*Laporan Investigatif Eyes on the Forest Maret/April/Juni 2007
Eyes on the Forest, koalisi tiga LSM di Riau, meluncurkan Laporan Investigatif Maret/April/ Juni 2007 pada Senin (2 Juli 2007). Koalisi yang terdiri dari Jikalahari, WALHI Riau dan WWF tersebut menemukan keterlibatan Asia Pulp & Paper (APP) dalam operasi penebangan di sejumlah konsesi di blok hutan Giam Siak Kecil, Kampar Peninsula, dan Senepis, Riau.
Operasi-operasi yang dilakukan perusahaan tersebut diduga kuat illegal serta menghancurkan hutan bernilai konservasi tinggi (HCVF) yang potensial termasuk satu yang direkomendasikan oleh WWF kepada APP pada tahun 2003. Pembabatan hutan alam oleh APP untuk jalan penebangan menjadi satu ancaman terhadap habitat harimau Sumatera di blok Senepis yang diusulkan menjadi konservasi harimau oleh pemerintah setempat.
Afdhal Mahyuddin, EoF News Editor mengimbau dengan keras semua pemilik konsesi yang terlibat, PT Tiara Cahaya Delima, PT Arara Abadi dan PT Ruas Utama Jaya seperti juga halnya APP untuk segera menghentikan operasi penebangan dan pengambilan kayu guna mencegah penebangan hutan alam yang termasuk: (1) masih dalam kondisi bagus, serta (2) berada pada kedalaman lebih dari 3 m.

PT Tiara Cahaya Delima yang tergabung dengan APP sedang mengembangkan HTI di mana data resmi dari Dinas Kehutanan Riau menyatakan bahwa status konsesi dalam keadaan tidak aktif. PT Arara Abadi milik APP masih melakukan illegal logging di hutan alam Semenanjung Kampar tanpa memiliki izin penebangan. Pembangunan jalan pada lanskap kaya gambut itu akan memicu hilangnya cadangan karbon serta perubahan iklim.
APP menjadi ancaman bagi usulan konservasi Harimau Sumatera di blok Senepis sebagaimana pembangunan jalan yang sedang berlangsung sepanjang 45 km membelah hutan alam. EoF menemukan bahwa anak perusahaan APP ini telah membangun koridor yang mencapai 15 km saat ini.
EoF telah mengirimkan surat permohonan konfirmasi dari manajemen APP terkait dengan laporan investigative ini. Namun hingga saat ini, manajemen APP belum memberikan respon balik. EoF juga mengimbau keras APP untuk bekerja dengan LSM-LSM setempat guna melakukan assessment HCVF serta mendeliniasikan semua HCVF sebelum dilakukannya penebangan hutan alam di konsesi-konsesi PT Tiara Cahaya Delima, PT Arara Abadi, PT Ruas Utama Jaya, dan PT Suntara Gaja Pati. *)
Download: Laporan Investigatif Mar/Apr/Jun 2007
Sumber berita: www.eyesontheforest.or.id | Foto-foto © Eyes on the Forest
Leave a Reply
One Response to “Habitat Harimau di Riau Hancur” |
Related Posts |










May 22nd, 2008 at 10:09 pm
Tolong di lihat ada penyiksaan binatang di kebun binatang kubang, di pekanbaru Riau. biasanya para binatang di kerangkeng d sel yg sangat kecil. jangan hanya bisa mengkomesilkan saja!! Terimakasih