
Telaga di desa Giri Suko Kecamatan panggang Gunung Kidul adalah salah satu telaga yang mengering airnya akibat kemarau berkepanjangan. Warga desa harus rela berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan air di desa sebelah atau rela mengeluarkan biaya untuk membeli air dari agen air. Di daerah “Krast” (dataran tinggi kapur) seperti Gunung Kidul, kekeringan merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi. Namun diakui warga desa setempat, musim kemarau pada tahun 2006 ini terbilang cukup lama. Banyak telaga-telaga yang menyusut debit airnya bahkan hingga mengering seperti yang terjadi di telaga desa Giri Suko. Harga air yang mencapai 120 ribu per tangki yang bisa di beli di agen air dirasa warga setempat cukup mahal. Pembuatn sumur-sumur bor tentunya akan sangat membantu warga Gunung Kidul untuk bisa mendapatkan pasokan air bersih sepanjang tahun.

Telaga “Toet” merupakan telaga di Gunung Kidul yang sepanjang musim kemarau sebelumnya masih menyisakan air yang bisa dimanfaatkan oleh warga setempat. Mandi dan mencuci merupakan aktivitas yang sangat umum ditemui di telaga-telaga di Gunung Kidul.
Foto dan teks oleh Soedhar. Pemotretan dilakukan pada 9 September 2006
Leave a Reply
4 Responses to “Kekeringan Melanda Gunung Kidul” |
Related Posts |










June 2nd, 2007 at 7:11 pm
mas, makin bagus apabila terdapat beberapa foto dalam berita ini.. selamat berkarya..
July 25th, 2007 at 11:44 am
Kekeringan di Gunung Kidul selalu mengundang perhatian baik pemerhati lingkungan, pemerintah maupun berbagai pihak yang dapat berpartisipasi didalam masalah kekeringan yang selalu melanda daerah ini. Bahkan beberapa lembaga nasional maupun international melirik kekeringan ini sebagai suatu advantage baik untuk jangka panjang maupun kepentingan sesaat, meskipun entry pointnya bisa bermacam-macam. Dengan demikian jika kita tidak jeli didalam menyikapi berbagai tawaran yang berdalih pengentasan kekeringan, maka manfaat yang diterima tidak akan sebanding dengan apa yang akan diterima oleh si pemberi manfaat, mengingat sampai dengan detik ini Indonesia masih terkenal di kancah perdagangan internasional dengan “kemurahan”nya dibidang Supply, dilain pihak terkenal potensial untuk kawasan pemasaran.
June 11th, 2008 at 3:12 pm
jika kekeringan/ketandusan di gunung kidul menjadi perhatian,, kenapa sampai sekarang belum ada tindakan dari pemerintah daerah/pusat unk mencari solusinya?? apa belum cukup dengan bunh diri 1 desa akibat kelaparan,akibat tidak ada yang bisa ditanam,, tidak ada yang bisa diharapkan lagi??
buat masyarakat gunung kidul,, jangan putus asa,, bertawakallah,ini cobaan bagi negri kita,, selagi kamu mau berusaha pasti ada jalan keluar,, jika hanya menunggu uluran tangan pemerintah,, nanti akan kecewa,, buktinya ????
April 5th, 2009 at 4:22 am
Achir tahun 70-an saya pernah beberapa kali ke gua Langse dan juga pernah di tĂnggal degan penduduk desa wuluh - kalau tidak salah.
Sekarang …..
Saya berminat mengambil inisiatif
untuk sedikit banyak mecoba mencari jalan untuk mengatasi kekeringan - dengan fokus utama - desa wuluh. Seingat saya desa itu tidak jauh dari pantai Parangtritis. Dan di Parangtritis -dulu - ada 2 kolam renang, dengan kata lain ada sumber air. Pertanyaan utama tentunya: bagaimana air itu bisa mencapai desa tersebut. Ku yakin dengan kemauan bersama ini bisa dicarikan solusinya… pertanyaan yg lebih susah dijawab - mungkin - bagaimana air yg banyak di gua2 di Gunung Kidul (air sungai bawah tanah) bisa dinaikan keatas tanpa banyak makan biaya dengan mengunakan peralatan yang ‘lokal’ tapi teruji. Pabila mas/mba ada masuk2an tolonglah kirimkan.
salam
Djuhaeri