Perlahan dunia semakin mengerti tentang pengaruh dampak dari global warming. Badai dan anomali iklim dunia bakal menyerang negara-negara Eropa dan sekitarnya. Belum lama badai topan Felix kembali landing menuju kawasan Amerika Tengah. Namun meski melemah menjadi kategori empat, dengan semangatnya Felix menguat menjadi kategori lima ketika mendarat di Honduras dan Nikaragua. Kekuatan Felix yang membawa angin dengan kecepatan hingga 260 kilometer per jam. Meski Felix pernah membuat trauma warga Honduraz dan Nikaragua akan penyerangan topan Mitch yang membunuh 10.000 orang di Amerika Tengah pada 1998.
Permasalahan lingkungan hidup di abad ini adalah permasalahan yang urgen ketimbang permasalahan kebijakan ekonomi dan politik. Terbukti pertumbuhan ekonomi dan politik bukan penyelamat dunia. Negara-negara seperti AS, Australia menginginkan agar forum APEC kali ini memasukan isu perubahan iklim sebagai salah satu agenda. Dalam usulannya, mereka meminta agar para anggota APEC meningkatkan luas hutannya sekurang-kurangnya sebesar 20 juta hektar pada 2020. Kemudian mereka juga meminta pengurangan intensitas pemakaian energi hingga 25% pada 2030. Meski usulannya ditolak oleh beberapa negara dengan alasan bahwa forum APEC merupakan forum ekonomi (Sindo, Rabu, 05/09/2007).
Di samping itu, dalam sela-sela forum APEC pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bakal melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden AS George W Bush. Meski tidak mengetahui agenda apa yang harus di bicarakan. Sementara itu, negara Indonesia memang tidak hanya kaya akan alam namun kaya akan lahan yang kosong dan ini juga mengundang negara Israel berencana menanamkan invenstasi dengan nilai USD 700 juta atau 6 triliun lebih untuk pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel dengan perusahaan budi daya tanaman jarak pagar (jatropha curcas) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Indopos, Selasa, 04/09/2007).
Yang lebih mengenaskan Israel juga berencana masuk ke bisnis kilang minyak. Siap-siap saja Indonesia hutan dan lingkungan hidup bakal terjajah oleh negara adidaya. Modal adalah kekuatan, kekuatan melahirkan kekuasaan, dengan kekuasaan menciptakan hukumnya sendiri. Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin tertarik dengan alam Indonesia. Ia mengatakan bahwa jumlah orang Rusia terus bertambah. Mereka ingin membuka diri untuk alam dan kebudayaan Indonesia yang unik dan cukup beragam. (Sindo, Rabu, 05/09/2007)
Dalam tulisan ini penulis bukan berarti pesimis, namun apa yang harus di jual oleh Indonesia selain alam dan hutannya yang lebat dan keanekaragaman hayatinya? Apakah teknologinya, dan yang lainnya. Investasi adalah jargon untuk menumbuhkan perekonomian negara sedang berkembang, terutama negara Indonesia. Bangsa ini tidak boleh sombong dan bangga ketika menjual hasil alam, seperti emas, minyak, gas, satwa liarnya. Yang seharusnya kita melindungi alam Indonesia, malah menjualnya demi keuntungan pertumbuhan ekonomi semata.
Data yang dikeluarkan Greenpeace mengatakan, bahwa sebanyak 72 persen hutan asli Indonesia, telah musnah. Kemudian, setengah wilayah hutan yang masih ada, tengah dalam kondisi terancam karena penebangan komersial, kebakaran hutan dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit. Tidak salah kalau Greenpeace pernah mengusulkan penghargaan kepada Indonesia, sebagai pemegang rekor dunia negara penghancur hutan tercepat.
Leave a Reply
2 Responses to “Negara Barat Sibuk Menyelamatkan Alam Indonesia” |
Related Posts
|










September 17th, 2007 at 5:19 pm
global warming jadikan iti sebuah basic yang bisa dijadikan hal yang memamng sekarang jadi masalah besar, jangan jadukan issue yang sekedar issue,
dunia kita udah makin panas, bayangin dan igat saja suhu sekarang dan 10-15 tahun yang lalu dan 10-15 tahun yang akan datang
kalo bisa jangan banyak berharap pada instansi pemerintahan gak bisa diharapkan
March 10th, 2010 at 9:40 am
Enjoy reading this, thank you:)