“Pacarku yang dulu orangnya suka nyampah, buka jendela mobil, dan werrrr, dibuanglah tisyu ke luar mobil. Itu salah satu alasan kenapa aku mutusin dia…” Saya sedikit terkaget ketika seorang teman tiba-tiba bicara seperti itu.
Potongan percakapan kami terjadi dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempat komputer. Padahal mantan pacar teman saya ini orangnya cuantik, tinggi, putih, profesinya model, anak orang kaya, pokoknya dari luar kesannya ideal. Kelakuan membuang sampah itu bikin teman saya “ill feel“.
Menyampah atau buang sampah sembarangan adalah salah satu sifat orang yang nggak saya sukai. Membuang sampah pada tempatnya menurut saya bukanlah sesuatu yang sulit, dan berat dilakukan.
Selain itu, suatu ketika saya menunggu seorang teman keluar dari supermarket, sembari menunggu dia antri, saya duduk di bangku panjang di depan supermarket 3 lantai yang katanya terbesar di DIY itu. Di antara banyak orang itu ada sepasang muda-mudi, laki dan perempuan. Perempuannya cukup cantik, berkulit putih, dan sedang memakan sebuah roti. Setelah rotinya habis, bungkusnya dilipat lipat dan bukannya dimasukkan ke tong sampah, tapi eeee… malah diselipin di kursi panjang tempat saya duduk.
Herannya lagi, si cowoknya malah ikutan ketawa-ketawa aja, seakan nggak ada yang salah. Heran, heran….
Di sebelah kampus saya di UGM, ada sebuah kantin di mana banyak nongkrong para mahasiswa pecinta alam. Dan di dekat mereka nongkrong ada satu tulisan yang saya ingat terus sampai sekarang, “Bumi adalah emakmu…”
Arti yang saya tangkap dari tulisan yg berkesan guyonan itu adalah: “Sayangi bumi ini, karena dia adalah tempat di mana semuanya berasal. Sayangi dia seperti kita menyayangi ibu kita sendiri. Jadi, jangan menyampah karena berarti kita mengotori ibu kita sendiri…”
Mencoba menjadi orang yang tidak menyampah sembarangan ternyata sulit juga, saat saya ngantongin kertas atau tas plastik untuk dibuang di rumah, banyak yang ngejekin begini, “Waaaahhh, anaknya Ully Sigar Rusadi nich, Pendekar Lingkungan…”
Tapi emang hidup bersih, dan konsisten dengan hal tersebut adalah dijadikan budaya. Kalo kita tidak pernah membiasakan dengan hal itu, sulit untuk menerapkannya dalam setiap langkah kehidupan kita. Ya, dari hal yang sederhana saja, tidak sembarang nyampah!
Leave a Reply
One Response to “Nyampah!” |
Related Posts |










March 11th, 2008 at 11:30 am
maju terus…
no matter what they say!!!