Masih teringat ketika AS menolak menandatangani protocol Kyoto 1997 di Jepang bersama Australia karena ketakutan perekonomiannya hancur apabila penggunaan bahan bakar fosil dikurangi. Yang uniknya, dalam forum pertemuan APEC (Asia-Pasific Economic Corporation) di Sidney sudah berlalu. Kini, Negara AS, Inggris dan Australia secara massif menyalahkan bahwa perubahan iklim akibat dari pegundulan hutan yang menyebabkan pemanasan global. Milyaran dollar pun siap untuk dikeluarkan untuk pertemuan dan penelitian termasuk pertemuan COP 13 di Bali. Ada apa dengan AS ribut-ribut soal dibalik pemanasan global?
AS tercatat merupakan negara terbesar penyumbang gas rumah kaca diikuti Rusia, Jepang, Jerman, Kanada, Inggris. Kini AS ngotot agar negara-negara seperti Indonesia harus memulihkan kembali hutannya. Bantuan pun mulai di luncurkan untuk memulihkan hutan Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatera, namun tetap saja AS tidak bakal berkomitmen untuk mengurangi emisinya agar perekonomiannya tetap stabil.
Untuk mengatasi pemanasan global dibutuhkan komitmen yang tinggi dari negara utara dan selatan baik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca juga memulihkan hutan kembali. Seharusnya pemerintah menolak apa yang diinginkan AS dan Australia untuk memulihkan hutan Indonesia. Negara ini pun bisa untuk memulihkan hutan kembali tanpa harus ada bantuan dari pihak asing.
Dampak dari pemanasan global terjadi di negara-negara berkembang yang tidak banyak menyumbangkan emisinya. Seperti negara Burma, Vietnam, termasuk Indonesia bakal terendam oleh permukaan laut. Ironis memang.
Mari kita tegaskan tolak pertemuan di Bali dengan AS dan Australia, apabila pertemuan menguntungkan Negara Utara sebagai penyumbang emisi gas karbondoiksida terbesar.
Selain itu, krisis lingkungan dan bencana yang berkepanjangan akibat dari kepentingan negara utara berdampak pada konflik kekerasan terhadap negara selatan. Thomas Homer-Dixon (On the Thresold Environment Changes a Causes of Acute Conflict) ada enam tipe perubahan lingkungan yang diidentifasikasikan sebagai penyebab langsung munculnya konflik kekerasan antar-kelompok. Keenam perubahan lingkungan itu adalah 1) Perubahan iklim yang disebabkan oleh efek rumah kaca, 2) Deplesi lapisan ozon, 3) Berkrang dan melenyapnya tanah pertanian yang subur, 4) Penebangan dan pegundulan hutan, 5) Deplesi dan polusi pasokan air bersih, dan 6) deplesi perikanan.
Mari kita melihat dari segi prespektif ekologi. Buktinya, AS dan Iran berkonflik. Selama ini orang mengira mereka konflik politik. Namun AS dan Iran berkonflik karena Iran lebih canggih mengatasi permasalahan krisis energi beralih ke tenaga nuklir yang tidak berdampak pada pemanasan global. Meski nuklir terlalu bahaya, namun lebih bahaya lagi adalah gas rumah kaca yang bisa menghancurkan bumi dan penduduknya.
Oleh Karena itu, tumbuhnya budaya kekerasan memiliki hubungan kausalitas yang erat dengan krisis lingkungan seperti polusi, peningkatan suhu bumi, dan menipisnya sumber daya alam. Polusi menimbulkan masalah yang harus dipikul bersama seluruh penduduk bumi.
Leave a Reply
3 Responses to “Intervensi AS COP 13 Bali Semakin Kuat” |
Related Posts |










November 26th, 2007 at 5:08 am
Pertemuan COP 13 di Bali hanyalah rutinitas kesepakatan negara-negara digdaya yang mempercepat kehancuran lingkungan dengan mengatasnamakan penyelamatan lingkungan, terbukti dengan tidak konsistennya kesepakatan protokol Kyoto. dan… TOLAK… Pertemuan COP 13 di Bali.
December 3rd, 2007 at 8:11 am
katanya mengatasi, realita mempercepat kerusakan lingkungan…
October 15th, 2008 at 1:51 pm
amerika negara licik