•  22 August 2008 ProFauna Kampanyekan Burung Nuri dan Kakatua di Maluku Utara   ::  
  •  19 August 2008 Sekilas Tentang Children Voices on The Indonesian Environment   ::  
  •  8 August 2008 Buletin Anak KEJORA   ::  
  •  6 August 2008 CHILDREN VOICES ON THE INDONESIAN ENVIRONMENT   ::  
  •  1 August 2008 Lowongan Staf Pengembangan Informasi dan Dokumentasi - HuMa   ::  
  • Pemanasan Global Dapat Diperlambat    Print This Post   Email This Post

    April 30th, 2007 | Oleh Redaksi
    Pemanasan Global Dapat Diperlambat

    Setelah PBB mengeluarkan laporan mengenai kian memburuknya pemanasan global sehingga para ahli dan wakil pemerintahan, Senin lalu, mulai membahasnya. Bersama aktivis lingkungan dan dengan komitmen untuk mengakhiri perdebatan di antara mereka, para ahli bertemu di Bangkok untuk menilai laporan PBB tersebut. Tujuan pertemuan tersebut adalah sebuah draft solusi sudah dapat digulirkan pada akhir pembahasan pada Jum’at (27 April 2007). Pertemuan tersebut diikuti lebih dari seratus negara yang menilai bahwa perbaikan lingkungan berbiaya murah sudah habis masanya karena meningkatnya emisi gas rumah kaca.

    Ini merupakan survei ketiga dalam tahun yang sama oleh tim panel cuaca PBB, setelah penelitian pertama pada bulan Februari mengungkapkan bahwa 90 persen responden yang ditemui mengatakan bahwa manusia merupakan pihak yang disalahkan atas pemanasan global, dan penelitian kedua pada 6 April lalu yang menunjukkan adanya wabah kelaparan, kekeringan, dan naiknya ketinggian air laut. “Kita sedang melangkah untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perubahan iklim global. Kita pasti dapat melakukannya.” Achim Steiner, kepala program liongkungan PBB mengatakan kepada Reuter dalam laporannya kepada Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). “Kami telah memahami masalah yang kini kian mebesar dan IPCC telah membuka pandangannya bagi berbagai solusi yang ada dan dapat dilakukan bersama,” ungkapnya kepada Reuters.

    Laporan tersebut memperkirakan bahwa menstabilkan emisi gas rumah kaca saja membutuhkan 0.2 hingga 3.0 persen dari GDP masyarakat dunia pada tahun 2030, tergantung tingkat kesulitan pertumbuhan emisi gas rumah kaca. Pertumbuhan GDP dunia, berdasarkan beberapa perkiraan, akan sangat rendah akibat meningkatnya penyakit akibat penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan pemanasan global. Adapun draft yang disusun bersama mengungkapkan bahwa “Ada potensi ekonomi yang signifikan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh bidang dalam satu dekade ke depan termasuk menekannya hingga tingkatan di bawah ambang batas.

    Kesimpulan itu diungkapkan oleh mantan kepala Bank Dunia yang juga pakar ekonomi Nicholas Stern, yang memperkirakan biaya yang diperlukan untuk mengurangi pemanasan global mencapai satu persen dari pengeluaran seluruh negara di dunia. Jumlahnya meningkat antara 5 hingga 20 persen bila tindakan pencegahannya ditunda. ada seribu lebih amandemen persetujuan yang disusun dalam dokumen 24 halaman bagi para pengambil kebijakan, sekalipun beberapa negara menilai rancangan ini terlalu berat bagi mereka dan terlalu banyak memuat jargon ilmiah semata.

    KESIMPULAN
    Laporan tersebut menjabarkan solusi seperti menghentikan penggunaan pembangkit listrik batu bara dan menggantikannya dengan pembangkit tenaga surya dan angin, mempergunakaan energi nuklir, memanfaatkan cahaya alami dalam pencahayaan gedung. Akan tetapi, peningkatan suhu tetap terjadi hingga 2-2,4 derajat celcius (3,6–4,2 derajat farenheit) di atas rata-rata. Uni Eropa memperkirakan peningkatan suhu udara hingga 2 derajat celcius yang akan membahayakan iklim secara global. pertanyaan terbesar adalah apakah pemerintah akan bersikap. “Saya optimis namun tidak yakin akan langsung memberikan dampak menyeluruh,” ungkap Steiner. “Masih banyak pihak yang tidak memahami permasalahan ini dan hanya berharap bahwa ini akan berakhir begitu saja.”

    “Teknologi dan berbagai tindakan yang diperlukan untuk melawan perubahan iklim sudah ada sejak lama–hal utama yang saat ini diperlukan adalah keberanian dan visi dari para pengambil kebijakan,” ungkap Stephen Singer dari WWF. Wakil ketua IPCC mengungkapkan bahwa akan ada lebih banyak badai seperti Katrina yang menghantam New Orleans tahun 2005 akan mendorong politisi untuk berbuat lebih banyak.

    “Dorongan untuk melakukan mitigasi akan terus muncul seiring banyaknya bencana ekstrem di dunia,” ungkap Mohan Munasinge kepada Reuter di Colombo. Pejabat senior pemerintahan menilai bahwa para wakil pemerintah akan menghadapi pertemuan yang rumit akhir minggu ini. “IPCC tidak dapat memaksakan adanya kebijakan negara, oleh karenanya IPCC tidak pernah memberikan rekomendasi kebijakan dan pemerintah yang ada mencoba meyakinkan bahwa tidak ada desakan kebijakan di dalamnya,” ungkap seorang pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya. Hasil akhir secara tekstual kerap menimbulkan kontroversi. Friends of Earth berharap agar hasil pertemuan tersebut dapat mendorong pemerintah untuk bertindak. “Jangan membuang waktu, dan tidak ada alasan untuk tidak berbuat sesuatu,”ungkap Catherine Pearce, juru bicara Friends of Earth.

    Sumber: Reuters/David Fogarty
    Foto: reuters.com

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 317 members
      • 158 guests
      • Last Update On
        22 August, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    •  
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It