Boleh jadi, Sariban adalah pejuang dan pahlawan masa kini dari kota Bandung. Kemolekan di masa lalu adalah yang menjadikan kota ini mendapat julukan Parijs Van Java. Namun sayang, seiring perkembangan zaman, wajah Bandung berubah banyak, terutama sampah. Dan Sariban pun tidak tinggal diam.
Bandung kini menjadi lautan sampah. Di antara kerumitan persoalan sampah yang dihadapi kota yang berpenduduk 2,5 juta jiwa ini dan sosok Sariban. Setiap hari, petugas kebersihan yang dengan gaya nyentrik ini, berorasi dengan toa di pinggir jalan. Inilah pekerjaan sehari-hari Sariban. Memberi penyuluhan kebersihan kepada warga Bandung.
Ketika masih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, yakni di RS Mata Cicendo Bandung, Sariban rutin berkeliling menggunakan sepeda, membersihkan jalan dan berorasi. Sepanjang jalan dari rumah hingga kantornya. Ini dilakoni Sariban setiap hari selama 24 tahun. Memasuki masa pensiun pada tahun 2000, Sariban tetap melakukan aktivitasnya. Meski tanpa dibayar. “Saya melakukan ini dengan ikhlas dan ridho. Itu panggilan alam dari Allah SWT. Karena alam semesta ini khan ciptaan Allah SWT. Itu siapa kalo tidak dipelihara oleh kita-kita ini semua. Begitu!” jawabnya ketika ditanyakan perihal aktivitasnya.
Mencabut Paku
Kota Bandung memiliki banyak pohon tua. Pohon-pohon tersebut memiliki fungsi sebagai penyedia udara bersih. Sayangnya, pohon sering disalah fungsikan sebagai tempat menempel pamflet, spanduk, atau iklan. Dan untuk menempelkan ini semua digunakan paku. Paku yang menempel di pohon-pohon itu seakan-akan ikut tertancap pula di hati Sariban. Saribanpun rutin mencabuti paku-paku yang terlanjur menempel di batang pohon.

Ketekunan pria berusia 64 tahun ini mencabuti paku memang luar biasa. Dari upayanya ini, Sariban berhasil mengumpulkan 14 karung paku dengan bobot kurang lebih satu ton. Paku-paku ini sengaja ia kumpulkan dan tidak dijual. Sebagai bukti bahwa dirinya telah membantu merawat pohon-pohon yang ada di kota Bandung. “Kalo nikmat jelas tidak. Tapi meskipun kita tidak merasakan nikmat kita melakukannya seneng aja. Kenapa? kalo kita melihat yang kotor, disapu supaya bersih itu khan yang merasa bukan Sariban sendiri, itu orang banyak warga kota Bandung,” jelas pria yang tinggal di Jln. Terusan Cikutra Barat, RT 05/RW 20 Cikondang Kec. Coblong Kota Bandung ini.
Penghargaan
Sariban menerima banyak penghargaan, di antaranya penghargaan sebagai penyuluh kebersihan dan pengabdi lingkungan yang datang dari pemerintah daerah dan pusat. Bagi pria asal Magetan, Jawa Timur ini, penghargaan bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan Kota Bandung yang bersih, indah, dan sejuk.
Sariban hanya satu dari 2,5 juta jiwa penduduk kota Bandung yang ikhlas mendedikasikan dirinya pada lingkungan. Melaksanakan tanggung jawab yang begitu besar. Bahkan melampaui apa yang sudah bukan kewajibannya. Meski usia sudah tidak muda lagi, Sariban bertekad akan terus menjaga kebersihan kita dan merawat pohon. Sariban, sosok bersahaja yang dengan caranya sendiri, membuka mata kita arti dedikasi tanpa batas.
Siapa yang mau menjadi Sariban?
Foto-foto: Pikiran Rakyat









