Suara Pembaruan | BOGOR - Sebanyak 23 pemimpin pemerintahan kota (pemkot) menandatangi Deklarasi Bogor, yang isinya tentang kesediaan pemkot untuk melakukan kebijakan lokal mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), guna mengendalikan perubahan iklim akibat pemanasan global.
Dasar pemikiran Deklarasi Bogor itu, antara lain wilayah perkotaan memiliki aktivitas yang sangat besar dan berpotensi untuk menghasilkan emisi GRK dalam jumlah besar. Di samping itu, penggunaan energi di wilayah kota belum efisien, sehingga mengeluarkan emisi GRK, yang seharusnya tidak perlu.
Ke-23 pemkot itu, antara lain Kota Bogor, Banda Aceh, Surabaya, Balikpapan, Bandar Lampung, Depok, Medan, Makassar,Yogyakarta, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Tangerang, Bekasi, Cilegon, Bandung, Semarang, Pekanbaru, Banjarmasin, dan Bengkulu.
Deklarasi Bogor lahir pada “Semiloka Pola Pembangunan Kota dan Strategi Antisipasi Masalah Perubahan Iklim”, yang berlangsung Senin-Selasa (2-3/7) di Bogor.
Acara dihadiri sekitar 120 peserta, enam orang di antaranya dari Australia dan International Council for Local Environment Initiative (ICLE), yaitu sebuah LSM yang peduli terhadap lingkungan, antara lain dengan cara mengajak kota-kota di seluruh dunia untuk peduli kepada lingkungan.
Acara digelar oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Pemkot Bogor dan ICLE. Kota Bogor menjadi anggota ICLE sejak tahun 2001, dan sebagai anggota tetap tahun 2005.
Dalam deklarasi itu, para pemipimpin pemkot bertekad untuk mengupayakan pengurangan emisi GRK, mulai dari tingkat instansi, seperti kantor-kantor, komunitas warga, juga masyarakat luas.
“Kami juga bertekad meningkatkan efisiensi pemakaian energi, pemakaian energi terbarukan, penataan sistem transportasi yang asapnya menimbulan emisi GRK, serta penanganan sampah,” demikian isi deklarasi tersebut.
Sebagai tindak lanjut deklarasi, para pemimpin pemkot itu mengagendakan inventarisasi serta prediksi emisi GRK, menetapkan target pengurangan emisi GRK, membuat rencana pengurangan emisi GRK, serta melaksanakan kegiatan pengurangan emisi GRK. Akhirnya membuat laporan pengurangan emisi GRK.
Banyak Bencana
Pada semiloka itu dibahas tentang perubahan iklim global yang telah terbukti menimbulkan banyak bencana di dunia, seperti banjir, tanah longsor, dan musim dingin yang ekstrem di Eropa.
Selaian itu, ada prediksi yang mengerikan, seperti akan tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia, Tanjung Priok akan hilang, dan Cengkareng akan tenggelam tahun 2050.
“Kita sedang menghadapi masalah yang serius dalam hal perubahan cuaca. Masalah serius ini menjadi perhatian dari seluruh bangsa di dunia, yaitu dampak negatif yang ditimbulkan oleh perubahan iklim,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar ketika membuka semiloka ini.
Sementara Asisten Sosek Kota Bogor, Indra M Roesli, yang menjadi tuan rumah dan moderator dalam hari pertama mengungkapkan, 70 persen penduduk dunia ini tinggal di kota, sebagai tempat aktivitas paling besar menghasilkan emisi GRK.
“Jadi, jika 70 persen penduduk kota di dunia, di bawah wali kotanya bergerak mengurangi timbulnya GRK, itu berarti 70 persen penduduk dunia bergerak mengurangi emisi GRK,” katanya.
Pemahaman ini menjadi sangat penting, karena apa yang dilakukan pemkot akan berdampak kepada pemerintah pusat, dan akhirnya akan berdampak global. “Karena itu, dengan pertemuan ini, kami membangun pemahaman antarkota supaya kota-kota itu betul-betul yakin bahwa ada hal yang harus dikerjakan untuk mengurangi emisi GRK,” katanya.
Menurut Indra M Roesli, yang paling kentara adalah masalah pemakaian energi. Energi yang dipakai secara tidak efisien, selain boros juga memberikan kontribusi terhadap emisi GRK, seperti pemakaian listrik.
“Listrik yang kita pakai itu menggunakan pembangkit yang mempergunakan BBM. Pembangkit yang dipergunakan secara berlebih akan memakai BBM secara berlebihan juga. Efisiensi pemakaian listrik otomatis akan megurangi pemakaian BBM, yang berarti mengurangi emisi GRK,” katanya.
Tentang transporatsi, khusus Kota Bogor, pergantian moda angkuatan darat dari angkot ke bus tiga per empat, tak hanya berperan mengurangi kemacetan, melainkan juga mengurang emisi GRK. Emisi enam unit angkot itu sama dengan emisi satu unit bus tiga per empat.
Pemkot Bogor berencana mengganti 1.376 unit angkot dengan 459 unit bus tiga per empat hingga tahun 2015 mendatang.
“Saat ini, dengan beroperasinya 10 bus tiga per empat Trans Pakuan, bisa mengurangi emisi GRK sebesar 651.79 ton CO2 per tahun, atau kurang sampai 52,3 persen,” katanya. [HR/N-6]
Sumber berita: suarapembaruan.com
Leave a Reply
|
Related Posts |









