
Suatu sore yang indah (yang hanya datang beberapa kali setiap bulannya), saya mencoba meluangkan waktu untuk sekedar berkontemplasi. Inspirasi ini datang setelah hampir satu jam saya menyadari bahwa, artikel dalam
Kualitas hidup di lingkungan dewasa ini, telah sangat dalam memberikan teguran bahwa teknologi pembangunan memiliki sisi gelapnya sendiri-sendiri, apapun bentuknya. Percepatan perkembangan dan kemajuan teknologi selalu saja membuat manuasia semakin lupa akan kodratnya sebagai “sahabat” bagi alam. Akibatnya ekologi terancam, permasalahan semakin pelik, bencana terjadi dimana-mana.
Masyarakat layaknya sebuah mata uang, memiliki dua sisi. Sisi pertama telah lama berteriak mengajak untuk memulai perbaikan kualitas lingkungan, sampai-sampai suaranya menjadi parau. Sementara di satu sisi yang lainnya, justru semakin berlomba-lomba merusak.
Dalam dunia desain, khususnya aritektur, baik praktek maupun teori kehidupan urban seolah-olah telah menjadi kelinci-kelinci percobaan, bahan ekperimental, ajang eksplorasi. Pada kondisi ini saya memandang sebuah rancangan
Saya jadi ingat, sewaktu masa kuliah tingkat 2, sewaktu salah satu dosen kampus, memberikan satu referensi buku The Green Imperative : Natural Design for The Real World, karangan Victor Papanek. Di dalam buku tersebut, dijelaskan betapa seorang perancang yang baik idealnya memiliki kesadaran penuh untuk menciptakan karya yang tidak hanya sekedar bersifat empirik. Karena sebuah rancangan, apapun bentuknya akan mempengaruhi kehidupan banyak orang dalam satu periode tertentu. Dan dilihat dari sisi historis, tentunya kelak rancangan tersebut juga akan menjadi cerminan dari sebuah peradaban tertentu di masanya (masa di mana rancangan tersebut tercipta).
Di dalam buku yang lain (masih dari referensi dosen yang sama), saya mencoba mengingat-ingat inti dari sebuah buku Timeless Way of Building, karangan Christopher Alexander. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa seorang perancang idealnya dapat menciptakan sebuah bangunan yang tidak hanya memiliki bentuk yang estetis, melainkan juga memiliki jiwa, spirit inside. Pada akhirnya membuat saya berasumsi, itulah mengapa bangunan-bangunan pada jaman terdahulu, lebih memiliki arti, memiliki jiwa dan abadi, ikatan emosional yang tinggi. Tidak seperti saat ini, dimana modernisme telah membuang poin-poin penting dalam tahapan merancang, seperti yang telah dijelaskan oleh para dosen kuliah hingga mulutnya berbusa. Berapa bagian dari perancang-perancang jaman sekarang yang masih mengikuti etika dalam merancang??
Percepatan moderinisme berbanding terbalik dengan kesadaran para perancang. Tidak ada lagi jiwa dalam hasil rancangannya. Padahal hasil rancangan seorang perancang harusnya dapat menjadi terjemahan kondisi batin perancang tersebut.
Seperti argumen Sayyed Hossein Nasr dalam kutipan makalahnya yang berjudul The Contemporary Moslem and The Architectural Transformation of the Urban Enviroment of The Islamic World bahwa ”Lingkungan luar yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri tak lebih dari satu cerminan keadaan batinnya”. Sebuah desain lahir sebagai luapan emosi, karakter dan sifat-sifat dari perancangnya. Sehingga dapat dikatakan, dalam suatu waktu, desain tersebut akan menjadi identitas si perancang.
Tapi hakikat manusia sebagai makhluk sosial, kepuasan batin akan tercapai jika desainnya dapat bermanfaat bagi orang lain, dipergunakan oleh orang lain, oleh masyarakat luas. Perancang juga berasosiasi dengan banyak pihak untuk mewujudkan idenya. Eksplorasi konsep, bentuk, material, dan tahapan pembangunan merupakan proses penentu apakah sebuah hasil rancangan akan memberikan pengaruh baik atau justru sebaliknya membawa bencana bagi lingkungan sekitarnya.
Layaknya profesi kedokteran, dunia desain juga membutuhkan kode etik. Etika yang nantinya akan menjadi sebuah aturan main dalam merancang. Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) sudah cukup menaruh beban terhadap hal ini. Terbukti dengan selalu menjadikan Penataran Kode Etik sebagai salah satu agenda pada setiap pelantikan anggota-anggota barunya. Tetapi sekali lagi, seorang perancang, khususnya arsitek tidak pernah bekerja sendirian. Tapi setidaknya seorang perancang yang baik dapat menghasilkan hasil rancangan yang lebih bersahabat dengan alam. Sehingga alam dapat menyerukan kepada dunia untuk meniupkan angin perdamaian di seluruh penjuru dunia.
peace&out
Ira Sophia
architectureIinteriorIlandscapeIdesignconsultant
Members of Indonesian Architects Association (IAI)
Sumber gambar: www.commonsensedesign.com
Leave a Reply
2 Responses to “Etika Dalam Desain = Aturan Main?” |
Related Posts |








May 9th, 2007 at 4:12 pm
u absolutely got that right…
May 10th, 2007 at 10:45 am
Kini yang terjadi kita seringkali ikutan trend negara maju dengan mengadopsi teknologi dan mencoba meniru konsep pembangunan mereka tanpa mempedulikan potensi dan kondisi lokal. Padahal kita seharusnya mengembangkan gaya, pendekatan dan teknologi kita sendiri yang lebih pas dengan kita. di dalam negeripun kalau mau memperhatikan, keunikan nyaris tak pernah dianggap penting lagi. Konsep pembangunan kota misalnya, penginnya mau seperti Jakarta semua. Padahal konsepnya Jakarta juga tambal sulam. Semuanya pengin seragam. Mungkin juga akibat gempuran media global ya? Jadinya semua harus menuju sebuah garis yang sama.