Bus Berbahan Bakar Minyak Jelantah, Kabar Gembira Buat Lingkungan Hidup
Biskota Bogor Transpakuan, telah memulai menggunakan biodiesel jelantah dengan komposisi 20% biodiesel dan 80% petroleum diesel (solar). Penggunaan biodiesel ini telah diawali dengan percobaan-percobaan sebelumnya yang telah dilakukan oleh Bapak Hasim Hanafie dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Kendaraan diesel yang diisi biodiesel jelantah 100 % ternyata lebih bertenaga karena bilangan cetane yang lebih tinggi dan gas buangan yang berwarna putih bersih serta harum. Minyak jelantah bisa dibeli di pengumpul-pengumpul jelantah di seluruh Indonesia dengan harga sekitar 1.500 sampai 2.000 rupiah per liter.
Harga biodiesel pembelian Pertamina adalah sekitar 7.000 rupiah per liter sementara biaya pemrosesan minyak jelantah menjadi biodiesel jelantah adalah hanya 2.500 rupiah per liter jelantah sehingga konversi diesel petroleum ke diesel jelantah menjadi suatu peluang usaha UKM yang baik dan peluang usaha yang ramah lingkungan. Untuk 1 liter minyak jelantah yang telah disaring menghasilkan kurang lebih 0.8 liter biodiesel jelantah.
Bagi yang berminat membeli mesin pemroses biodiesel jelantah untuk suatu usaha UKM, silahkan menghubungi Bapak Hasim Hanafie dengan email hasim-hanafie@theheritage.or.id atau ke telpon 0816 112 6264. Bapak Hasim Hanafie adalah juga salah satu penulis buku Biodiesel dari Jarak Pagar yang diterbitkan oleh Penebar Swadaya. The Heritage Foundation telah mengaplikasikan 100% biodiesel yang dihasilkan dari minyak jelantah pada mobil operasional Foundation Highline.
Leave a Reply
9 Responses to “Bus Berbahan Bakar Minyak Jelantah, Kabar Gembira Buat Lingkungan Hidup” |
Related Posts
|








November 28th, 2007 at 10:05 am
Dari sisi emisi gas buang, memang mungkin biodiesel ini lebih rendah dari BBM fosil yang selama ini kita gunakan. Akan tetapi menasionalisasikan industri ini, terutama dari bahan dasar kelapa sawit tidak menyelesaikan masalah pemanasan global. Penyebabnya adalah, penggalakkan industri ini tentunya akan membutuhkan lebih banyak lahan, yang salah satunya adalah membuka hutan. Jadi pernyataan ‘kabar gembira bagi lingkungan hidup’ perlu dikaji kembali dalam sudut pandang holistik. Seharusnya 50 tahun yang lalu manusia fokus kepada penggunaan energi yang tak pernah habis seperti matahari dan angin. Menggunakan bahan bakar bersumber dari sumberdaya hayati tetap saja membebani planet ini.
November 28th, 2007 at 12:15 pm
Dipandang dari sudut holistik, kabar gembira tak identik dengan kabar sempurna. boleh jadi sumber energi unhayati berpeluang lebih baik. tapi apakah ada jaminan bahwa dengan pemakaian sumber energi tersebut tidak membuka peluang eksploitasi lahan yang lebih ekstrim. adakah yang tahu bahan apa yang dipakai untuk membuat solar cell? jangan eksplorasi bahan untuk membuat solar cell justru bisa membuka peluang pengrusakan bumi yang lebih besar?
Setidak dengan ditemukannya bahan-bahan yang lebih friendly dengan lingkungan bisa menghembuskan sedikit kegembiraan bagi lingkungan, bahwa manusia sudah lebih aktif memikirkan dampak negatif dari energi yang mereka gunakan dan selalu mencoba mencari terobosan-terobosan baru yang lebih baik, meskipun disadari bahwa hal ini belumlah sempurna.
November 29th, 2007 at 8:58 pm
Saya setuju sekali dengan kemungkinan bahwa spertinya bahan-bahan tersebut berbahaya bagi lingkungan setelah masa pakainya habis. Bahan yang digunakan, katanya dari Silicone, atau Polycristalline (film tipis berbahan dasar Cadmium dan Indium). Juga proses produksinya membutuhkan energi yang besar…dan energi besar pastinya dihasilkan dari bahan bakar minyak. Sepertinya memang manusia ini berputar-putar disitu saja sulit keluar dari lingkaran pengrusakkan lingkungan. Sebnarnya komen saya di artikel ini juga tidak pada tempatnya..karena saya membacanya terlalu cepat dan dikepala saya sedang dipenuhi fenomena pembukaan lahan untuk industri sawit…:). Penggunaan bahan yang tak terpakai seperti jelantah sangat positif, untuk mengurangi ketergantungan thd BBM fosil. Terima kasih atas masukkannya. Salam!
December 3rd, 2007 at 12:28 pm
melihat siklus eksistensi manusia dan pengrusakan alam memang ibarat telur dan ayam. Sulit dirunut ujung urai-nya yang benar-benar bisa menyelesaikan secara sempurna. Akhirnya kita hanya boleh berlapang dada saja dan mencoba untuk tetap peduli dan berbuat sekecil apa pun untuk lingkungan mulai dari diri kita sendiri. Terkadang memang susah untuk meredam rasa marah yang kita punya. Sebenarnya kenapa sih mereka begitu serakah? Pembukaan lahan kelapa sawit benar-benar duri yang pantas kita cegah bersama-sama. Setidaknya kalau pun kita tidak berdaya apa-apa, kita bisa berdoa bersama agar Tuhan membuka kesadaran para pelakunya. Akhir kata, tetep kompak buat kita dan salam lestari bagi alam kita. Cheers.
December 3rd, 2007 at 8:02 pm
Ya..sepertinya yang bisa kita lakukan hanya memperlambat saja…
March 2nd, 2008 at 9:15 pm
Dear Bp. Hasim Hanafie,
Saya mohon beberapa informasi berkenaan dengan mesin biodiesel jelantah :
1. Informasi harga & spec mesin biodiesel untuk skala rumahan.
2. Kapasitas produksi per hari.
3. Luas bangunan yang dibutuhkan.
4. Apakah ada pelatihannya ?
5. Apa saja biaya maintenance mesin ?
6. Analisa bisnis & perijinannya.
Terima kasih,
Soenardjo
March 3rd, 2008 at 1:21 pm
salam pak Soenardjo, menurut saya sebaiknya pertanyaan Anda bapak tujukan langsung saja ke hasim-hanafie@theheritage.or.id atau ke telpon 0816 112 6264.
Solanya kalau lewat sini saya tidak yakin pak Hanafie bisa segera mengetauinya.
March 16th, 2008 at 8:34 pm
kalau mesin disel memang bandel jadi jangan heran kalau diisi bio disel dari minyak jelantah,sejarah penemuan mesin disel pada waktu pertama kali mesin disel ditemukan bahan bakarnya bukan minyak solar tapi dari minyak nabati/minyak kacang,solar dicampur langsung dengan jelantah juga bisa asal endapan bekas gorengan sudah disaring
December 17th, 2008 at 10:05 am
berapakah dana yang dibutuhkan untuk usaha mesin pemrosesannya saja ?