauh memikirkan migrasi antar negara, migrasi antar wilayah dalam satu negara pun masih mengundang konflik antar etnis! Kalau masalah yang krusial ini saja tidak segera dibicarakan, pasti akan dimanfaatkan oleh para penguasa ketika bencana tersebut menjadi kenyataan, yang akan menambah satu lagi dampak mengerikan dari global warming.
Dalam isu global warming, kebanyakan orang membicarakan masalah kekurangan air, kekurangan pangan dan kekurangan sumber energi, dengan masih berharap bahwa global warming bisa dicegah! Pertanyaannya: yakinkah kita bahwa kita bisa mencegahnya, sedangkan manusia dan hewan di planet ini terus beranak-pinak, berespirasi dan mengemisikan CO2?
Manusia, adalah makhluk intelligent, yang diberi akal-budi oleh Tuhan!
Tentang kekurangan air, jika wilayah planet ini nantinya makin didominasi oleh lautan, seharusnya kita segera memikirkan teknologi canggih dan murah untuk menyuling air laut menjadi air konsumsi. Lantas apa gunanya upaya reforestasi dan penanaman pohon?
Silahkan terus berjuang secara nyata untuk menghijaukan bumi ini. Tapi: harus ikhlas, dalam arti janganlah terlalu banyak berharap bahwa dengan upaya tersebut, bencana yang menanti di depan bisa dicegah! Bayangkan saja, kalau sampai saat ini upaya penanaman pohon baru dimulai, sedangkan CO2 di atmosfer sudah melimpah dan akan terus bertahan dan masih terdeposit selama satu abad! Belum lagi membicarakan pasokan CH4 dari beberapa proses alamiah, yang konon efek panasnya bisa 20x lipat dari CO2. Tentu saja bencana global warming akan tetap berjalan sesuai rencana-Nya: kekeringan, banjir akibat hujan yang eksesif, atau malah glasiasi yang akan menenggelamkan beberapa wilayah daratan!
Janganlah terlalu fanatik menganggap bahwa hutan selalu identik dengan ketidakberadaan banjir. Kalau mau adil, bukankah ekosistem hutan dataran rendah (rawa dan mangrove) itu merupakan contoh ekosistem hutan yang kebanjiran? :))
Dengan skenario bahwa global warming tak terelakan, seharusnya kita juga meragukan upaya mencari sumber energi terbaharui dari biofuel (ma’af ke Oom Wicak yang bijak). Jika di masa mendatang, akibat global warming wilayah tropis ini menjadi gurun, tak bisa ditanami apa-apa lagi, apakah kita masih bisa memproduksi sumber energi tersebut?
Mungkin belum ada yang mengalahkan imajinasinya Einstein tentang masalah penyediaan sumber energi, E = mc2. Itulah juklak energi yang paling hemat! Dengan input yang bermasa sedikit, kita bisa memproduksi energi yang berlipat-lipat lebih besar! Sustainable khan? Asal bukan untuk perang, apa salahnya sih? Toh, sejak kecelakaan Chernobyl, belum pernah terdengar ada mutan manusia yang mengerikan seperti film DIGIMON! Mengikuti judul Mas Yudi: sekarang pilih mana: “mutasi yang belum terbukti” atau “paceklik energi akibat global warming”?.
[Aryo Panji Lintang]
December 18th, 2007 at 9:24 am
Dear, Mas Aryo P.L
Waw…sebuah pemikiran yang luar biasa. Pada intinya sebagian dari kita punya satu kesamaan keinginan yaitu sbisa mungkin memperlambat laju pemanasan global..dan sedikit-demi sedikit mengurangi ketergantungan kita kepada SDA hayati yang berhubungan langsung dengan konversi CO2 (tanaman).
Tapi pertanyaan besarnya adalah sumber energi alternatif mana sih yang benar2 terbaik?? Penggunaan energi yang berasal dari rumus E=mc2…masih jadi perdebatan. Memang belum dilaporkan adanya kelompok2 masnusia yang menamakan diri mereka X-men sebagai manusia mutant.
Mas Aryo, klo boleh mengutarakan pendapat pribadi nih, penggunaan E=mc2 mungkin perlu pertimbangan lebih jauh lagi. Soalnya saya pernah melihat sebuah tayangan di TV mengenai sebuah penelitian di desa yang dekat dgn sebuah reaktor nuklir. Ternyata ditemukan kasus kanker dalam jumlah yang banyak, bahkan menyerang kelompok usia remaja. Ditemukan juga bberapa bayi cacat lahir. Dari hasil penelitiannya katanya, ini indikasi dari pencemaran radiasi nya.
Mungkin kalo teman2 pernah dapat artikelnya tentang seorang dari Jawa tengah (saya lupa..nanti saya buka lagi artikelnya) yang menemukan energi berbahan dasar air laut…mungkin itu sebuah terobosan besar. Pernah dimuat di harian Suara Merdeka kalau tidak salah, dan katanya mendapat perhatian besar dari SBY…entahlah..sayapun dapat info itu dari milist.
yah kembali lagi..klo selama ini semuanya hanya lingkaran tak berujung…dan benar sekali bahwa ini bagian dari skenario hari kiamat-Nya.
Mengenai pemindahan homo sapiens dari tropis ke tempat lintang tinggi…sebuah pemikiran yang menarik. Tapi mungkin tidak akan sesederhana itu…bahkan bisa menjadi chaos dan tidak ada lagi tempat untuk tinggal bagi homo sapiens. Skenario pertama penenggelaman pulau-pulau..sudah pasti memaksa negara seperti indonesia ini harus mobilisasi besar2an….(indikasinya sudah terlihat…dengan semakin seringnya terjadi ‘rob’ banjir pasang di jakarta dan pantura belakangan ini). Skenario kedua tidak kalah mengerikan…seperti di film ‘The day after tomorrow’ dimana justru di bumi bagian utara terjadi penurunan suhu yang sangat drastis yang mengakibatkan terjadinya musim dingin yang berkepanjangan yang disebabkan oleh mencairnya es di greenland sehingga perputaran ‘arus laut global’yang membawa bahang dari daerah tropis ke utara terhenti…akibatnya eropa dan amerika utara membeku. Tori yang lebih detil dijelaskan juga di filmnya ‘Al-Gore’.
Intinya…’Kiamat Sudah Dekat’…:)