•  19 August 2008 Sekilas Tentang Children Voices on The Indonesian Environment   ::  
  •  8 August 2008 Buletin Anak KEJORA   ::  
  •  6 August 2008 CHILDREN VOICES ON THE INDONESIAN ENVIRONMENT   ::  
  •  1 August 2008 Lowongan Staf Pengembangan Informasi dan Dokumentasi - HuMa   ::  
  •  31 July 2008 Pekarangan Rumah sebagai Alternatif Penangkaran Tanaman Obat Indonesia   ::  
  • Quo Vadis Pencinta Alam    Print This Post   Email This Post

    August 1st, 2007 | Oleh Lutfi Pratomo

    Oleh: Lutfi Pratomo

    Seiring waktu berjalan tak terasa rasa mencintai alam tercetak oleh budaya instans. Kita bisa melihat televisi dengan aneka program yang berkaitan dengan dunia petualang tanpa harus menjadi pelaku di dalamnya. Tentu dampaknya terjadi pada organisasi pencinta alam yang era tahun 60-70-an cukup beken.

    Namun, dewasa ini makna dari konotasi pencinta alam hanya sloganisasi bagi mereka yang senang berpetualang. Mereka dengan bangganya mendaki Cartenz Pyramid sementara hutan di Kalimantan habis terkikis oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Tidak hanya itu, Mount Everest pun siap di daki dengan menelan biaya yang cukup mahal sementara budaya dan kearifan lokal hilang satu persatu. Hutan pun gundul, air sungai pun tercemar, polusi udara semakin hari kian melonjak yang akibatnya penggunaan CFC / Freon terus bertambah berdampak pada menipisnya ozon.

    Apa kita harus kembali refleksi memaknai arti kata pencinta alam atau kita hanya diam saja sambil menikmati presenter petualang yang cantik-cantik sambil minum kopi di televise-televisi swasta. Kode etik Pencinta Alam yang kerap kali dalam upacara dipuncak gunung, atau upacara sacral lainnya di bacakan bagaikan sebuah fosil yang usang. Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sibuk mencari funding untuk menyelamatkan hutan dan satwa-satwa liar meski harus menjual data kepada Negara pendonor. Tragis benar negeri ini berjibun pencinta alam baik dari organisasi kampus maupun freeland ternyata tak berani berunjuk gigi untuk membangkitkan semangat mencintai alam dengan mendata hutan, gunung dan memberikan kontribusi dengan ilmu kepencintaalaman kepada masyarakat yang terasing di bawah gunung, di dekat hutan.

    Masih ingat memori di kala pendidikan dasar kepencitaalaman kita siap di caci maki ala semi militer. Mengorbankan waktu seminggu untuk menumbuhkan rasa percaya diri terdidik oleh alam. Selain itu, kode etik pencinta alam kerap di bacakan seusai upacara pelantikan anggota-anggota baru. Namun, kedepannya masih membayang apakah mereka bakal aktif atau tidak sama sekali. Sementara program pengurus sibuk membuat plan dengan aksi adventure yang menantang andrenalin. Apa hanya dengan itu saja.

    Ironis sekali, yang seharusnya kita lebih aktif membela mereka – Masyarakat Lokal sekitar gunung, hutan ketika pohon gaharu di curi. Malah teronani oleh kepuasaan jiwa temporal dengan memanjat tebing layaknya atlit profesional. Sebenarnya ilmu kepencitaalaman yang kita miliki adalah untuk menyelamatkan alam, budaya kearifan local. Bukan untuk mencetak prestasi ketinggian atau bangga mengibarkan sang merah putih di puncak gunung atau tebing tertinggi. Percuma mengibarkan bendera sang merah putih sementara orang utan terus mencari perlindungan dari kita sebagai pencinta alam. Tidak heran hampir seluruh alam Indonesia di kuasai orang asing mulai dari konservasi orang hutan hingga harimau di Sumatra. Kemana mereka yang mengaku sang pencinta alam?

    Bencana alam adalah bukti ketidakpedulian bangsa ini akan keberadaan alam di sekitarnya. Datangnya bencana alam tidak semata-mata karena takdir Tuhan, melainkan akibat dari rasa apriori bangsa ini terhadap lingkungan sekitar. Tentu kita masih ingat bencana tsunami yang terjadi di Aceh (26 Desember 2004) dan pesisir pengandaran – Kebumen selatan Jawa (17 Juli 2006), dalam sekejap tsunami menelan ribuan nyawa. Gempa Yogyakarta dan sekitarnya 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter lebih dari 5.000 korban jiwa melayang. Belum lagi bencana banjir Jakarta 2007.

    Hal tersebut merupakan cambuk bagi aktifis pencinta alam. Sangat wajar sekali jaman sudah tidak memihak kepada organisator pencinta alam. Banyak dari mereka sedikit menutup organisasinya close corpus atau di biarkan mengambang begitu saja tanpa ada program yang jelas. Mari megutip teori Darwin dengan Survival Of Fittest yakni bukan yang eksklusiflah yang terkuat namun yang dinamis untuk mempertahankan hidup. Para aktifis pencinta alam pun meloncat kepada permainan Outbound dengan begitulah aktifitas mereka mengekspresikan rasa petualangannya dengan instant.

    Bagi organisasi pencinta yang masih eksis dan tetap pada penyelamatan lingkungan hidup sebagai visi dan utama perjuangan. Teruslah berjuang. Tidak ada kata terlambat untuk kembali bangkit memperjuangkan alam dan satwa-satwa liar. Sedangkan aktifis pencinta alam yang senang adventure alangkah baiknya menyisipkan data yang berharga untuk kepentingan alam dan budaya sekitarnya meskipun sedikit. Toh itu juga merupakan perjuangan.

    Memang tidak mudah membalikan telapak tangan. Namun dengan keyakinan yang kuat bahwa pencinta alam di abad ini adalah pejuang seperti Chico Nendes di hutan Amazon tidak bisa kita pungkiri. Tentunya, kita sebagai anak bangsa tidak ingin alam kita yang kaya akan panorama, gas alam, gunung, laut, satwa langkanya, goa, sungai yang beriam, hutan, budaya yang beragam dikuasai oleh orang-orang asing yang mempunyai tujuan dengan alat sloganisasinya konservasionisme.

    Leave a Reply

     

    12 Responses to “Quo Vadis Pencinta Alam”

    1. pidskiey Says:

      Keren ni artikel..
      Meskipun emang menjadi hal yang kontroversial,,tapi si penulis berani untuk mengkritik pedas kultur kepencinta alaman kita yang harus diperbaiki..
      Mungkin saya juga termasuk adventure yang masih apatis dengan hal2 yang ditulis tadi,,namun ini juga menjadi satu cermin bagi saya untuk berbuat yang lebih baik..
      thanks.

    2. Ninil RM Says:

      Saya lama sekali bergaul di dunia kepencintaalaman, memperhatikan keresahan penulis - mari optimis saja. Semua ada masa “di atas - di bawah” kalau saat ini cenderung masih mendahulukan petualangan dari urusan earthspace scout nya… mari kita rumah sama-sama dengan intervensi pada DIKLAT nya. Sedini mungkin di penggodokan pertama anggota pecinta alam.

      Salam lestari,
      Ninil (Anggota Luar Biasa MPA WANALA - Univ.Airlangga Sby; anggota KIH Surabaya/Klub Indonesia Hijau Surabaya; konsultan program Pendidikan LH dan Konservasi)

    3. jack rimbawan Says:

      MANTAP fie, emang….gerakan pencinta alam sangat mandul’ taunya hanya adventure, apa pernah mereka berpikir,
      gw juga dulu aktivis pecinta alam, but…..ternyata gerakan kawan-kawan pecinta alam hanya sbatas retorika belaka, ada TWKM, ternyata yang dibahas 80 % cuman adventure, sisanya Temu Wanita Kenal Mabuk, sesi untuk gerakan lingkungan hanya sebatas di meja sidang, selebihnya awan kawan gak punya nyali buat gerakan yang lebih kongkrit, coba kalo dipikir dari ujung NAD samapai papu, ada Pecinta Alam , tapi mana gerakannya untuk Lingkungan!…MANDUL ” namanya aja pecinta ( Bercinta dialam)

    4. Yo Soeling Says:

      Ga harus jadi pecinta alam untuk mencintai alam, bukan banyaknya organisasi yang kita ikuti atau lamanya kita berkutat dalam bidang itu untuk tunjukan bahwa kita seorang pecinta alam, penikmat alam atau hanya sekedar cari uang melalui alam. Kepedulian pada alam bisa terlihat dari manifestasi hati yang perduli, yang kita tunjukan dalam hidup kita sehari-hari. kebanggaan pada status atau slogan yang menempel pada diri kita itu adalah hal yang manusiawi, tapi saat kita ga bisa tunjukan kekuatan dari slogan itu? its nothing.

    5. faz laode Says:

      kadang kala manusia adalah makhluk pelupa. begitu juga dengan pecinta alam, merekapun bisa jadi pelupa. lupa akan alam dinegri ini yang sudah rusak. lupa akan tumbuhan yang setiap detik memberikan sumber oksigen buat paru-paru kita. lupa dengan eksotis satwa yang memberikan sumber devisa negara. lupa dengan tebing-tebing alam yang menciptakan siapa. tapi yang membuat saya kagum rekan lutfi sebagai penulis dan pecinta alam tidak lupa mengkritisi jati diri alam semesta di mata para PECINTA ALAM.

    6. tri prayudhi Says:

      GERAKAN PENCITA ALAM

      Sebuah organisasi yang bisa dibilang sangat Potensi di indonesia! namun sayang lahirnya pecinta alam di Indonesia di awali dengan kegiatan ADVENTuRE, maklum saat itu lahirnya di era 60an arah gerakan sedikit bahkan sangat kuat unsur politik,dimana SUHARTO takut dengan namannya PKI, jadi lahirnya pecinta alam selalu identik dengan ADVENTURE,
      COba kalau lahirnya pecinta alam di INA dengan gerakan lingkungan seperti Greenpeace’ yang merupakan pembela lingkungan sejati! PASTI Indonesia tidak akan kehilangan hutan, tidak akan kehilangn satwa liarnya yang semakin banyak terancam punah!
      INTI AJI KOMENTAR SAYA!
      REFEKSIKAN SAJA KEmbali Kemana GERAKAN PENCINTA ALAM ‘ Kalu mau bicara lingkungan ya tinggalkan saja Dunia adventure ! kalu mau bicara adventure ya jangan pake NAMA pencinta alam ! PAKE aJA KELOMPOK PEMANJA DIDING, ATAU KELOMPOK PENDAKI GUNUNG, itu jelaskan, mau ngapain aja digunung gak malu lawong bukan pecinta alam!

    7. BIJe Says:

      Hormat saya untuk Anda…Nice degan kata pembuka anda dan itu kenyataan yg sangat-sangat nyata telah menyolok mata KITA.
      Lain hal kita perlu sadari bahwa kegiatan adventure yang sekarang menjamur merupakan merupakan alat bantu untuk Bertahan Hidup (SURVIVAL) dalam menghadapi perubahan nilai-nilai budaya global. Yakini masih banyak sepaham tapi tak tau mau kemana, bagaimana, kepada siapa bisa bicara….
      Tetapkan arah.. tetaplah melangkah .. Semoga keberhasilan ada didepan kita. sALAM.

    8. fahrie Says:

      Mencintai mestinya memberi tanpa mengharap kembali , tapi nyatanya katanya mencintai alam eh malah menikmati tanpa ada rasa ingin menjaga , apalagi melestarikan .salutlah untuk artikel ini .
      Banyak cara untuk mencintai,dan mencintai tak harus memiliki ,mencintai alam bukan ngacak - acak alam ….
      Banyak - banyak menanam pohon , jangan biarkan lahan kosong apalagi gundul , kurangi pengunaaan plastik dalam berbelanja …de el..el

    9. ihaka Says:

      ya mantab terus menulis untuk saling mengingatkan kita semua

      wasalam
      Ihaka

    10. Yudi Says:

      Sepaham…gerakan para PA skrang lebih menitik beratkan pada gunung yg tinggi, tebing yg terjal dan jeram2 yg liar, kita para PA harus menyadari khitah seorang PA bukan penikmat alam dgn memanfaatkan alam sebagai pemuas nafsu petualang..lebih baik menanam sepohon untuk anak cucu dr pada mendaki carstenz pyramid untuk obsesi prestise

    11. dogol Says:

      Wah,,,, seide banget tuh sama saya,,
      Memang kenyataanya begitu, memang berdasar pengamatan dan pengalaman, pecinta alam, khususnya para mahasiswa belum pernah terbukti ikut menyelamatkan alam, merusak mah iyaa,, saya dulu seorang penggiat alam terbuka tapi sekarang sadar, mencintai alam tidak mesti harus ke gunung dan hutan, banyak hal yang lebih urgen dari pada kita mengacak-acak hutan perawan. Dimana-mana terjadi banjir,, adakah pecinta alam yang peduli? salam…

    12. alul Says:

      Salut..
      sebenarnya esensi dari makna pencinta alam telah bergeser dari hakikatnya..
      ironis memang, semakin banyak muncul organisasi kepencintaalaman,semakin banyak pula sampah yang menumpuk di gunung,di hutan,di laut,bahkan di dalam gua skalipun..seakan memperkuat hipotesis bahwa organisasi pencintaalaman adalah organisasi yang menganut paham vandalisme, yang didalamnya berkumpullah manusia-manusia bebas ,yang beralibi menjaga,serta mempertahankan keharmonisan alam..
      padahal realita yang terjadi tidak seperti itu.sementara itu, paham2 kekerasan pun kerap dipergunakan untuk merekrut anggota dengan beralibi bahwa hal itu adalah syarat mutlak menjadi anggota sehingga kekerasan menjadi ciri khas yang sulit dilepaskan dalam tubuh organisasi kepencintaalaman.
      seakan menjadi ruh..

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 316 members
      • 157 guests
      • Last Update On
        20 August, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    •  
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It