•  28 November 2008 Banjir Masih Mengancam Sumatera   ::  
  •  27 November 2008 Lowongan di Yayasan Jambata   ::  
  •  20 November 2008 Tiang Gantungan di Kebun Sawit   ::  
  •  17 November 2008 Workshop, Lomba dan Pameran Foto Keadilan Untuk Iklim   ::  
  •  17 November 2008 Kelapa Sawit Ancam Keanekaragaman Hayati Indonesia   ::  
  • Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang    Print This Post   Email This Post

    November 27th, 2007 | Oleh Aryo Panji Lintang

    Sengatan matahari yang panasnya terasa mendidihkan darah, sedikit pun tidak mengusik ketenangannya dalam menapaki langkahnya yang menggemeretakkan guguran dedaunan kering-kerontang di lantai hutan yang sedang dilintasinya, sekaligus meretakkan kulit kakinya yang telanjang tanpa alas. Titik-titik merah dari dubang kapur sirih yang dia ludahkan menandai jalur perjalanannya semenjak berangkat dari Girah. Ocehan pendeta tua di sampingnya yang mengisahkan masa-masa kemakmuran Daha, dengan sesekali mengumpati bonggol-bonggol tebangan kayu yang nyaris mencelakai dirinya hanya ditanggapi dengan gumam dan senyum sekedarnya. Pikirannya masih melanglang buana ke berbagai ruang dan waktu.

    Perempuan tua itu sesungguhnya paham benar akan bencana dan kekacauan yang tengah melanda negeri ini. Bara udara bumi yang menguapkan air, menggersangkan sawah dan ladang, meretakkan tanah, meranggaskan pepohonan di hutan, membangkaikan ternak dan satwa, membiakkan bibit penyakit, membunuh manusia dan membuat mereka yang bertahan hidup kehilangan moral: saling membunuh. Sejak lama dia telah tekun mempelajari ilmu tentang bencana, jauh hari sebelum isu bencana dijadikan barang dagangan.

    Kala itu, kenikmatan bulan madu yang tengah direguknya tercerabut saat belahan jiwa yang sangat dicintainya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Suaminya gugur dalam bencana buatan manusia: perang. Perang melawan para prajurit yang dengan paksa menggusur sawah ladangnya untuk dijadikan sebagai altar persembahan korban untuk sang penguasa negeri yang adigang, adigung, adiguna: Bathari Durga Bhagawati.

    Bagi suami si perempuan tua itu, sawah ladang merupakan sumber kahuripan sejati: maka akhirnya sadumuk bathuk sanyari bumi, berjuang mempertahankan tanah air tercinta hingga mati berkalang tanah daripada hidup dijajah! Sepeninggal suaminya, benih cinta telah tertanam dalam rahimnya, sekaligus benih dendam telah tertanam dalam hatinya. Sejak itu, tiada motivasi lain dalam benaknya dalam menekuni ilmu bencana, selain hanya untuk melindungi Ratna Manggali, buah hatinya, dan untuk membalaskan kesumatnya atas keserakahan para penguasa.

    Kini, saat negeri ini porak-poranda dilanda berbagai krisis multidimensi dan bencana berkepanjangan, Prabu Erlangga sang penguasa negeri, mengutus Empu Bharadah untuk menjemput dirinya dari pengasingannya di Girah.

    “Empu“, berkata perempuan tua itu kepada pendeta renta yang mendampingi perjalanannya sejak dari Girah tanpa menatap wajahnya sama sekali, sambil tetap mengayunkan langkah kakinya dengan pasti. “Jika aku akhirnya menyerahkan kitabku yang berisi tentang thesisku mengenai bencana ini kepada Sang Prabu, apakah Empu yakin bahwa dunia dan seisinya akan selamat dan akhirnya membuat rakyat Daha sejahtera?â€

    Nafas tua Empu Bharadah bertambah tersengal dengan pertanyaan tersebut. Dia berusaha mengembalikan tempo nafasnya yang mendadak memainkan ritme tak beraturan sebelum akhirnya menjawab. “Aku sangat yakin, Calon Arang! Dengan menyerahkan kitabmu tentang ilmu bencana kepada pemimpin yang adil dan tidak pernah kufur seperti Prabu Erlangga, pasti Daha akan gemah ripah loh jinawi. Janganlah kau ragukan lagi!â€

    Setelah meludahkan dubang dari kapur sirihnya untuk kesekian kalinya ke tanah, berkata kembali Calon Arang, masih tanpa memandang wajah Empu Bharadah. “Bagaimana mungkin aku tidak sangsi jika saat ini keputusan Prabu Erlangga masih dibayangi oleh kekuasaan negeri Bathari Durga Bhagawati, musuh terbesarku yang telah mengajariku tentang bagaimana nikmatnya menindas dan membunuh sesama manusia? Apakah Empu yakin bahwa Sang Prabu merupakan sosok pemimpin yang diidamkan di negeri Daha ini: pemimpin yang berdaulat dan merdeka dari penindasan bangsa lain?â€

    Terhenyak kembali Empu Bharadah oleh tanggapan Calon Arang. Rupanya, kisah tragisnya di masa lalu telah menempa hatinya menjadi sekeras karang dan setajam parang. Empu Bharadah sangat memahami hal itu. Dia juga memahami bahwa perintah Prabu Erlangga bukanlah perintah yang merdeka, namun atas tekanan Bathari Durga Bhagawati, yang mengancam untuk melakukan embargo atas Daha, jika Daha tidak mau mengorbankan diri dalam upaya mengurangi bencana dunia untuk kedigdayaan dirinya. “Lantas apa maumu, Calon Arang?â€

    “Aku mau memberikan kitabku ini dengan syarat! Jika demokrasi tidak hanya diterapkan pada skala mikro, lokal dan nasional, namun juga pada skala regional dan global!“

    “Apa maksudmu?“

    “Kekuasaan tidak hanya di tangan rakyat suatu daerah, kekuasaan tidak hanya di tangan rakyat suatu negara, namun lebih dari itu, pada skala global, kekuasaan dunia seharusnya berada di tangan rakyat seluruh dunia, bukan hanya dipegang oleh satu atau segelintir negara, seperti praktek yang sekarang ini dijalankan oleh Bathari Durga Bhagawati, bukan pula kekuasaan dunia itu hanya diwakili oleh para pemimpin negara yang lemah yang ditodong oleh pemimpin negara yang kuat dalam perundingan internasional! Jika kita melindungi rakyat dan lingkungan hidup kita, itu karena prakarsa kita sendiri, bukan karena didikte dan diancam oleh negara lain.“

    “Tidak sadarkah kamu bahwa syaratmu lebih berat daripada beban menyangga bumi? Jika tak bisa dipenuhi oleh Sang Prabu, tetapkah kamu akan bersikeras untuk membangkang, tidak mau menyerahkan kitabmu?“

    Kali ini Calon Arang menghentikan langkahnya. Sorot matanya yang garang menatap Empu Bharadah. “Aku hanyalah Calon Arang. Jasadku hanyalah kandidat karbon, yang akan terurai menjadi bahan remah organik saat nyawaku oncat, yang ratusan tahun kemudian akan turut menghangatkan atmosfer bumi ini. Kitabku hanyalah berisi tentang sebab musabab terjadinya bencana berdasarkan pengetahuanku tentang siklus karbon. Pemanasan global lebih banyak disebabkan oleh emisi kepulan asap sesaji ke atmosfer yang menjadi sumber energi Bathari Durga. Hanya ada dua hal yang bisa mengatasi bencana ini. Yang pertama adalah tumbuhan plankton di lautan, bukan tumbuhan di wilayah terestrial. Dan yang kedua adalah Bathari Durga, dengan cara mengurangi ketamakannya akan energi, akan kekuasaan, akan kenikmatan duniawi!

    Jangan lagi menjadikan orang-orang kelaparan sebagai tumbal yang diminta Bathari Durga. Jangan lagi menjadikan orang-orang kelaparan sebagai korban karbon! Andai syaratku tak dipenuhi, masih banyak bencana lain yang mengancam dunia ini, yang kausalitasnya tak tertulis dalam kitabku, namun solusinya tak lain dan tak bukan adalah syarat yang kuajukan itu.“ [Aryo Panji Lintang]

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 365 members
      • 211 guests
      • Last Update On
        9 December, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It