Tidak ada keraguan lagi jika kita menggunakan gas sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, dunia akan menjadi lebih bersih dan hijau. Hal ini tidak seperti ketika ide tentang pemanfaatan gas alam sebagai Bahan Bakar Gas (BBG) untuk pertama kalinya disuarakan.
Saat ini, BBG adalah sebuah kenyataan dan telah digunakan selama beberapa tahun terakhir. BBG yang juga sering disebut Compressed Natural Gas (CNG) dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. CNG ini kemudian disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekan, biasanya berbentuk silinder.
Dibandingkan dengan bensin atau solar, biaya produksi BBG tidak lebih dari separuhnya. Emisi BBG juga lebih rendah dibanding BBM. Dari segi dampak lingkungan dan emisi, BBG lebih bersahabat dibanding BBM. Emisi karbon monoksida dan dioksida dari BBG berturut-turut adalah setengah dan lebih kecil 15 persen dari pemakaian BBM. BBG juga mengeluarkan lebih sedikit benzan, mengeluarkan 30 ribu kali lebih sedikit partikel dan nitrogen oksida (NoX) daripada BBM. Calor Automotive mengklaim bahwa perusahaan dapat menghemat running cost sampai 40 persen dengan menggunakan BBG sebagai bahan bakar. Dan sebetulnya semua kendaraan bermotor bisa diubah menjadi kendaraan berbahan bakar gas.
Lantas, akankah BBG pada akhirnya mampu menghapus pemakain bensin dan solar? Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan ini. Yang jelas, sampai saat ini penggunaan BBG untuk kendaraan bermotor di Indonesia masih sangat rendah.
Pengisian BBG dapat dilakukan dari sistem bertekanan rendah maupun bertekanan tinggi. Perbedaannya terletak dari biaya pembangunan stasiun dan lamanya pengisian bahan bakar. Idealnya, tekanan pada jaringan pipa gas adalah 11 bar, dan agar pengisian BBG bisa berlangsung dengan cepat, diperlukan tekanan sebesar 200 bar, atau 197 atm, 197 kali tekanan udara biasa. Dengan tekanan sebesar 200 bar, pengisian BBG setara 130 liter premium dapat dilakukan dalam waktu 3-4 menit.
Tentunya penanganan BBG dengan tekanan 200 bar ini perlu dilakukan secara hati-hati. Antara lain dengan menggunakan tangki gas yang memenuhi persyaratan dan dipasang di bengkel yang direkomendasi. Tangki BBG dibuat dengan bahan-bahan khusus yang mampu membawa BBG dengan aman. Desain terbaru tangki BBG menggunakan lapisan alumunium dengan diperkuat fiberglass. Karena BBG lebih ringan dari udara, kebocoran tidak menjadi terlalu beresiko bila sirkulasi udara terjaga dengan baik.
Jadi alternatif
BBG saat ini menjadi salah satu bahan bakar alternatif pengganti BBM dan mulai banyak digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia. Hampir semua taksi di Tokyo berbahan bakar gas. Di Italia, lebih dari satu juta kendaraan berbahan bakar gas, hampir setengah juta kendaraan di Australia dan 360 ribu di Belanda memakai gas sebagai bahan bakar. Argentina dan Brasil adalah dua negara dengan jumlah kendaraan pengguna BBG terbesar.
Konversi ke BBG difasilitasi dengan pemberian harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan bahan bakar cair (bensin dan solar). Sejalan dengan semakin meningkatnya harga minyak dan kesadaran lingkungan, BBG saat ini mulai digunakan juga untuk kendaraan penumpang dan truk barang berdaya ringan hingga menengah.
Di Indonesia sendiri, BBG bukanlah barang baru. Pencanangan penggunaan BBG yang harganya lebih murah dan lebih bersih lingkungan daripada bahan bakar minyak (BBM) sudah dilakukan sejak tahun 1986. Saat itu ditetapkan bahwa 20 persen dari armada taksi harus memakai BBG.
Saat ini di Jakarta hanya terdapat 14 Stasiun Pengisi Bahan Bakar Gas (SPBG), tetapi yang berfungsi tak lebih dari enam SPBG. Untuk mendorong penggunaan BBG, Gubernur Sutiyoso mengharuskan bus TransJakarta untuk menggunakan BBG. Akan sangat baik jika 10 sampai 15 tahun ke depan, pemerintah Indonesia mulai menerapkan pajak bagi kendaraan yang tidak bersahabat dengan lingkungan sehingga diharapkan bisa mendorong peningkatan pemakaian BBG di Indonesia.
Meningkatnya harga BBM beberapa tahun terakhir dan sempat mencapai level 80 dolar AS per barel karena krisis cadangan minyak dunia yang makin menipis, seharusnya membuat kita sadar akan pentingnya pemakaian BBG. Menurut data World Oil Fact, cadangan minyak dunia saat ini hanya 1,29 triliun barel. Sementara konsumsi BBM dunia rata-rata mencapai 28,460 miliar barel per tahun. Dalam kurun waktu tidak lebih dari 50 tahun ke depan, cadangan minyak yang ada tidak akan mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia lagi.
Akhir-akhir ini, perusahaan pembuat kendaraan bermotor telah mulai memproduksi kendaraan berbahan bakar gas. Vauxhall, BMW, Mercy, Volvo, Toyota, Honda, dan Ford serta car maker lainnya telah memproduksi kendaraan jenis dual-fuel (berbahan bakar ganda). Menurut Richard Child, editor LPG World (sebuah industri newsletter terkemuka dunia) kendaraan dual-fuel mempunyai performa yang tidak kalah dengan kendaraan berbahan bakar minyak.
Tetapi, banyak analis mengatakan bahwa BBG tidak lebih hanya akan menjadi menu sampingan bagi para pemakai kendaraan bermotor dan industri mobil dunia. BBG untuk pertama kalinya diperkenalkan di Australia pada sekitar tahuan 70-an sebagai bahan bakar alternatif ketika krisis minyak mulai melanda. Tetapi, setelah hampir 30 tahun berlalu, jumlah kendaraan berbahan bakar gas masih tidak lebih dari 10 persen di pasar otomoti dunia.
Professor Garel Rhys, yakin bahwa BBG hanya sebuah solusi sementara sebelum teknologi fuel-cell yang bekerja dengan kombinasi hidrogen dan oksigen akan menggantikannya. Hal ini mengingat cadangan gas alam yang kini tersedia juga tidak akan berumur lama seperti halnya minyak. BBG memang hanya akan menjadi solusi antara, bukan solusi jangka panjang.
Dimuat di Republika, 29 April 2007
Leave a Reply
|
Related Posts |









