<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.1.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Musik dan Peduli</title>
	<link>http://beritahabitat.net/2007/09/19/musik-dan-peduli/</link>
	<description>Portal Lingkungan Hidup Kita</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 02:42:34 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.1.3</generator>

	<item>
		<title>By: Aryo Panji Lintang</title>
		<link>http://beritahabitat.net/2007/09/19/musik-dan-peduli/#comment-89</link>
		<author>Aryo Panji Lintang</author>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 07:04:19 +0000</pubDate>
		<guid>http://beritahabitat.net/2007/09/19/musik-dan-peduli/#comment-89</guid>
					<description>Cah Bagus, gagasan bagus! Namun, agar lebih nyata, barangkali hukum jenjang kebutuhannya Maslow mesti dipenuhi dulu: untuk ber-"tepa slira", manusia harus dalam keadaan kenyang. Nasib kita jelas lebih menderita daripada bule, tapi masih dibebani untuk turut mengurangi "bau busuk" di planet bumi hasil "kentut" orang-orang bule, dengan tidak boleh ikut-ikutan "kentut". Kita tidak boleh "makan" supaya tidak ada bahan penghasil "kentut" yang baru. Ya, nggak adil!!!  Emangnya, kita bangsa pemulung apa?

Langkah pemecahan yang adil, barangkali adalah: [1] orang bule dilarang kentut lagi, [2] kita masih boleh makan dan kentut sepuas-puasnya sampai kita sekenyang orang bule, [3] dalam keadaan sama-sama kenyang, bolehlah kita dan orang bule berspakat untuk mengurangi kentut.

Tambahan lagi, label-label CD peduli lingkungan seperti itu sih bisa jadi hanya "omong kosong", supaya laku! Apalagi kampanye anti pemanasan global dan ngeseks pakai kondom sedang populer di MTV. Coba sesekali langsung berinteraksi dengan artist-artist bule tersebut (plus produsernya). Amati perilaku mereka sehari-hari: apakah peduli atau tidak teradap lingkungan hidup?  Lumayan bisa jadi thesis baru.  Terakhir, lihat saja Oom Roy Marten, habis kampanye malah make! Buka dulu topeng mereka Cah Bagus, termasuk topengnya Ariel &#38; Peter Pan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Cah Bagus, gagasan bagus! Namun, agar lebih nyata, barangkali hukum jenjang kebutuhannya Maslow mesti dipenuhi dulu: untuk ber-&#8221;tepa slira&#8221;, manusia harus dalam keadaan kenyang. Nasib kita jelas lebih menderita daripada bule, tapi masih dibebani untuk turut mengurangi &#8220;bau busuk&#8221; di planet bumi hasil &#8220;kentut&#8221; orang-orang bule, dengan tidak boleh ikut-ikutan &#8220;kentut&#8221;. Kita tidak boleh &#8220;makan&#8221; supaya tidak ada bahan penghasil &#8220;kentut&#8221; yang baru. Ya, nggak adil!!!  Emangnya, kita bangsa pemulung apa?</p>
<p>Langkah pemecahan yang adil, barangkali adalah: [1] orang bule dilarang kentut lagi, [2] kita masih boleh makan dan kentut sepuas-puasnya sampai kita sekenyang orang bule, [3] dalam keadaan sama-sama kenyang, bolehlah kita dan orang bule berspakat untuk mengurangi kentut.</p>
<p>Tambahan lagi, label-label CD peduli lingkungan seperti itu sih bisa jadi hanya &#8220;omong kosong&#8221;, supaya laku! Apalagi kampanye anti pemanasan global dan ngeseks pakai kondom sedang populer di MTV. Coba sesekali langsung berinteraksi dengan artist-artist bule tersebut (plus produsernya). Amati perilaku mereka sehari-hari: apakah peduli atau tidak teradap lingkungan hidup?  Lumayan bisa jadi thesis baru.  Terakhir, lihat saja Oom Roy Marten, habis kampanye malah make! Buka dulu topeng mereka Cah Bagus, termasuk topengnya Ariel &amp; Peter Pan.</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
