•  28 November 2008 Banjir Masih Mengancam Sumatera   ::  
  •  27 November 2008 Lowongan di Yayasan Jambata   ::  
  •  20 November 2008 Tiang Gantungan di Kebun Sawit   ::  
  •  17 November 2008 Workshop, Lomba dan Pameran Foto Keadilan Untuk Iklim   ::  
  •  17 November 2008 Kelapa Sawit Ancam Keanekaragaman Hayati Indonesia   ::  
  • “Puncak Trek Guidebook” : Mencari Keseimbangan antara Wisata dan Pelestarian    Print This Post   Email This Post

    April 18th, 2007 | Oleh alarikka

    Oleh Job Palar

    JAKARTA - Jalur Jalan Raya Puncak, Jawa Barat, akan selalu macet di akhir pekan. Kemacetan sudah terjadi dari tol menuju Puncak, Pasar Ciawi, dan sering kali baru berakhir di daerah Cipanas.

    Wilayah ini sangat jelas memiliki beban besar dalam melayani manusia-manusia yang sebetulnya sedang berekreasi, melarikan diri dari kepenatan kehidupan kota, rutinitas perkantoran, dan aktivitas penuh debu di kota. Namun, ternyata di wilayah Puncak, seringkali orang-orang kota malah menemukan kepenatan dalam bentuk yang berbeda, kemacetan, ketidaknyamanan, dan sebagainya, hanya untuk menuju vila atau penginapan. Setelah sampai di penginapan, tubuh hanya merasakan kelelahan, dan mungkin kesempatan untuk menikmati alam pegunungan menjadi berkurang.

    Semua keriuhan itu sebenarnya berada di kaki Gunung Gede Pangrango, gunung kembar yang masih aktif dan berada di Jawa Barat. Kawasan Gunung Gede Pangrango pada akhirnya memang sangat terancam oleh aktivitas manusia, baik pencemaran, kerusakan alam, buangan sampah, perambahan lahan dan sebagainya.

    Dengan wilayah jelajah favorit yang hanya sekitar Jalan Raya Puncak, pada wilayah itu pula tekanan terbesar terhadap kerusakan dan kehancuran ekosistem terjadi.

    Lembaga Swadaya Masyarakat Wahana Informasi Pariwisata Alam (WIPA) menawarkan sebuah solusi dengan menyadarkan pada masyarakat bahwa bukan hanya sepanjang jalur Puncak saja yang seharusnya menjadi primadona. Jika kita mau merasakan rekreasi yang sesungguhnya, bisa jadi usaha yang dilakukan oleh WIPA ini menjadi sangat berharga.

    Selain rekreasi, niatan WIPA adalah untuk menyeimbangkan antara wisata, perkenalan dengan budaya lokal, penggalian potensi ekosistem alam, dan pelestarian. WIPA membuat sebuah buku panduan yang berisi jalur-jalur untuk dijelajahi dengan jalan kaki, yang bahasa akrabnya disebut treking. Ini diambil dari bahasa Inggris tracking dan para penjelajahnya disebut tracker, lalu di lidah kita menjadi treker.

    Para penjelajah atau treker dari WIPA membuat jalur-jalur penjelajahan yang disebut ring route di Gunung Gede Pangrango. Ring route ini dibuat dengan menjelajahi kaki gunung selama 120 hari.

    Usaha ini pun kemudian disajikan dalam bentuk buku panduan dengan judul Puncak Trek Guidebook. Rute-rute penjelajahan dibagi dalam delapan sektor. Sektor A-H, dengan keseluruhan panjang jalan 140 km. Namun, WIPA baru memperkenalkan ke masyarakat 4 sektor saja, B, C, D, E.

    Tidak ada alasan yang diterakan di pengantar buku kenapa langsung melompat ke sektor B, bukannya dimulai dari Sektor A. Kemungkinan terbesar karena sektor-sektor yang dibuat ini memang mengalami tekanan luar biasa dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan manusia. Jika pembaca mencari di toko buku, Anda akan mendapatkan keempat sektor penjelajahan sekaligus dalam satu paket.

    Penamaan Puncak Trek Guidebook pun terasa janggal. Kata “trek” dalam lafal bahasa Indonesia, sementara ada kata “guidebook” dalam bahasa Inggris. Memang buku panduan penjelajahan ini disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, tapi penjudulannya juga tidak perlu jadi “gado-gado” seperti itu.

    Terlepas dari itu semua, penyajian rute penjelajahan yang dibuat WIPA sangat terperinci, dan sangat mudah untuk dirunut, asalkan kita benar-benar membaca petunjuk pemakaian peta dan buku panduannya. Setiap sektor penjelajahan terdiri dari satu buku panduan dan satu peta yang keduanya tak bisa terpisahkan, karena saling menjelaskan. Setiap buku panduan juga memberikan spesies-spesies tanaman dan hewan apa saja yang bisa ditemui di jalur ini.

    “Ciawi, Sektor B” ini adalah seri pertama yang dimunculkan. Wilayah ini memang paling akrab dengan manusia jakarta, dan sekaligus memiliki tekanan untuk rusak paling besar juga. Sektor B terbagi dalam rute jelajah B1-B4.

    Paling aman dan nyaman jika penjelajah menyertakan diri dengan kompas, altimeter, dan GPS. Kalau tidak ada itu semua atau salah satunya, penjelajah harus benar-benar memperhatikan rute pada peta dan buku panduan.

    Ada tingkat-tingkat kemahiran dalam menjalani rute. Pemula, berpegalaman, sampai mahir. Penulis masuk kategori pemula dan mungkin sebenarnya penulis masuk dalam kategori “pemula banget”, dan untuk saat ini cuma berani menjalani rute B1, khusus pemula, dan rute satu harian saja.

    Semua buku menyertakan etiket dalam melakukan treking dan kemah, ada kosa kata bahasa Sunda yang mungkin berguna dipelajari untuk di perjalanan. Beberapa bab di awal dan bab tambahan di akhir buku sama di semua seri. Di Sektor B ini, kita diajak menyusuri hutan di Ciawi.

    “Cisarua, Sektor C” sebenarnya juga mengalami tekanan besar terhadap gerakan perambahan manusia, namun kebanyakan wilayah trek di sini memang sudah disulap untuk kepentingan manusia, seperti kebun teh dan sayuran. Semacam sudah menemukan titik keseimbangannya dengan kepentingan orang-orang di sekitarnya dan pendatang.

    “Cipanas, Sektor D”  adalah sektor istimewa, karena menurut jalur treker ini, dari penyusuran sektor inilah kita bisa melihat kawah Gunung Gede dan juga Pangrango sekaligus. Sektor ini juga melewati banyak curug atau air terjun. Wisata budaya juga bisa, karena banyak wihara menurut jalur treker ini. Sektor ini jelas lebih sejuk dari dua sektor sebelumnya.

    Jika tiga sektor sebelumnya akrab di telinga kita, “Cugenang, Sektor E” mungkin yang paling tidak akrab, tapi memang paling jauh dari Jakarta, lebih ke dalam hutan, lebih hening, dan memberikan pengalaman lebih alami. Masih banyak binatang yang sudah tidak ada di sektor lain, seperti ular sanca, musang, atau babi hutan, dan owa.

    Para pehobi dan pengamat burung akan sangat dimanja oleh seri Puncak Trek ini. Begitu juga, para pehobi fotografi, terutama foto lansekap, akan menemukan banyak titik untuk dibidik. Pencinta tanaman akan menemukan banyak jenis tanaman indah yang menjadi ciri khas daerah ini.

    Usaha WIPA untuk menggali potensi wisata alam ini rasanya pantas diacungi jempol. Setidaknya, dengan memperkenalkan jalur-jalur jelajah Gunung Gede Pangrango, masyarakat, terutama masyarakat perkotaan, memahami dan menyayangi wilayah ini, bukan mengeksploitasinya untuk kepentingan sesaat dan memperkaya diri sendiri, atau meninggalkannya dalam kondisi rusak dan tercemar.

    Di muat di Harian Sinar Harapan, 14 April 2007

    Leave a Reply

     

    One Response to ““Puncak Trek Guidebook” : Mencari Keseimbangan antara Wisata dan Pelestarian”

    1. jackie Says:

      Peta bisa dibeli di Aksara dan Kinokuniya atau langsung menghubungi kami di 0251 387515 atau 0816 637 988

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 365 members
      • 211 guests
      • Last Update On
        9 December, 2008
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It