•  27 July 2010 Kampung Ukir Yang Nyaris Tersingkir   ::  
  •  23 June 2010 A Rebuttal for Komodo   ::  
  •  1 March 2010 Hutan Jawa Terancam: ProFauna Serukan Gerakan Penyelamatan Hutan   ::  
  •  14 February 2010 ProFauna Menyerukan Langkah Praktis dan Politis Untuk Menyelamatkan Hutan di Jawa   ::  
  •  4 February 2010 Pembunuh Harimau di Kebun Binatang Jambi di Vonis 3 Tahun 10 bulan Penjara   ::  
  • “Mencekik” Gunung Betina di Karimun - Akibat Penambangan (2-Habis)    Print This Post   Email This Post

    April 17th, 2007 | Oleh alarikka

    KEPULAUAN RIAU– “Danau” di kaki Gunung Betina itu tampak membiru. Warna biru cerah seolah pantulan langit yang terang tanpa awan. Warna birunya juga seakan “tertular” air laut Selat Philip, yang mengapit Pulau Karimun di Kepulauan Riau tersebut.
    Namun sayang, “danau” itu tidak seharusnya dikagumi. Cekungan dengan kedalaman 88 meter dan ketinggian air mencapai 30 meter tersebut adalah kerusakan alam yang terjadi karena penambangan granit.
    Latar belakang “danau” tersebut adalah kaki dan badan Gunung Betina yang terpotong-potong membentuk terasering, akibat eksplorasi granit. Hanya di ujung bukit menyisakan tumbuhan yang menghijau.
    Tidak mudah untuk mencapai lokasi ini. Penjagaan ketat diberlakukan. Wilayah ini juga menjadi daerah dengan akses terbatas bagi mereka yang tidak berkepentingan. PT Karimun Granite sudah melakukan penambangan granit di wilayah ini sejak tahun 1972.

    Kepemilikan berganti-ganti, hingga terakhir dimiliki oleh Hong Liong Company dari Singapura.
    Izin penambangan masih dikantongi hingga 2013. Masih bisa diperpanjang hingga sepuluh tahun setelah izin habis. “Rencananya usai eksplorasi wilayah ini akan dijadikan lokasi wisata air,” kata GM Karimun Granite Arif Rahman.
    Empasan debu segera menjadi bedak di muka begitu masuk ke lokasi penambangan ini. Berbagai peralatan berat aktif bekerja menghaluskan pecahan batu granit besar menjadi butir-butir kecil yang disebut dengan split dan dust. Keduanya serupa dengan pasir, hanya berbeda ukuran.
    Luas wilayah yang dibuka mencapai 165 hektare dengan kapasitas produksi 150.000-200.000 ton per bulan. Angka ini naik lima hingga sepuluh persen sejak pelarangan ekspor pasir darat diberlakukan 6 Februari lalu. Dalam jumlah produksi normal, tak kurang lima juta ton galian yang diambil per tahunnya.
    Hampir seluruh eksplorasi granit dari wilayah ini untuk keperluan ekspor seperti ke Singapura, Bangladesh, Brunei, dan Malaysia. Tetapi Singapura merupakan negara tujuan ekspor terbesar.

    Upaya menjadikan daerah bekas galian menjadi objek wisata dilakukan dengan mencontoh Malaysia. Meskipun menguntungkan pemerintah daerah melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD), kerusakan lingkungan yang permanen ini patut menjadi catatan tersendiri.

    Modus Baru
    Meskipun perusahaan tersebut khusus mengekspor granit, tetapi banyak pemasok nakal yang mengelabui petugas dengan mencampur pasir darat dengan dust atau yang dikenal juga dengan sampah granit. Penduduk lokal menyebut juga abu batu. Kadang pula, timbunan granit di tongkang bagian bawahnya diisi dengan pasir darat.
    “Banyak modus yang digunakan oleh pemasok, ini yang perlu kita cermati,” tutur Komandan Pangkalan Utama AL IV Tanjung Pinang Laksamana Pertama Among Margono yang mendampingi wartawan melakukan pemantauan udara terhadap pulau-pulau yang rusak akibat penambangan di Kepulauan Riau.
    Selain Gunung Betina, wilayah lain yang memungkinkan ditambang, yaitu Gunung Jantan dan Karimun Anak, yang terletak di pulau yang lain. “Untuk Gunung Betina saja tidak akan habis dieksplorasi. Ini saja baru kakinya,” ucap Arif. Menurutnya, baru sekitar 100 meter dari kaki bukit setinggi 417 meter tersebut yang dieksplorasi.
    “Mana berani kami eksplorasi seluruh gunung ini. Gunung ini merupakan simbol masyarakat di Karimun. Ada kepercayaan masyarakat yang kita hormati. Jadi tidak seluruhnya dieksplorasi, kita sisakan di puncaknya,” lanjutnya.
    Dari pengamatan, bukan kaki Gunung Betina lagi yang dieksplorasi, tetapi mungkin sudah mencapai “pinggang” gunung.
    Selain Karimun, sudah cukup banyak pulau kecil yang rusak berat karena penambangan berbagai bahan galian seperti pasir laut, pasir darat, bauksit dan granit misalnya saja Pulau Kundur atau Pulau Moro di Kabupaten Karimun. Eksplorasi pasir darat dan tempat penumpukan masih terlihat di daerah Mata Air dan Teluk Radang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun.
    Melalui pantauan udara dengan Nomad TNI AL, wilayah Dompa sudah berlubang-lubang membentuk danau. Demikian juga di Sungai Raja, kolam-kolam bekas galian menganga lebar. Molek di Pulau Bintan juga menyisakan pemandangan yang sama.

    Di Pulau Penyengat, beberapa tongkang hasil tangkapan, disandarkan. Sementara penambangan bauksit di Pulau Telang sudah menghabiskan lapisan tanahnya. Pulau Moro dipenuhi dengan danau-danau bekas galian.
    Terparah memang di Pulau Sebaik. Dengan luas 80 hektare, hampir 90 persen pasir daratnya sudah diambil. Pulau tersebut tinggal menunggu tenggelam saja jika tertimpa air pasang.
    “Rupiah yang diperoleh pemerintah daerah sebetulnya tidak sebanding dengan kerusakan yang terjadi. Untuk mengembalikan kondisi pulau-pulau yang rusak, dananya jauh lebih besar, padahal dengan eksplorasi seperti ini kerusakan yang ditinggalkan adalah kerusakan permanen,” kata Panglima Komando Armada Barat Laksamana Muda TNI Muryono. Jalan-jalan tikus menuju laut lepas memang sudah ditutup oleh Armabar, meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan, tongkang-tongkang tersebut masih bisa berkelindan.
    Muryono mengingatkan, tata niaga harus diatur kembali. Jangan sampai selalu merugikan Indonesia. Bila pemerintah tak bergegas melarang penambangan granit, bukan tak mungkin, eksplorasi granit tersebut akan “mencekik” Gunung Betina yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
    Eksplorasi yang dimulai dari kaki gunung tersebut kini sudah merambat ke “pinggang”, tinggal sejenak lagi mencapai “leher” Gunung Betina. (Emmy Kuswandari)

    Leave a Reply

     

    Related Posts

    •  
    • STATS
      • 562 members
      • 337 guests
      • Last Update On
        28 August, 2010
    •  
    •  
      Beritahabitat.NET Be An Environment Reporter
      Beritahabitat.NET Community Reader

      SAHABAT
      Lingkar Association
      GolonganDarah.Net
      Mapala.NET
      Yayasan Hijau

      Site Meter
      Environment Blogs - Blog Catalog Blog Directory
      Firefox 2
      ...
    •  
    • Credits
      • RSS Feed 2.0 RSS
      • RSS Feed 2.0 Atom
      • RSS Feed 2.0 Comments RSS
    • advertisement
    •  
    •  
     
    Close
    E-mail It