Beberapa hari kemarin (24-29 Sept 2007) Harian Kompas menurunkan berita mengenai rusaknya lingkungan di Indonesia raya tercinta ini. Tentang deforestasi di Kalimantan yang mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Harian tersebut membicarakan tentang pembalakan liar yang terjadi di mana-mana di seantero hutan di negeri kita. Pada waktu yang sama, SBY menghadiri konferensi Penanggulangan Perubahan Iklim di markas PBB di New York. Beritanya bisa dibaca di sini.
Yang jadi pikiran saya adalah, bagaimana sih seandainya laju hutan yang digunduli semakin pesat, pencemaran sungai, lingkungan semakin dahsyat, terus apa akibatnya bagi saya dan mungkin nantinya anak saya, dan cucu-cucu kita sekalian???
Saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman yang sekaligus adalah guru yoga saya. Dia bilang bahwa kejadian seperti ini pernah dialami bumi ini ribuan tahun lalu. Dan secara teologis sudah pernah dibahas mengenai banjir besar yang dialami oleh Nabi Nuh.
Dia berpendapat bahwa, banjir besar yg terjadi kala itu akibat keteledoran manusia yang tidak bisa menjaga alamnya. Jadi si bumi dan segala isinya ini punya limitasi daya tahan terhadap semua penghancuran kepada dirinya. Kalo limit itu terlewati maka dia akan bereaksi untuk mengembalikan keadaan tubuhnya seperti semula.
Caranya adalah mungkin dengan ‘mengurangi’ isi penghuninya melalui banjir dan perubahan alam yang ekstrim. Jadi pada saatnya nanti ketika limit itu udah lewat akan muncul banjir besar yang sangat dahsyat yang bisa menyapu sebagian besar kita. Nanti setelah itu terjadi, si bumi ini akan memperbaharui dirinya sendiri. Hutan tumbuh lagi, udara bersih lagi, semacam ‘reset’-lah
Sudah tugas kita sebenernya untuk menjaga bumi ini dengan baik sehingga dia tidak perlu me-’reset’ dirinya. Kalo itu terjadi hiiii, takut…









