Sewaktu aku meliput kekeringan di Kabupaten Wonogiri, nggak terbayangkan di daerah yang terkenal dengan Waduk Gajah Mungkur-nya itu ternyata masih ada saja daerah yang kekurangan air. Terutama kehidupan di Kecamatan Parang Gupito, Kabupaten Wonogiri yang berada di sebelah selatan mentok dan berbatas langsung dengan Australia semakin sulit di musim kemarau ini. Warga kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dikarenakan sumber mata air yang ada telah mati.
Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, satu-satunya cara adalah dengan membeli air dari daerah lain. Namun jangan dipikir harga air itu murah, karena untuk membeli air 1 tangki dengan kapasitas 4000 liter, warga harus membelinya dengan harga 100.000-120.000 rupiah, itu belum termasuk ongkos antar.
Bila dikalkulasikan secara ilmiah (ceilee,..) kebutuhan air bersih manusia perharinya adalah 150 liter/perhari/orang (menurut standar PDAM kota Solo). Padahal Kota Solo tidak ada persawahan atau ladang yang butuh pengairan.
Standar di Kecamatan Parang Gupito, 4000 liter tersebut bisa digunakan untuk 1 orang dalam 2 bulan. Tetapi kalau dimasukkan unsur keluarga, ternak dan ladang apa itu cukup? Paling-paling 4000 liter untuk 1 minggu aja.
Nah, yang menjadi masalah lagi adalah tingkat perekonomian dan pendapatan dari warga ternyata masih rendah. Karena tidak adanya pengairan yang lancar, sebagian besar mata pencarian warga adalah berladang. Dan hasil dari ladang tersebut ga selalu pasti, naik turun ga karuan. Dan yang pasti tidak bisa diharapkan untuk dijadikan modal membeli air.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, selama musim kemarau ini sudah banyak warga yang terpaksa menjual ternaknya. 1 ekor kambing dijual dan dibelikan 2 tangki air bersih. (Itu bagi yang punya ternak lho). Bagi warga yang nggak punya ternak, terpaksa harus membeli secara eceran. Untuk 1 pikul air bersih (sekitar 50 liter) dibeli dengan harga 4000 rupiah.
Bantuan dari Pemerintah Daerah Wonogiri sih udah ada, tapi nggak mencukupi. Bantuan air diberikan 1 kali tiap 2 minggu. Setiap kepala keluarga diberi jatah 20 liter.
NB:
Memasuki musim penghujan ini, Pemerintah Provensi justru berencana membuat hujan buatan dan akhirnya ditolak mentah-mentah oleh Bupati Wonogiri dengan alasan “Lah Yo Wis Telat To…“









