Beberapa hari yang lalu, saya dipinjemin compact disk (cd) oleh temen saya. Tepatnya cd-nya saya ambil dengan rada merebut. hehehe
Sebuah cd dengan nama band Satellite Party. Ra ngetop kan?
Salah satu anggota band tersebut adalah Nuno Bettencourt, gitaris Extreme yang lagunya More Than Words menjadi lagu wajib kalo orang pegang gitar akustik. Infonya bisa dilihat di www.satelliteparty.com.
Di belakang cd tersebut ada sebaris kata-kata yang membuat saya terkaget kaget:
” this cd is carbon neutral.The estimated CO2 produced from the manufacturing, shipping and packaging has been offset by helping to build renewable energy project with native energy”
Yang artinya kira-kira begini; “CD yg diproduksi ini tidak mengandung carbon. Jumlah CO2 yang dihasilkan dari proses manufaktur, pengiriman dan pengepakan telah diimbangi dengan mendonasikan sejumlah dana kepada proyek energi yang terbarukan, yang di organisir oleh native energy.
Eh, ini sesuatu yang mungkin belum terpikirkan di negara kita yang gemah ripah loh jinawi ini. Tapi jujur ini juga yg pertama saya lihat dari sekian banyak artis bule yang saya punya cd-nya…
Kepedulian semacam ini yang mungkin bisa semakin memperbaiki alam kita yang semakin berat menampung kehidupan manusianya yang semakin banyak ini… Ini juga bisa menjadi contoh bahwa kita bisa melakukan sesuatu bagi alam kita tanpa perlu kita menjadi aktivis lingkungan atau pecinta alam yang ke mana-mana pake sepatu boots, naik gunung sana sini, rafting, manjat dinding.
Semoga bisa menjadi contoh…
Leave a Reply
One Response to “Musik dan Peduli” |
Related Posts |










November 23rd, 2007 at 2:04 pm
Cah Bagus, gagasan bagus! Namun, agar lebih nyata, barangkali hukum jenjang kebutuhannya Maslow mesti dipenuhi dulu: untuk ber-”tepa slira”, manusia harus dalam keadaan kenyang. Nasib kita jelas lebih menderita daripada bule, tapi masih dibebani untuk turut mengurangi “bau busuk” di planet bumi hasil “kentut” orang-orang bule, dengan tidak boleh ikut-ikutan “kentut”. Kita tidak boleh “makan” supaya tidak ada bahan penghasil “kentut” yang baru. Ya, nggak adil!!! Emangnya, kita bangsa pemulung apa?
Langkah pemecahan yang adil, barangkali adalah: [1] orang bule dilarang kentut lagi, [2] kita masih boleh makan dan kentut sepuas-puasnya sampai kita sekenyang orang bule, [3] dalam keadaan sama-sama kenyang, bolehlah kita dan orang bule berspakat untuk mengurangi kentut.
Tambahan lagi, label-label CD peduli lingkungan seperti itu sih bisa jadi hanya “omong kosong”, supaya laku! Apalagi kampanye anti pemanasan global dan ngeseks pakai kondom sedang populer di MTV. Coba sesekali langsung berinteraksi dengan artist-artist bule tersebut (plus produsernya). Amati perilaku mereka sehari-hari: apakah peduli atau tidak teradap lingkungan hidup? Lumayan bisa jadi thesis baru. Terakhir, lihat saja Oom Roy Marten, habis kampanye malah make! Buka dulu topeng mereka Cah Bagus, termasuk topengnya Ariel & Peter Pan.