•  28 November 2008 Banjir Masih Mengancam Sumatera   ::  
  •  27 November 2008 Lowongan di Yayasan Jambata   ::  
  •  20 November 2008 Tiang Gantungan di Kebun Sawit   ::  
  •  17 November 2008 Workshop, Lomba dan Pameran Foto Keadilan Untuk Iklim   ::  
  •  17 November 2008 Kelapa Sawit Ancam Keanekaragaman Hayati Indonesia   ::  
  • Kami Bukan Pahlawan Konservasi    Print This Post   Email This Post

    April 24th, 2007 | Oleh stringeresha

    Oleh: Diah Rahayuningsih S, sepenggal kisah dari Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

    Di atas roda-roda kami hidup
    Melewati sungai, gunung,
    sawah Ā nan indah,
    dan hamparan belantara luas

    Menikmati hidup di antara ragamnya masyarakat Sumatera Utara
    Hujan-badai tak berarti bagi kami
    Seribu haling-rintang pun terlewati
    O! Nikmatnya hidup ini…

    (Panyabungan, Ramadhan 1425)

    Malam itu hujan sangat lebat. Di kiri-kanan jalan, air mengalir kemana-mana. selokan tak lagi mampu menampung limpahan hujan tersebut. Jalan aspal terasa seperti sungai baru. Tiba-tiba, angkutan umum di hadapan kami berhenti mendadak. Mobil yang kami tumpangi pun ikut berhenti. Tak lama, para penumpang angkutan umum itu melambaikan tangan.

    Dengan memberikan aba-aba, mereka memberitahu kami untuk mundur. Kami hanya saling berpandangan, bingung. Ada apa? Salah seorang penumpang menghampiri kami. ā€œTak bisa lewat, ada tanah longsorā€ begitu katanya dengan logat Mandailing yang kental.

    Beberapa saat kemudian angkutan umum tersebut mundur perlahan. Rupanya mereka sudah menyerah, mobil dianggap tak bisa meneruskan perjalanan ke desa Sibanggor Tonga, kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal. Melihat gelagat ini, kami tak mau menyerah begitu saja. Pasalnya, mobil kami ber-gardan ganda. Walhasil, segumpal optimisime menyelimuti kami: gundukan tanah yang menghadang bisa dilewati.

    Kami segera mengecek kondisi jalan. Benar, di depan memang terlihat sebatang kayu besar menghadang. Tak peduli hujan membasahi tubuh, kami berusaha mengangkat kayu tersebut. Ternyata, tenaga kami bertiga tak cukup kuat.

    Berembuk sebentar, keputusan segera di dapat. Kami harus menggalang kekuatan untuk menyingkirkan rintangan tersebut. Kami mengambil inisiatif, para penumpang angkutan lain yang ada di belakang segera dipanggil. Mereka dikumpulkan untuk bersama-sama mengangkat kayu. Satu-dua-tiga… Hup. Rintangan berhasil disingkirkan.

    Belum lagi bernapas lega, ternyata masih ada rintangan lain: gundukan tanah yang cukup tinggi dan tak bisa dilewati. Tengok kiri-kanan, ah kebetulan tak jauh dari lokasi tersebut ada alat cangkul. Segera saja gundukan tanah kami cangkuli. Pelan tapi pasti rintangan tanah itu berhasil dibongkar. Dengan memasang gardan dua, kami berhasil melewatinya. Di belakang, angkutan umum dengan mudahnya melewati gundukan tanah yang sudah diratakan dengan ban mobil kami.

    Begitulah sepenggal cerita pekerjaan kami sehari-hari sebagaiĀ  tim penyadaran konservasi alam keliling. Itu hanya hambatan kecil. Suatu kali pernah kami dihadang beberapa warga lokal dengan golok yang terhunus. Salah sedikit saja, bisa-bisa nyawa kami melayang. Belum lagi, masalah di pengungsi yang sangat sensitif dengan pendatang baru. Bila salah bicara atau terlihat borjuis, kami pun tak bakal dipercaya seterusnya. Akibatnya, kami akan sulit memasuki wilayah tersebut.

    Tiap anggota tim penyadaran konservasi alam kelilin ā€œngamenā€ dari kampung ke kampung, desa ke desa dilakoni tanpa kenal lelah. Terkadang, kami harus putar film sampai pagi menuruti kemauan masyarakat yang haus hiburan. Atau nongkrong di warung kopi. Empat gelas kopi dari empat warung yang berbeda sudah terbiasa bagi kami. Sebab dari sinilah kami sering berbagi tentang masalah-masalah konservasi yang terjadi desa. Tak jarang sepulang dari desa, mobil kami penuh dengan hasil bumi masyarakat yang mereka berikan sebagai bentuk penghargaan atas kunjungan ini.

    Bekerja Tak Kenal Lelah
    Walaupun pekerjaan kami berat dan sering kehilangan waktu libur bersama keluarga, tetapi kami tidak pernah mengeluh atau menghitung kelebihan waktu kerja. Jika dihitung kelebihan waktu kerja, mungkin bisa setengah tahun kami mendapat pengganti libur.

    Kami berkerja 24 jam, terkadang itu pun kami habiskan di jalan Ā dan medan yang berat. Hal tersebut tak lantas membuat hati kami kecil, ā€œJustru itulah seni dari pekerjaan,ā€ gumam Abdul Hamid, salah seorang anggota tim dalam sebuah perjalanan. Asyiknya, jika beruntung, kami berhasil menemui desa yang semua penduduknya baik dan mau menerima pendatang. Bila tidak, dapat Anda bayangkan sendiri resikonya.

    Ketimbang pekerjaan ā€œkantoranā€ yang membosankan, pekerjaan kami lebih unik. Diperlukan hati nurani, keberanian, kepekaan dan intelegensi yang tinggi untuk berkunjung ke masyarakat agar mau bersama-sama menjaga keutuhan tutupan hutan di sekitarnya. Salah ucap sedikit saja, dijamin kami tak bakal bisa berkunjung lagi. Atau kami meninggalkan janji sedikit saja, ke liang kuburpun akan dikejar.

    Pekerjaan kami yang berat ini nyatanya kurang didukung oleh manajemen operasional yang baik. Di dalam kendaraan yang berfungsi sebagai transportasi ke sana kemari itu tak tersedia peralatan yang dapat menunjang keselamatan kami, seperti tali baja, winch (penarik tali baja), cangkul dan lain-lain. Meskipun demikian, dengan hati tulus plus keriangan kami tetap menjalankan pekerjaan itu. Harapan kami: suatu saat nanti keadaan akan berubah.

    Setelah peristiwa tanah longsor di atas, dari percakapan seorang kawan terlontar kalimat pahlawan konservasi. Dalam benak saya pahlawan konservasi berarti berjuang melewati halang rintang untuk menegakkan konservasi tanpa pamrih. Apa iya kami ini pahlawan konservasi? Saya pikir kami bukan pahlawan konservasi kami hanya ujung tombak konservasi. Pahlawan konservasi adalah semua orang yang bergerak di bidang konservasi yang mempunyai tekad baja dan pantang menyerah demi terwujudnya keutuhan tutupan hutan di Indonesia. Rasa ini seharusnya ada di dalam diri orang masing-masing yang bergerak di bidang konservasi. Walaupun dirinya tak memahamiĀ  arti dari konservasi!

    Leave a Reply

     

    One Response to “Kami Bukan Pahlawan Konservasi”

    1. Anto Says:

      Gimana agar saya bisa bergabung dengan team konservasi hutan lindung,mohon bantuannya.

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 365 members
      • 211 guests
      • Last Update On
        9 December, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It